Aku Cinta Bahasa Indonesia

 

gambar dari artofthinking2.blogdetik.com

“Ada kalanya saya harus berhenti sejenak menggunakan bahasa Inggris yang telah mengikat saya selama dua tahun belakangan ini. Begitu kuatnya infiltrasi dari bahasa asing tersebut, sehingga saya merasakan adanya perubahan kronis dalam pola berpikir saya. Kalau dulu saya berpikir serta berkata-kata dengan diri saya sendiri dalam Bahasa Indonesia, maka sekarang mulai terlintas pikiran-pikiran dalam bahasa asing. Tidak jarang saya juga berfantasi dan berkhayal didalam bahasa asing, yang berdampak pada perubahan pada aspirasi adat ketimuran saya. Sering saya berpikir sesuatu yang sangat sensitif bagi kebanyakan rakyat Indonesia, namun dilain pihak, dirasakan sangat normal dan lumrah bagi penduduk Amerika. Maka dari itu saya mencoba mengambil waktu sejenak untuk merasakan hangatnya bahasa ibu kita sendiri, betapa elok dan agungnya struktur gramatikal dari salah satu rumpun Melayu tersebut.”

Alinea di atas adalah kutipan paragraf pertama yang saya ambil dari blog milik  Pak Henry Nugroho. Selintas, informasi yang diberikan Pak Henry adalah tentang dirinya yang memang secara intensif telah menggunakan bahasa Inggris dalam dua tahun terakhir, kemungkinan besar adalah karena faktor tuntutan pekerjaan atau lingkungan sekita beliau. Satu hal lain yang menggelitik saya justru adalah pengakuan Pak Henry tentang mulai bergesernya kebiasaan Pak Henry berbahasa Indonesia ke arah Bahasa Inggris.

Saya mengasumsikan bahwa kebergeseran ini adalah suatu kebiasaan yang lalu terbawa ke segala aspek kehidupan Pak Henry, dan bahkan ribuan orang Indonesia yang melakukan hal yang sama. Tidak bisa dipungkiri bahwa bahasa adalah sesuatu yang lekat dengan keseharian kita. Lalu pertanyaan saya mulai menjalar pada pengaruh pergeseran kebiasaan berbahasa indonesia ke Bahasa asing lain terhadap kecintaannya berbahasa ibu. Apakah ada?

Diakui Pak Henry bahwa kuatnya infiltrasi ini akan mempengaruhi cara dan gaya berpikir seseorang yang lalu bukan tidak mungkin melunturkan keindonesiaan seseorang. Rasa bangga akan mulai terkikis, dan lebih menyedihkan lagi jika  pemikiran tentang tidak pentingnya pemakaian Bahasa Indonesia mulai merasuk. Maka banyak tulisan di Kompasiana.com yang saya baca yang menyatakan bahwa Bahasa Indonesia itu kerdil dan tidak menyitrakan sesuatu yang maju layaknya bahasa Inggris yang menjadi bahasa komunikasi dunia dan notabene dipakai oleh negara-negara maju.

Cinta bahasa ibu itu diakui oleh hati, dan dilaksanakan oleh indera. Maka, setinggi-tingginya kemampuan bahasa asing kita, dan sejauh-jauhnya kita menjelajah dunia, ungkapkanlah kecintaan pada Bahasa Indonesia dengan apa yang kita bisa. Mungkin dengan kata-kata lisan, atau bisa juga tulisan. Semakin kita meninggalkannya, semakin kita mengakui bahwa hal itu tidak penting.

Salam cinta Bahasa Indonesia !

 

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s