Kampanye Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar Lewat Sosial Media

 

Sosial media adalah media online yang masih menjadi primadona bagi banyak kalangan, tidak terkecuali anak-anak sekolah. Jenis yang paling diminati dewasa ini adalah facebook, twitter, dan blog.

Hal ini jugalah yang membuat idealisme saya sebagai guru lantas melonjak tinggi. Bagaimana jika social media ini bisa dipergunakan untuk melatih siswa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar? Tekhnologi memang memberikan banyak pengaruh negative dan positif secara bersamaan, namun tergantung penggunanya, mana yang ingin didominasikan? Minimal, penggunaan bahasa gaul atau bahasa alay (anak layangan) yang dewasa ini masih diminati oleh mereka bisa dibatasi. Pasalnya, rasanya hati ini ngilu ketika ternyata kemampuan siswa berbahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari sangat memprihatinkan. Kadang mereka tidak bisa menempatkan kata demi kata dengan baik, termasuk ketika merangkainya dalam sebuah kalimat pada saat harus mengisi lembar jawaban bentuk essay. Bukti berikutnya adalah pada saat siswa sedang membuat karya tulis. Tampak jelas mereka belum mampu mengungkapkan kata, kalimat, bahkan paragraph dengan saling berhubungan satu sama lain.

Saya melihat ketidakmampuan ini dipengaruhi juga oleh beberapa hal, diantaranya:

Pertama, siswa tidak bisa membedakan di mana harus berbahasa gaul atau berbahasa Indonesia yang baik dan benar ketika berbicara, menulis, bahkan dalam mengerjakan soal. Bahasa gaul terbukti lebih mendominasi pola berbahasa mereka. Termasuk di dalamnya adalah status-status dan catatan dalam media social yang mereka miliki.

Kedua, peran guru, orang tua, dan lingkungan terhadap kebiasaan berbahasa anak-anak sekolah ini seakan tidak terlihat. Padahal kepedulian dari banyak pihak untuk melestarikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang seharusnya dilestarikan sangatlah penting. Minimal, kita bertanggung jawab mengingatkan dan mangajak mereka kembali pada bahasa ibu, Bahasa Indonesia yang menjadi kebanggaan sejak diproklamirkan menjadi bahasa persatuan pada tahun 1928.

Bahasa gaul memang menjadi tersangka utama dari hilangnya kepedulian anak-anak sekolah pada bahasa negaranya. Fenomena kemasakinian bahasa yang agak sulit dihindari penggunaannya di masyarakat. Keadaan yang pernah juga dirasakan generasi 80an, 90an secara bergantian. Namun, pada saat itu anak-anak sekolah tidak mendominasi penggunaan bahasa gaul. Bahasa gaul hanya diminati para remaja di luar sekolah. Sekarang, karena pengaruh perkembangan tekhnologi dalam hal telepon genggam dan internet yang sangat luar biasa membuat siswa SD sekalipun sudah sangat biasa dengan gaya bahasa barunya.

Tidak bisa sepenuhnya disalahkan memang, karena semua anak akan merasa nyaman dengan bahasa dan gaya yang sedang “in”. Mereka akan merasa ada di dunianya sendiri. Anak muda ini, termasuk di dalamnya anak-anak sekolah adalah orang-orang yang rentan menghadapi perubahan bahasa. Landasan berbahasa mereka belum terlalu kuat ketika bahasa gaul mulai menghampiri. Inilah salah satu sebab mereka memakai bahasa gaul dalam pergaulannya sehari-hari termasuk dalam dunia pendidikan. Lalu , siapa yang akan menjamin kelangsungan Bahasa Indonesia yang baik dan benar akan tetap hidup pada akhirnya?

Akhirnya, saya putuskan untuk mengkampanyekan penggunaan Bahasa Indonesia lewat sosial media. Siswa saya harus mempunyai blog dan terhubung dengan saya di jejering social facebook dan twitter. Ini dilakukan salah satunya demi menjaga kebiasaan berbahasa mereka. Siswa saya ajak bermain kata-kata yang menyenangkan namun tidak pergi dari pedoman sang ibu. Mereka harus tahu indahnya berbahasa Indonesia yang sebenarnya. Di blog pribadinya, selain mereka mengerjakan tugas sekolah, merekapun bisa melatih kemampuan menulisnya. Menulis adalah bagian dari berfikir kreatif. Begitu pula dengan semua status di jejaring social, secara perlahan harus dijadikan bahan evaluasi tanpa mengganggu privasi mereka. Jadi guru memang tidak boleh melawan arus perkembangan jaman, namun masuklah dari sisi yang lain agar bisa mendampingi mereka bertekhnologi. Tentu saja guru harus menjadi salah satu ujung tombak perbaikan bahasa siswanya.

Salam cinta Bahasa Indonesia !

 

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s