Pengalaman Sekolah TK di Perancis

Tentu saja bukan saya yang bersekolah di Perancis.Tulisan ini saya ambil dari milis IGI, tulisan Pak Rakhmat Hidayat yang berbagi kisah tentang sekolah TK anaknya di Perancis. Sambil kita mengambil rasa tentang uniknya bersekolah di sana, ternyata ada banyak pelajaran yang bisa diambil dalam rangka memperbaiki kualitas mendidik kita di Indonesia. Entahlah, saya selalu tertarik pada pembelajaran-pembelajaran yang menyenangkan dan humanis model di negeri-negeri luar.

Pengalaman Sekolah TK di Prancis

Sudah hampir enam bulan anak pertama saya (usia 5 tahun) sekolah taman kanak-kanak di Lyon,Prancis.Ia masuk sekolah mulai 23 April 2012.Disaat proses belajar sudah berlangsung sejak awal September 2011.Saya sendiri sudah mendaftarkan sekolah anak saya di akhir Desember 2011,sesaat setelah resmi mendapatkan apartemen.Syarat utama daftar sekolah adalah harus dekat dengan lokasi tempat tinggal.Agar cukup jalan kaki.Syukur alhamdulillah,untuk menuju sekolah anak saya hanya berjalan kaki selama 5 menit.Jujur saja,awalnya saya mendaftarkan anak di TK Prancis takut dan deg-degan.Saya takut anak saya tak bisa adaptasi dan mengikuti kegiatan belajar di sekolahnya.Paling tidak ada dua alasan.Pertama,karena kendala bahasa pengantar yang digunakan yaitu Bahasa Prancis.Anak saya sama sekali tidak bisa dan tidak pernah mendengar apalagi belajar Bahasa Prancis.Jangan-jangan,anak saya akan menjadi anak yang paling tertinggal dibanding teman-temannya di kelas.Kedua,di kelasnya adalah representasi kultural antarbangsa.Warga Eropa ada,mayoritasnya malah Arab dari Maghribi,Asia hanya dua tiga orang.Beda budaya,beda perilaku sangat kentara dalam interaksi sehari-hari di kelas.Jujur saja,dua kekhawatiran ini menggelayuti pikiran saya.

Hari pertama sekolah.Ini adalah hari yang paling bersejarah dan berkesan untuk anak saya.Termasuk juga saya dan istri.Pukul 08.00 pagi,kami berangkat menuju sekolah.Suasana sekolah dengan berbagai arena bermain sudah saya jelaskan dan ceritakan kepada anak saya agar dia merasa senang dan tertarik.Lengkap dengan foto-fotonya yang sudah saya abadikan.Jreng…Benar saja setelah berkenalan singkat dengan guru pengajarnya,anak saya ngamuk dan tak mau ditinggal oleh kami.Anak saya nangis keras.Tak mau sekolah.Dia kaget melihat lingkungan baru.Pintu kelas ditendangnya sebagai bentuk protes tak mau sekolah.Padahal beberapa hari sebelum mulai sekolah,anak saya sudah mulai tertarik sekolah.Tentu dengan berbagai iming-iming saya dan istri.

Gurunya bernama Emilie.Usianya ditaksir sekitar 25-26 tahun.Masih muda,ramah,kelihatan cerdas dan cantik.Ketika anak saya ngamuk,dia dengan ramah mengatakan c’est normal.Ini wajar,katanya.Sebagai warga asing,kelakuan seperti anak saya sudah biasa.Sayapun dibuat tenang dan percaya dengan penjelasan guru tersebut.Meski anak saya nangis keras,tetap kami tinggal.Bagi saya,ini adalah pengalaman pendidikan yang harus dia dapatkan.

Sekolah dimulai pukul 08.20.Pukul 11.20 saatnya murid-murid istirahat.Saya datang menjemputnya.Mata anak saya masih sembab.Menatap saya kelihatan senang.Saya tanya ke gurunya tentang kondisi anak saya.Gurunya menjelaskan bahwa anak saya hanya nangis sekitar 10-15 menit setelah kami meninggalkannya.Selepasnya,dia diam dan masih kelihatan sedih.Tapi kelamaan dia mulai bisa bergabung dengan teman-temannya.

