Kekalahan Foke, Awal Kesalahan Jokowi

Pagi ini, semua orang ribut soal kumis yang harus dicukur karena Bung Kumis kalah dalam pemilihan Guberner DKI. Tentu saja ini hanya canda. Canda manikam.

Kekalahan Foke tentu saja menjadi akhir babak perjalanan sang gubernur memimpin Jakarta pada periode ini. Secara otomatis lengsernya Foke menjadi langkah awal Jokowi memimpin Jakarta. Entah mengapa, saya menganggap Jakarta merupakan tempat yang strategis untuk semua pemimpin bisa membuktikan kedigjayaannya. Dan sebenarnya waktu yang dibutuhkan tentu saja tida bisa sebentar. Jakarta sekarang adalah akumulasi permasalahan yang kalau Jokowi mampu menuntaskannya segera, saya baru bisa mengacungkan jempol. Kalau tidak bisa, maka dia akan jadi bulan-bulanan seperti halnya perlakuan atas terakhir atas Foke yang dinilai tidak membawa keberhasilan.

Beginilah hidup di dunia, apapun yang dilakukan berpeluang menjadi bahan perbincangan dan perdebatan. Teringatlah oleh kita pesan Luqman kepada anaknya suatu ketika :

“Wahai anakku, lakukanlah apa yang menjadi kemaslahatan dirimu, baik itu mengenai agamamu maupun duniamu, dan laksanakanlah semua urusanmu itu hingga tuntas. Jangan engkau pedulikan orang lain dan tak usah engkau dengar perkataan dan cemoohan mereka. Karena bagaimanapun engkau tidak akan mampu untuk membuat semua mereka menjadi puas, dan engkau pun tidak akan mampu untuk mempersatukan semua hati mereka”.

Dan sesudah itu Luqman pun menyuruh anaknya untuk mengambil seekor keledai, “Anakku, bawalah kemari seekor keledai, mari kita lihat apa komentar orang-orang nanti, mereka selamanya tidak akan puas dalam melihat orang lain”.

Tak lama kemudian anak itu pun datang dengan membawa keledai yang diminta. Kemudian Luqman naik ke atas punggung keledai tersebut dan menyuruh anaknya untuk berjalan menuntun binatang itu, sementara ia enak-enak duduk di atas punggungnya.

Dalam perjalanan, lewatlah mereka pada sekumpulan orang, dan ketika mereka melihat pemandangan yang ganjil itu orang-orang pun berkata, “Anak kecil disuruh berjalan, sedangkan yang sudah tua itu malah enak-enak di atas kendaraan, betapa kejamnya dan tak tahu malu orang tua itu!”

“Apa kata orang-orang itu wahai anakku?”, tanya Luqman kepada anaknya. Dan setelah anak itu menerangkan atas apa yang telah mereka cemoohkan, Luqman pun turun dari atas punggung kendaraannya dan menyuruh anaknya untuk naik, dan sekarang giliran Luqman yang menuntun keledai.

Berikutnya ketika mereka melewati kerumunan orang yang lain, terdengarlah perkataan-perkataan mereka, “Yang kecil naik, sedang orang yang sudah tua renta seperti itu disuruh berjalan kaki, sungguh kejam anak itu dan tak tahu kesopanan”.

“Apa kata mereka?”, kata orang tua itu mengulangi pertanyaannya. Maka diterangkanlah oleh anak itu perihal apa yang telah diperkatakan orang-orang. Dan kini kedua insan anak dan bapak itu bersama-sama naik ke atas punggung binatang itu. Sehingga keduanya tiba di suatu tempat, ketika mereka melewati kerumunan orang yang berikutnya, mereka pun berkata, “Dua orang berbonceng-boncengan di atas punggung seekor keledai, padahal dua orang itu sakit tidak, lemah pun tidak, ah sungguh tak kenal belas kasihan kedua orang itu terhadap binatang”.

Luqman bertanya pula kepada anaknya, “Apa kata orang-orang itu wahai anakku?”.

Dan setelah anak itu menjawab, maka tak ada pilihan lain kecuali keduanya harus turun dari punggung keledai dan menuntunnya bersama-sama sambil berjalan kaki.

“Subhanallah!” orang terheran-heran melihat keledai yang segar-bugar dan kuat itu berjalan tanpa muatan, sementara kedua pemiliknya malah berjalan kaki menuntunnya bersama-sama. “Kenapa salah seorang tak mau menaikinya?”, kata mereka.

Sekali lagi Luqman bertanya kepada anaknya, “Apa kata mereka wahai anakku?”. Dan setelah anak itu menerangkan persoalan tersebut, berkatalah Lukman, “Wahai anakku, bukankah telah aku katakan kepadamu, lakukanlah apa yang menjadi kemaslahatan bagi dirimu, jangan pedulikan perkataan-perkataan orang. Semua hal tadi aku lakukan kepadamu tak lain hanya untuk memberikan suatu pelajaran kepadamu”.

Luar biasa kan gambaran Luqman ?Inti pertama yang saya garis bawahi adalah bahwa siapapun kita dengan kapasitas kita masing-masing tentunya, pikirkanlah segala kemaslahatannya dari perbuatan kita. Lakukanlah apa yang dianggap baik untuk diri sendiri dan masyarakat hingga tuntas. Komentar pasti akan datang, entah baik atau tidak, membelai atau menusuk.Bahkan terkadang, apa yang kita lakukan terkesan selalu salah. Teringatlah kita kembali bagaimana Foke yang telah salah banyak bagi banyak orang. Hal yang sama akan diterima Jokowi beberapa tahun ke depan.

Advertisements

2 thoughts on “Kekalahan Foke, Awal Kesalahan Jokowi

  1. setuju bu mugi…ibarat biarkan anjing menggonggong khafikah tetap.berlalu.namun terkadang kita juga bingung karena kita hidup diantara orang orang yg mungkin sayang dg kita ataupun sebaliknya..tinggal ketetapan iman dihati untuk bisa membawa maju semuanya…seperti halnya jokowi dijakarta yang tak seperti solo dg gambaran masyarakat yg “sendiko dawuh” sedang di jakarta ibarat dunia kecil.semua suku ada disini….semoga berhasil mr.jokowi…mengatasi masalah jakarta…dr resapan air sampai pemulung dan preman

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s