Persiapan Bintal dan Homestay 2012

 

Selasa, 6 November 2012, tim survey Bintal dan Homestay 2012 berangkat. Tujuan kami tentu saja dua, melihat kondisi lapangan dan beberapa kemungkinan untuk acara Bimbingan Mental (Bintal) dan Homestay yang akan dilaksanakan semester ini.

Bintal sebenarnya merupakaan program yang baru memasuki tahun kedua, menggantikan Homestay untuk kelas X. Program ini dilaksanakan bekerja sama dengan TNI, tahun kemarin dengan Angkatan Laut dan tahun ini direncanakan dengan Angkatan Darat. Maka berangkatlah kami ke Pusat Latihan Tempur di Gunug Bunder Kabupaten Bogor.

Sambil berbincang dengan Pak Bontot yang menerima kami di Puslatpur ini, kami sekalian bertanya tentang kemungkinan tempat yang memadai untuk Homesata siswa kelas XI. Ternyata, Puslatpur mempunyai desa binaan yang lokasinya tidak jauh dengan Puslatpur itu sendiri. Dengan kebaikan hati Pak Bontot yang bersedia mengantar, kamipun menuju Desa Gunung Picung.

Sebagai orang Bogor Barat, tentu saja sebenarnya saya sering mendengar nama desa ini disebut-sebut, namun baru kali ini saya menginjakkan kaki di desa ini. Gunung Picung merupakan profil desa yang sangat ndeso. Kalau dibilang masih berada di bawah garis kemiskinan saya juga sebenarnya ragu karena tidak terlalu mengerti indikatornya, namun dilihat dari penampakan rumah warga indikator miskin saya yakin akan tepat disandangkan.

Berada di kaki gunnung salak, berbatasan langsung dengan Gunung Bunder, Desa Gunung Picung masih sangat bernuansa hutan. Pohon-pohon masih tumbuh rimbun, jarak dari rumah ke rumahpun masih berjauhan. Rumah-rumah in tersebar kebanyakan di pinggir jalan desa. Mata pencaharian mereka bertani, berkebun, atau kuli arit. Kuli arit adalah kegiatan warga menjadi buruh upah untuk mencari rumput buat makan ternak.

Sebagian besar rumah mempunyai kamar mandi di luar, beberapa rumah malah masih melakukan MCK di kali-kali kecil yang mengalirkan air gunung, Hawa yang dingin dan kemungkinan adanya binatang sebenarnya memaksa warga membuat kakus di dalam rumah, namun tidak semua rumah melakukannya. Mungkin juga faktor ekonomi yang tidak mendukung. Sebagian rumah terbuat dari bilik bambu, sebagian lagi sudah permanen namun dengan luas yang tidak terlalu besar dan penuh kesederhanaan.

Homestay sendiri merupakan program sekolah kamim yang biasanya dilaksanakan untuk seluruh siswa. Tahun ini merupakan program yang dipisahkan untuk setiap level. Level X diberikan program Bintal, Level XI program Homestay, sedangkan level XII program pembekalan yang biasanya akan mencari tempat khusus di luar kota.

Homestay yang kami lakukan sebenarnya sama dengan homestay yang dilakukan oleh orang kebanyakan. Tinggal di rumah warga dan menikmati perbedaan budaya yang ada. Biasanya homestay dilakukan di negeri orang, misalnya di Jepang. Selain belajar bahasa Jepang, makan makanan Jepang, jalan-jalan ke seluruh penjuru Jepang, menikmati salju dan sebagainya. Homestay yang dilakukan sekolah kamipun sama, hanya saja dilakukannya masih di dalam negeri dengan sajian khas yang juga Indonesia banget.

Kami berharap siswa mendapat pelajaran berharga dari homestay mereka, tentang bagaimana Indonesia sesungguhnya, budaya daerah lain, makanannya, suasanyan, mata pencahariannya, bagaimana bergaul dengan orang lain, mempraktikkan cara beromunikasi dengan orang desa, mendeskripsikan desa dan budayanya dalam laporan tertulis, dan bagaimana menghargai tiap tetesan keringat yang mereka lihat dari orang-orang desa ini bekerja. Kapan-kapan, mungkin kami bisa homestay ke luar negeri, melihat bagaimana majunya negeri orang.

Advertisements

One thought on “Persiapan Bintal dan Homestay 2012

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s