Menu Wajib Guru : Membaca, Menulis, dan Melek Internet

Rabun membaca, lumpuh menulis (Taufik Ismail)

Buku adalah jendela dunia, dan  membaca adalah kuncinya. Barang siapa berhasil membuka jendela tersebut, maka terbentanglah dunia di hadapannya. Saya meyakini benar pemeo ini. Banyak pengetahuan dan informasi yang sudah ditulis dalam buku oleh para penjelajah dunia, penemu, politisi, wartawan berita, dan berbagai  profesi dalam jangka waktu puluhan hingga ratusan tahun yang lalu yang masih bisa kita temukan dalam beragam buku. Dalam hal ini, selain memberikan wawasan baru, buku bisa menyingkat waktu perjalanan bertahun-tahun yang dijalani penulis untuk pembaca dapat  turut mengetahui kisahnya.

Biografi akhirnya menjadi buku favorit saya. Entah mengapa, buku-buku ini memberikan kekuatan tersendiri pada pola pikir saya, pada kekuatan deretan kata-kata yang memotivasi, pada perasaan sedih dan gembira yang menyenangkan, dan pada penghargaan untuk setiap perjuangan. Dari sinilah saya yakin membaca buku dapat memunculkan banyak karakter positif pada pembacanya (namun tentu saja bacaanpun  harus baik). Dugaan saya ketika banyak didapati guru yang tidak mau terlibat dalam kemajuan dan perubahan dunia pendidikan adalah karena kurangnya dia membaca.

Jika kita temui rendahnya minat siswa dalam membaca buku, maka salah satu penyebabnya adalah rendahnya minat guru dalam membaca.  Guru yang tidak membaca tidak akan mempromosikan gerakan membaca bagi anak-anak didiknya. Membaca adalah sebuah proses. Proses mengetahui sesuatu dan proses merasai bahwa diri kita memang perlu sesuatu. Ketika membaca sebuah buku baru, maka secara otomatis tingkat pengetahuan dan informasi kita akan bertambah. Pengetahuan inilah yang akan memberikan kualitas pada setiap ucapan dan pola pikir seseorang. Membaca memang tidak harus selalu dari buku. Kita telah  menyaksikan beberapa Toko Buku yang mulai mati karena ditinggalkan pembeli, namun hal ini bukan halangan karena teknologi telah menyuguhkan bahan bacaan elektronik  yang bisa kita akses di manapun berada. Artinya, tidak ada alasan lain bagi para guru untuk tidak membaca!

 Guru yang terbiasa membaca akan setidaknya akan

  • Memiliki waktu yang lebih sedikit untuk berbincang dan melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat, misalnya debat kusir tentang siapa yang salah dalam kasus Syaiful Jamil yang istrinya tewas di KM97
  • Memiliki waktu lebih banyak untuk membedah pengetahuan, wawasan dan  pandangan orang lewat tulisannya masing-masing.
  • Memiliki cara pandang yang lebih bijaksana karena terbiasa membaca pikiran orang lain dalam buku-buku mereka.
  • Mampu mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur
  • Dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian yang dibacanya
  • Dapat mengembangkan kemampuannya dalam merespon kemajuan iptek maupun ICT
  • Menguasai ragam kata dan istilah serta kalimat yang beragam.
  • Mengetahui beragam gaya menulis orang lain
  • Memiliki rasa percaya diri untuk menulis dan menyebarluaskan tulisannya.

Rabun Membaca akan Membuat Guru Lumpuh Menulis

Saya jadi teringat kata-kata Pak Ukim Komarudin pada saat acara Pelatihan Menulis dan Peluncuran Buku ke-5nya “Guru juga Manusia” di UNJ 25 November 2012 kemarin. Kalau ingin tahu dunia maka kita harus membaca, dan jika ingin dunia tahu tentang keberadaan kita maka kita harus menulis.

Pak Wijaya dan Pak Ukim Komarudin pada Pelatihan Guru Menulis dan Peluncuran Buku “Guru juga Manusia” di UNJ. 25 November 2012

Kegiatan membaca dan menulis memang merupakan kata yang bisa disandingkan karena perbuatan keduanya yang saling melengkapi. Seorang guru yang tidak biasa membaca akan memiliki perbendaharaan kata, istilah, anonim, atau gaya bahasa yang minim. Keadaan ini membuatnya tidak percaya diri dalam menulis apalagi mempublikasikan tulisannya. Taufik Ismail mengatakan bahwa rabun membaca akan mengakibatkan lumpuh menulis. Itu lebih kepada wawasan terbatas dan ketidakpercayaan diri yang tinggi.

Kalau saja guru tahu, jika semua tulisan  yang bermanfaat tentang dunia pendidikan yang banyak ditulis lalu dipublikasikan lewat internet setidaknya akan menggeser  tulisan-tulisan spam yang kadung popular dan meresahkan. Mulailah menulis apa saja yang ada di sekitar kita, dan dari bidang ilmu yang kita kuasai. Sebagai guru yang terbiasa memberikan informasi pengetahuan dengan lisan, kekekalannya hanya berlangsung hingga pertemuan di kelas selesai. Namun jika guru menuliskannya, maka tulisan tersebut bisa dibaca siswa kapan dan di mana saja. Tidak terhalang tempat dan waktu. Tidak salah Ali bin Abi Thalib mengatakan ikatlah ilmu dengan menuliskannya.

