Demo Buruh, Siswa Terlantar

Saya ingin berbagi kisah tentang demo buruh yang berlangsung secara nasional beberapa waktu lalu. Tentu saja berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar di skeolah tempat saya bekerja. Rupanya, manajemen sekolah dan yayasan tidak mau kejadian demo kelam awal tahun lalu terjadi kembali menimpa anak-anak didik kami. Mau tidak mau hal ini memaksa manajemen mengambil kebijakan: sekolah diliburkan. Beginilah resiko sekolah yang berada di lingkungan Kawasan Industri. Siswa yang bersekolah di Yayasan Al Muslim Tambun Bekasi ini memang berasal dari beberapa titik wilayah, Tambun, Setu, Cikarang, dan Bekasi. Sebelum keputusan ini diambil, pihak yayasan sudah terlebih dahulu menghubungi Serikat Pekerja terdekat dan Polsek untuk mendapatkan berita terbaru mengenai rencana demo buruh besar-besaran ini.

Mengapa keputusan ini diambil ? Demo buruh terakhir di awal tahun kemarin membelajarkan kami bahwa sebaiknya keputusan liburlah yang diambil. Masih lekat di ingatan saya, dua hari sebelum demo berlangsung, isunya sudah mulai merebak di kalangan orang tua namun tidak ada yang bisa memastikan demo ini benar-benar akan dilaksanakan atau tidak. Informasi dari orang tua yang bekerja di pabrikpun mengarah pada keputusan yang tidak pasti, karena demo akan berlangsung jika hanya tuntutan buruh pada saat itu tidak disetujui. Akhirnya, siswa tetap masuk. Pukul sembilan pagi, isu demo mulai kembali berhembus. Orang tua mulai menelepon panik, bagaimana anak-anak akan pulang. Pukul dua belas, sekolah mencari tahu keadaan. Ternyata semua akses jalan raya sudah terblokir, termasuk jalan tol. Isu sweeping yang dilakukan pada buruh yang masih bekerja membuat keadaan semakin agak mengerikan. Akhirnya, daripada anak-anak terlantar di tengah jalan, siswa tetap dipulangkan seperti biasa.

Walhasil, siswa yang pulang sore hari itu benar-benar tidak bisa pulang. Macet bahkan sampai pintu gerbang sekolah. Kendaraan dari dalam sekolahpun tidak bisa keluar. Kebetulan pada keesokan harinya akan diadakan Seminar Parenting di unit SMP, sehingga beberapa panitia terlihat sibuk mengurusi lokasi acara. Panggung yang dipesan, tentu saja tidak bisa datang segera karena terjebak macet di depan pintu tol.

Detik demi detik berlalu, hingga waktu menunjukkan pukul 7 malam. Anak-anak yang tersisa segera diajak makan ke warteg-warteg terdekat. Wajah lelah setengah frustasi menggelayuti malam mereka. Beberapa anak memang sengaja minta tidak pulang segera, karena orang tuanyapun belum pulang dan mengalami hal yang sama : terjebak macet.

Beberapa gambar sempat saya ambil walaupun agak gelap karena memang waktu sudah sangat malam. Pukul sepuluh saya pulang ke rumah meninggalkan mereka yang ditemani guru-guru lain secara bergantian. Lelah rasanya, namun tentu saja tetap berharap yang terbaik buat anak-anak yang terlantar dan buat buruh yang sedang memperjuangkan nasibnya.

Gambar di bawah ini suasana ketika anak-anak makan malam dalam penantian pulang ke rumahnya masing-masing.

Gambar di atas adalah kegiatan anak membunuh rasa bosan dalam penantian.

Lihatlah juga suasana antrean kendaraan yang bahkan hingga depan sekolah kami. Jadi ingat macetnya mudik.

Demo Buruh, Siswa Terlantar

Advertisements

One thought on “Demo Buruh, Siswa Terlantar

  1. Bu mugi blog-nya bagus banget, saya baru mulai, baru belajar nulis yang bener, jadi isinya masih standar, tapi liat blog bu mugi saya jadi semangat buat nulis banyak, dan nulis yang lebih berarti

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s