Selama dua minggu pertama.Anak saya hanya diminta sekolah pagi hari (pukul 08.20-11.20).Untuk sesi siang (pkl 13.20-16.20) tidak wajib karena masih adaptasi lingkungan.Sayapun kembali dibuat tenang dengan penjelasan gurunya yang sangat ramah dan sabar tersebut.

Hari pertamapun hanya diisi dengan sesi pagi.Hari kedua,anak saya agak bermalas ria untuk sekolah.Kami harus ekstra sabar untuk membujuknya agar mau pergi sekolah.Akhirnya diapun mau berangkat sekolah dengan wajah terpaksa.Tak apalah.Dia mau pergi sekolah bagi kami adalah sebuah kemajuan.Tak mudah mengikuti belajar seusia dia dengan bahasa pengantar,bahasa Prancis.Saya sendiri ketika dalam berbagai diskusi dan seminar kadangkala masih sering bengong dengan berbagai penjelasan mereka yang sedang berbicara.Saya membayangkan itu dialami anak saya.

Hari kedua,anak saya tetap nangis.Syukur,nangisnya tak sekeras hari pertama.Lebih bersyukur,tanpa menendang pintu kelasnya.Nangisnya lebih sebentar dan lebih pelan.Wajah sedih masih kuat di anak saya.Saya kembali melepas anak saya masuk kelasnya bergabung dengan anak-anak multikultural lainnya.Sebelum masuk kelas,anak saya memeluk erat saya sangat lama.Ibarat kami akan berpisah jauh dan lama.Saya membayangkan,dia tak mau pisah dan jauh dari orang tuanya.Selama belajar,semua TK di Prancis tak boleh ditunggu oleh orangtuanya.Kecuali bagi mereka yang memerlukan perlakuan khusus.

Ada kemajuan di hari kedua.Anak saya mulai lebih menikmati suasana bermain di kelasnya.Bengong masih dialaminya.Intinya lebih baik.Saya mencoba membujuknya lebih sabar untuk masuk sekolah siang.Setelah dibujuk dengan berbagai jurus,akhirnya dia mau juga berangkat siang.Tentu dengan ekspresi malas dan berbagai alasan.Alasan dia capek dan pusing.Tapi saya meyakinkan dia bahwa dia akan senang kalau berangkat sekolah.Akan banyak teman baru di sekolahnya.

Setiap pulang sekolah,saya selalu menunggu dia bercerita pengalaman di sekolahnya.Waktu yang kami tunggu-tunggu.Banyak kemajuan di hari kedua.Nangis dan sedih masih terus berlangsung.Hari ketiga masih berangkat pagi.Siangnya dia tak mau sekolah karena pusing dan capek.Sayapun menyerah melihat kondisinya.Gurunya menjelaskan kepada saya bahwa ada temannya orang Italia yang juga sama pengalamannya dengan anak saya.Sekarang dia sudah sangat enjoy dan maju perkembangannya.Tak kalah dengan anak-anak yang berbahasa Prancis.Gurunya kemudian meminta kami untuk bisa mendamping beberapa menit setelah mulai belajar.Istri saya mendampinginya selama tiga hari selama 15 menit diawal belajar.Pendampingan ini dilakukan hanya beberapa hari.Meski demikian,tetap saja anak saya fokusnya kepada ibunya.Bukan ke gurunya.Tak apalah.Gurunya lebih tahu kondisi di kelas.

Minggu pertama dilalui dengan penuh cerita dan tentu saja mendebarkan bagi kami.Sekolah hanya berlangsung empat hari.Rabu semua sekolah di Prancis libur.Hanya ada kegiatan ekstrakurikuler setengah hari.Sekolah berakhir jum’at.Selasa sore dan jum’at sore adalah waktu yang paling menyenangkan untuk saya khususnya anak saya.Senang karena esoknya libur.Sayapun bisa fokus ke studi saya.Seminggu ini fokus saya terpecah mengurus sekolah anak.Tak apalah.Ini adalah kewajiban saya.Banyak pengalaman yang belum tentu dirasakan orang tua lain di tanah air.