Pak Agus Sampurno, pemenang Guraru Award 2011,  dalam pelatihan yang sama mengulas tentang pencitraan yang dilakukan guru sebagai insan era baru. Konon di jaman digital ini, HRD sekalipun akan menggunakan search engine untuk menyeleksi pegawai baru dalam suatu instansi. Senada dengan Pak Agus, Pak Dedi Dwitagama, Pemenang Guraru Award 2012, lantas menantang kita untuk berani bertanya ke search engine semisal google, dan tanyakan seberapa tenar kita di dunia maya? Semakin banyak tulisan dan aktifitas yang telah kita share lewat internet, maka semakin semua orang tahu siapa diri kita dan kegiatan kita.

Lalu apakah guru yang tidak menulis mempengaruhi minat  siswa dalam menulis ? Saya menjawab iya! Karena setiap siswa akan berkaca pada gurunya. Disadari atau tidak, minat siswa yang rendah dalam menulis akan mempengaruhi kemampuannya menulis. Ini adalah kasus lanjutan hingga mereka tidak mampu membuat karya ilmiah. Jadi minat menulis tidak begitu saja muncul, ia harus dimunculkan, dan guru berperan betul dalam hal ini.

Manfaat lain menulis untuk guru adalah guru bisa menyampaikan ide-ide kreatif dalam bidang pendidikan yang dijalaninya. Contoh mudahnya, ketika guru menuliskan pengalaman mengajarnya hari ini dengan metode mengajar yang baru maka pengalamannya ini bisa dijadikan referensi baru untuk guru lain.

Kegiatan menulis yang biasa dilakukan akan memudahkan guru melakukan penulisan penelitian tindakan kelas (PTK). Bukankah guru harus melakukannya?

Dari sisi ekonomis, jika saja guru bertanya demikian, menulis ternyata hobi yang menyenangkan. Saya memang belum mempunyai buku yang dihasilkan, namun pengalaman dari tulisan-tulisan yang pernah dimuat di  surat kabar membuktikan bahwa menulis bisa menambah pundi-pundi tabungan kita.   Belum lagi jika kita menang dalam sebuah kompetisi blog atau lomba menulis, selain nama baik, kitapun akan mendapat hadiah yang tidak sedikit. Penulis kawakan seperti Pipiet Senja malah keliling dunia gara-gara kepiawaiannya dalam menulis. Terbayang saja, berapa royalti dan keuntungan jika sudah membuat buku sebanyak Omjay…

Pada acara yang sama, Pak Agus  memberikan motivasi menulis kepada para guru peserta. Menurut Pak Agus,  memulai menulis itu sederhana. Tulislah hal-hal kecil sebanyak-banyaknya, bahkan itu bisa kita lakukan di sosial media yang kita miliki. Refleksikan pengalaman-pengalaman kita sebagai guru ketika berada di kelas. Tulisan-tulisan kecil  di face book dan twitter itu akan mendapat respon dari orang lain. Respon berupa komentar ini akan bisa menambah wawasan untuk kita pindahkan lebih banyak ke dalam blog yang kita miliki dengan lebih sempurna.  Lebih dari itu, tulisan akan lebih bermakna jika dia berhasil memotivasi banyak orang.

Ayo Ikut Komunitas Guru !

 Terbayangkah oleh Anda, jika guru tetap berstatus old fashion? Merasa tidak butuh informasi dan akhirnya tidak membaca. Guru ini tidak akan tahu isu pendidikan yang sedang hangat diperbincangkan. Dia akan mengajar tetap dengan caranya sendiri dari tahun ke tahun tanpa perubahan. Padahal di luar sana pendidikan berkembang dengan cepat, begitu juga dengan metode mengajar dan materi pembelajaran. Sang guru tidak mengerti bahwa teknologi telah mengajarkan guru-guru di seluruh penjuru dunia berbagi satu sama lain. Mendiskusikan dan memberikan pengalaman baru tentang pendidikan yang lebih baik. Karenanya, tiada alasan lain untuk mengelak,  gurupun harus  melek internet !

Pak Agus Sampurno saat menjadi pembicara pada Acara Optimalisasi Pembelajaran Abad 21 yang didukung IGI dan Acer

Saya sendiri tidak menyangka, perkenalan dengan Ikatan Guru Indonesia (IGI) 15 Oktober 2011 lalu dalam sebuah seminar tentang desain kurikulum kreatif menjadi sebuah momentum perubahan bagi saya. Momen ini menegur saya bahwa kalau mau jadi guru ya harus mau belajar dan siap untuk berubah, karena perubahan itu sendiri  abadi. Di komunitas ini saya bertemu para guru hebat yang memiliki motivasi tinggi untuk mendiskusikan kemajuan pendidikan negeri ini. Dari guru-guru di IGI, saya mengenal Kompasiana, sebuah kanal menulis yang melatih keberanian saya merangkai kata-kata sebagai suatu buah fikir. Terus terang, tanpa membaca dan proses diskusi internal tentang pendapat penulis lain, saya tak akan percaya diri untuk menulis. Jadi, sepertinya hampir benar jika orang-orang yang tidak mau menulis karena dia jarang membaca.

