Bermain Peran dalam Mengajar

Lepas suami saya melakukan supervisi pada guru-guru, oleh-oleh yang selalu saya tunggu adalah metode pembelajaran yang baru   dan menarik buat saya.
Kali ini saya dioleh-olehi metode pembelajaran menarik dari seorang guru TK. Guru ini laki-laki. Awalnya saya mengira tak ada pria yang berminat menjadi guru taman kanak-kanak, ternyata kecurigaan ini keliru. Maklum saja, saya jarang menemukan guru TK seorang bapak, padahal di dunia nyata, bapak-bapak lebih diminati oleh anak-anak kecil. Bapak-bapak yang sabar, tentunya.

Sebut saja, Pak Amir. Pagi itu Pak Amir masuk kelas. Pada saat melakukan review pertemuan sebelumnya, Pak Amir bertanya : “Anak-anak, minggu kemarin kita kedatangan seorang tokoh agama. Siapakah beliau ?”, anak-anak mungil itu kontan menjawab “Aa Gyyyyymm..”. Ow, pikiran saya langsung bertanya, Aa Gym datang ke kelas ini ???

Pertanyaan berikutnya yang dilontarkan Pak Amir,”Kemarin Aa Gym menyampaikan pesan berupa SPO. S adalah kependekan dari apa?”, anak-anak langsung menjawab ,”Simpaaan”. Satu persatu siswa menjelaskan maksudnya.
“Kalau P?” , “Pilaah”
“O?”, “Olaah”

Ooh… ternyata Aa Gym datang menyampaikan pesan dalam pelajaran Green Education, berupa pesan singkat yang sarat makna. S untuk simpan, artinya, menyimpan sampah di dalam kantong jika tidak ditemukan tempat sampah di sekitar kita. P artinya pilah, berarti anak-anak belajar memilah sampah, organik anorganik, serta sampah basah atau kering. O berarti olah. Di sini anak-anak belajar mengolah sampah. Aa Gym pun menyelipkan perintah agama dalam menjaga kebersihan.

“Hari ini, kalian akan kedatangan seorang juru masak. Nama juru masak ini adalah Chef Amir”. Pak Amir menjelaskan profesi Chef ini dengan sangat antusias. Termasuk penjelasan mengenai mengapa dijuluki Chef, tugas Chef, dan sebagainya.

Untuk melengkapi profesinya, Chef Amir memakai celemek, membawa beberapa bahan masakan dan sayur-sayuran. Melibatkan anak-anak dalam resepnya membuat sarapan pagi. Pembelajaran menjadi sangat menyenangkan.

Tahulah saya, ternyata Pak Amir menggunakan peran para tokoh dalam pembelajarannya. Aa Gym tidak datang dengan sebenarnya, hanya tokoh tiruan yang didatangkan khusus terkait tema tertentu. Keterlibatan anak-anak dan analogi tokoh yang didatangkan ini selalu membawa sesuatu yang menarik. Selain membuat siswa tidak perlu kesulitan menghapal dan mempelajari materi pelajaran, siswa-siswa mungil inipun antusias dengan menanti tokoh baru apalagi yang akan dibawa oleh gurunya?

Hmmm… saya jadi turut berfikir kira-kira tokoh siapa yang akan saya bawa ke kelas saya  yaa ?

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s