Pengalaman sekolah satu minggu cukup banyak kemajuan bagi anak saya.Dia mulai punya teman yang akrab.Jika anak saya mulai belajar setelah berpelukan erat dengan saya,gurunya memanggil dua temannya yang kemudian menjadi sahabat akrabnya.Namanya Amine dan Ronald.

Perjuangan di minggu kedua dimulai.Lebih semangat dan banyak kemajuan.Nangisnya mulai berkurang.Frekuensinya juga lebih berkurang.Kemajuan yang drastis adalah sudah mau sekolah siang.Meski harus dibujuk.Normal bagi usianya.Minggu kedua aktifitas antar jemput dilakukan istri saya.Saya memantau melalui telepon.

Ketika itu cuaca di Prancis peralihan dari musim dingin.Masih agak dingin dan sering hujan.Hari berikutnya,cuaca kebetulan hujan.Istri saya bilang ke anak saya agar tak usah pergi sekolah karena hujan.Nanti bisa izin ke gurunya.Cuaca pagi memang mendung.Siangnya yang hujan.Anak saya spontan menjawab tetap mau pergi sekolah meski hujan.Kata dia,kalau dia tidak sekolah nanti ketinggalan pelajaran dibandingkan teman-temannya.Akhirnya,istri saya tetap mengantarkan pergi sekolah dengan kondisi hujan.Sore itu,saya dikabari istri tentang perkembangan kemajuan anak saya yang sangat pesat.Saya menganggap anak saya sudah mulai menikmati sekolahnya.Sudah tak lagi asing dengan teman-temannya yang beraneka ras dan warna kulit itu.Dua teman dekatnya sangat berperan secara psikologis mendampingi di kelas.

Esoknya,malah dia sendiri untuk pergi sekolah.Hebat dan luar biasa.Meskipun untuk bangun pagi harus lebih awal dibangunkan.Kemajuan ini membuat saya senang dan bangga.Padahal,gurunya menganjurkan anak saya hanya sekolah pagi selama pagi hari.Untuk sesi siang tidak wajib.Ternyata,sebelum dua minggu,anak saya sudah bisa menikmati sekolah full day dari pagi hingga sore hari.

Hari-hari berikutnya,sekolah sudah menjadi rutinas sehari-hari anak saya.Dia tampak menikmati semua pelajaran yang diajarkan gurunya.Dia malah yang sering minta sendiri sekolah kalau kami mengatakan untuk tidak usah pergi sekolah.Bahkan,kalau kondisinya kurang sehat atau sakit dia tetap minta pergi sekolah.

Di sekolahnya memang mengutamakan belajar sambil bermain.Tak ada tekanan beban pelajaran yang berat seperti di Indonesia.Di Indonesia murid-murid TK sudah diberikan pelajaran Bahasa Inggris.Di Prancis tak ada seperti itu.Selama beberapa bulan sekolah,banyak kemajuan dari mulai menulis,kemampuan bersosialisasi dan yang pasti kemampuan bahasa Prancis banyak kemajuan.

Hal yang menarik adalah di sekolahnya tersedia banyak arena bermain yang mendukung kegiatan belajar.Untuk sesi belajar siang,murid-murid yang terbiasa tidur siang diperbolehlan tidur siang sambil duduk di meja belajar.Ada yang membawa boneka kesayangannya.Ada juga yang membawa bantal kesayangannya.

Di akhir tahun pelajaran,ada jadwal rekreasi ke beberapa tempat wisata disekitar kota kami.Murid pergi hanya didampingi guru kelasnya.Orang tua tidak boleh mendampinginya.Tujuannya melatih kemandirian murid.Murid hanya disiapkan bekal makanan dan minuman serta baju ganti.

Di awal pendaftaran saya hanya diminta membayar asuransi sekolah untuk anak saya sebesar 9.90 euro dan biaya partisipasi sebesar 15 euro yang sifatnya sukarela alias tidak wajib.Dana partisipasi ini akan digunakan untuk kegiatan wisata murid di akhir tahun pelajaran.