Tulisan saya di Kompasiana  memang lebih banyak mengupas masalah pendidikan yang setiap hari saya temui. Dari kebijakan pemerintah hingga kegiatan siswa di kelas. Seorang kompasianer lantas memperkenalkan saya pada sebuah komunitas khusus guru yang diprakarsai oleh Acer, produsen komputer ternama di Indonesia. Komunitas online ini bernama Guraru yang menempatkan para guru  era tehnologi dalam satu komunitas. Terbayang kan apa yang selalu dipikirkan guru-guru ini ? Luar biasa, mereka saling berbagi berita dan karya bagaimana seorang guru era baru memaksimalkan internet dan teknologi dalam pembelajaran.

Di semua komunitas yang saya ikuti, saya tahu bahwa guru-guru hebat adalah para pebelajar sejati. Orang-orang rendah hati yang selalu terbuka pada setiap perubahan.  Hey, tidak semua guru bisa begitu!

Pengenalan Internet dan Pelatihan Blog Bagi Guru

Sebagai anggota IGI yang memiliki program Guru Melek Internet, saya dan teman-teman IGI Bekasi mengadakan road show alias keliling Bekasi untuk mengenalkan internet pada guru-guru di wilayah Bekasi. Awalnya, saya tidak yakin betul banyak guru yang tidak mengenal internet sampai saya benar-benar ada mendampingi mereka hari itu.

Guru-guru ini begitu polos, sampai-sampai ada yang  tidak berani menghidupkan laptop yang mereka bawa. Sebagian dari peserta yang hadir tidak tahu bagaimana berinternet dan memanfaatkannya untuk proses meningkatkan kompetensi dan profesionalitas guru. Hampir semua memang mempunyai akun jejaring sosial facebook dan aktif di dalamnya, tapi sebagian di antaranya mengaku tidak mempunyai surat elektronik atau email. Nah lho !

Miris kalau saya membedakan para guru ini dengan guru-guru yang tergabung dalam Guraru yang telah memanfaatkan internet untuk pembelajaran. Para guru era baru ini tidak terlena hanya memasang status, memberi jempol atau mengomentari status orang lain, namun telah memanfaatkannya dalam  pembelajaran.  Jurang perbedaannya terlalu dalam. Di satu sisi banyak guru belum mengenal internet, sementara guru  lain sudah bisa sama-sama membuat blog dengan siswa sebagai media pembelajaran, mendatangkan native speaker dengan yahoo messenger, atau menggunakan edmodo, sebuah aplikasi baru sosial media khusus pendidikan yang pada acara kemarin disampaikan oleh Pak Gatot dari Seamolec.

Guru -guru dalam Pengenalan Internet di Bekasi

Kegiatan pengenalan internet  untuk guru-guru  ini merupakan kelanjutan dari pelatihan membuat blog bagi guru yang diselenggarakan IGI Bekasi bekerjasama dengan Blogger Bekasi. Diharapkan keberhasilannya mampu mempersempit jurang pembeda tadi. Berbekal pengetahuan perblogan inilah lalu sayapun menularkannya kepada guru-guru dan peserta didik di tempat saya mengajar. Walhasil, guru dan siswa sekarang tidak lagi merasa aneh dengan keberadaan blog, dan bisa memanfaatkannya dalam pembelajaran. Syukur alhamdulillah juga, semua siswa saya telah memiliki blog.

Anak-anak saya telah mengenal blog untuk membantu mereka belajar

Jalan menuju pendidikan yang maju mungkin masih sangat panjang, namun yakinlah bahwa sebagai guru kita harus mempunyai andil nyata untuk mencapai tujuannya terwujud. Kita harus mampu menyingkirkan segala rintangan yang menghambat kita mencapai tujuan tersebut. Pak Ukim menyebutnya rantai gajah! Dan tahukah guru-guru Indonesia, rantai gajah itu ada dalam diri kita sendiri !

Selamat Hari Guru !

Advertisements

10 thoughts on “Menu Wajib Guru : Membaca, Menulis, dan Melek Internet

    • lebihh dari itu, dunia pendidikan di belahan bumi yang lain sudah sangat maju dan kita memperoleh beberapa bagian kemajuan itu dari internet. So… guru wajib tidak gaptek. Terimakasih untuk sepakatnya.
      salam

  1. Benar sekali, guru di wajibkan tidak gaptek. Guru yang update tentang tekhnologi akan lebih mendukung dalam segala hal. tereutama dalam hal pendidikan

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s