Penulis Tak Pernah Benar-Benar Mati

 

Perasaan kangen membuat saya menuliskan sebuah nama di mesin pencari. Padahal, tentu saja sebagian hati saya mengatakan tak mungkin ada. Nama itu adalah : Eha Soleha.

Eha Soleha (1965 – 1994), kakak ketiga saya yang meninggal ketika berusia 35 tahun dan kala itu saya masih kuliah. Meninggalkan dua orang anak yang masih kecil, Bayu dan Bundan. Sekarang si sulung Bayu sudah lulus dari perminyakan ITB.

Teh Eha, panggilan saya untuk almh, adalah seorang peneliti di Balitvet (Balai Penelitian Veteriner) Bogor. Ketika dipanggil yang Maha Kuasa, beliau sedang melanjutkan pendidikan di Australia dan tinggal di Darwin.

Mesin pencari mengeluarkan beberapa Eha Soleha yang saya tidak kenal, dan ternyata juga mengeluarkan nama Eha Soleha yang saya maksud. Wow!!! Ternyata, sebagai seorang peneliti penyakit hewan, si teteh sudah menulis banyak jurnal dan dijadikan rujukan oleh para peneliti lainnya. Inin membuktikan bahwa sekalipun sang penulis sudah meninggal, tulisannya tak pernah mati. Apalagi jika memberikan nilai manfaat untuk orang-orang yang ditinggalkannya.

Saya jadi teringat ketika SMA dulu diajak ke Puncak untuk meneliti nyamuk, atau diajak ke kandang sapi di Balitvet untuk melihat sapi tersebut diteliti. Hmm.. rupanya, ajakan-ajakan si teteh ini menimbulkan minat-minat tertentu pada diri saya. Sampai-sampai sayapun pernah ingin jadi peneliti seperti beliau.

Kalau orang tua, guru, dan lingkungan tak pernah mengajarkan apa itu profesi pada anaknya, apa jadinya ya?

 

 

Advertisements

One thought on “Penulis Tak Pernah Benar-Benar Mati

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s