Semakin hari anak saya semakin menikmati sekolahnya.Tak ada alasan bagi dirinya untuk libur sekolah.Bahkan,hari liburpun dia mau pergi sekolah.Akhir tahun pelajaran ditutup dengan pentas seni murid yang menampilkan aktraksi dan penampilan murid-murid di setiap kelas.Beberapa minggu sebelum hari H,murid-murid dilatih oleh guru-gurunya yang penuh talenta dan tentu saja penuh kesabaran.Bayangkan saja,murid-muridnya berasal dari berbagai bangsa dan negara dengan berbagai bahasa dan budaya.Guru harus menghadapi murid-murid yang sangat beragam latarbelakang.

Anak saya serius mengikuti latihan nari dan menyanyi untuk pentas seni akhir tahun.Tentu berbahasa Prancis.Waktu yang ditunggu-tunggu tiba.Pentas seni akhir tahun digelar.Acara yang ditunggu-tunggu semua wali murid.Anak saya bergabung dengan teman-temannya sekelas menampilkan atraksi menari dan menyanyi.Tak ada lagi perbedaan anak Indonesia dengan Eropa,Afrika Utara atau Asia.Semua melebur dan bersatu sebagai anak-anak masa depan generasi penerus bangsa.

Libur panjang tiba.Hampir dua bulan libur panjang selama musim panas.Otomatis tahun pelajaran sudah dilalui.Penuh perjuangan anak saya bisa melewati hari-hari yang melelahkan dan mendebarkan orang tuanya.Kami bisa melaluinya dengan penuh suka cita meski dengan ketegangan.Bagi anak saya, ketegangan menjadi hal yang biasa.

Tahun ajaran baru dimulai awal September 2012.Semangat baru disertai pengalaman sudah cukup bagi anak saya untuk naik kelas.Tahun ini adalah tahun terakhir dia sekolah di TK tersebut.Setiap saya tanya,apakah mengerti yang dijelaskan oleh gurunya,dia bilang mengerti.Tampak dari bisa mengikuti pelajaran dan interaksi dengan teman-temannya.Di Prancis yang menganut laicite atau sekulerisme memang tak mengenal pelajaran agama atau moral.Ihwal ini diserahkan ke masing-masing keluarga untuk memberikannnya.Tapi untuk soal etika dan sopan santun terhadap guru secara tidak langsung diberikan dikelas.Misalnya mengucapkan salam (bonjour,dll).

Hari-hari sekolah itu terus dinikmatinya bersama teman-temannya yang penuh suka cita.Gurunya tak berganti.Sama dengan tahun pelajaran sebelumnya.Gurunya anak saya memang sangat sabar.Oleh beberapa wali murid,guru ini dikenal sebagai salah satu guru terbaik di sekolah anak saya.

Akhir tahun pelajaran akan berakhir Juli 2013.Masih lama dan panjang.Masih banyak cerita dan suka cita yang harus disyukuri.Tahun depan,jika tak ada aral melintang,anak saya akan selesai di TK dan masuk ke Sekolah Dasar.Pengalaman baru bagi anak saya bagi sejarah hidupnya.Juga sejarah untuk kami,orang tuanya.

Sekolahnya yang sekarang,ecole maternelle Andare Vienot,memang menjadi ruang bermain yang menyenangkan.Tak ada beban pelajaran yang mendera stress muridnya.Semua bermain dan belajar.Belajar sambil bermain.Guru-gurunya adalah guru terbaik dengan penuh talenta dan penuh kesabaran.Aneka media permainan yang edukatif sangat lengkap mendukung perkembangan motorik,intelektual,sosial dan kognitif anak-anak.

Kamu beruntung dan bersyukur nak bisa sekolah TK terbaik dan gratis di LN.Tidak seperti ayahmu,yang tak pernah sekolah di TK karena memang tak ada TK dikampung ayahmu.

Terus belajar dan bersyukurlah anakku Haikal.

Vaulx en Velin,22 Oktober 2012

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s