Bahasa Indonesia dalam Perspektif Dunia Pendidikan

Fenomena kekinian dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar memang agak merepotkan. Pasalnya, gaya bahasa anak muda lebih mendominasi keseharian siswa baik di rumah maupun di sekolah. Bahkan, kadang bahasa gaul yang membesarkan kebahasaan mereka ini terbawa pula dalam proses pembelajaran. Satu cerita tentang kegiatan diskusi siswa di kelas saya: Andi menjelaskan hasil diskusi kelompoknya dengan bahasa gaulnya. Lebih menyedihkan lagi, menurut anak-anak yang lain, mereka lebih menikmati gaya bahasa demikian dibandingkan dengan bahasa baku yang kerap diusung guru-guru di dalam kelas.

Mau dikata apa, kenyataannya memang demikian. Bahasa Indonesia mulai kehilangan posisi agungnya sebagai identitas bangsa. Bahkan di dunia pendidikan sekalipun, di mana seharusnya dia menduduki posisi istimewa sebagai bahasa pengantar, Bahasa Indonesia terasa terpinggirkan dan mulai dilupakan.

“Bu, bahasa gaul juga Bahasa Indonesia!,” demikian seorang siswa menjawab pertanyaan saya tentang posisi Bahasa Indonesia dalam keseharian. Jawaban enteng ini menunjukkan sikap enteng siswa menanggapi keresahan orang-orang yang peduli bahasa. Adakah fenomena ini juga didapati di sekolah-sekolah lain ?

Kasus di atas hanya penggalan kecil karakter siswa yang harus diluruskan oleh semua orang yang ada di lingkaran kehidupan mereka. Lingkaran itu bisa dirinya sendiri, keluarga, teman, guru, sekolah, organisai sekitar sekolah, bahkan negara sekalipun. Bagaimana tidak, kemauan diri sendiri untuk menunjukkan keinginan berbahasa yang baik  bisa dipengaruhi dan memengaruhi  semua orang dalam lingkaran tersebut. Kalaulah dirinya sendiri tak mampu menyatakan kesiapannya menyintai Bahasa Indonesia, maka orang-orang yang ada di lingkaran siswa tersebut yang harus bangkit sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Saya mengambil kasus kedudukan Bahasa Indonesia di dunia pendidikan karena memang fenomena ini yang saya dapati sehari-hari. Berbagai kebijakan pemerintah dalam hal kebahasaanpun menurut saya turut andil dalam menomorduakan bahasa ibu kita. RSBI salah satunya. Cikal bakal sekolah berstandar internasional yang sangat mengagung-agungkan Bahasa Inggris dibandingkan Bahasa Indonesia. Padahal jelas benar dalam UUD 1945 bahwa bahasa pengantar yang seharusnya dipakai adalah Bahasa Indonesia. Mengapa kita tidak bisa seperti Jepang yang menerjemahkan semua bukunya ke dalam bahasa mereka sendiri ketika mereka berencana bangkit dari kekalahan? Herannya lagi, Bahasa Indonesia dikurikulumkan beberapa sekolah-sekolah di luar negeri seperti Australia dan Maroko. Mengapa tidak bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri?

Dunia pendidikan rasanya menjadi sangat penting dalam membawa Bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa nomor satu di negeri ini. Semua pihak di dunia pendidikan ini harus berfikir bagaimana caranya Bahasa Indonesia tidak hanya dipakai dalam literasi-literasi ilmiah, namun juga di keseharian siswa. Dunia pendidikan adalah dunia yang tidak dibatasi oleh bahasa, usia, agama, warna kulit, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Untuk itu bahasa pendidikan adalah bahasa universal yang harus bisa diterima semua orang di negeri ini, dan pilihan satu-satunya adalah pada Bahasa Indonesia.

Tidak terbayangkan juga  jika banyaknya suku bangsa yang masing-masing memiliki bahasa daerah harus tampil dengan bahasanya masing-masing. Maka, di sinilah posisi Bahasa Indonesia bertambah menjadi bahasa persatuan yang tidak membedakan suku bangsa.

Bahasa Indonesia sesungguhnya adalah bahasa yang santun dan bermartabat. Bahasa yang mengedepankan rasa cinta tanah air karena dia memersatukan bangsa yang penuh perbedaan. Sekolah, yang menjadi tempat memelihara keuniversalan ini seharusnya turut cerdas memosisikan Bahasa Indonesia di hati siswa. Perbanyaklah acara-acara yang menyentuh rasa kebahasaan anak-anak didik. Sebagai contoh, sekolah bisa turut memeriahkan Bulan Bahasa di setiap Oktober, atau sekolah membudayakan penelitian dan pembuatan karya tulis.

Selamat Bulan Bahasa! Ayo selamatkan Bahasa Indonesia demi kerukunan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara!

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s