Bahasa Indonesia dalam Kurikulum Negeri Orang

Joondalup Library, Australia Barat, di akhir Agustus kemarin  memperingati Language Week. Pada kesempatan ini dipamerkan karya-karya yang berhubungan dengan bahasa asing milik anak-anak SD di sekitar Joondalup. Ternyata, banyak juga karya berbahasa Indonesia yang ditampilkan anak-anak SD ini, walaupun mereka bukan warga negara Indonesia.

13479317671942652394

1347931834605922278

1347931871489271516

Menurut kakak saya yang tinggal di sana, di Autralia Barat ini Bahasa Indonesia seakan-akan menjadi  bahasa kedua yang dipilih bahkan masuk ke dalam kurikulum  sekolah dasar. Dalam School Curriculum and Standard Authority, Goverment of Western Australia sendiri dituliskan bahwa Indonesia merupakan Second Languange.

Nuansa Indonesia memang terasa benar ketika memasuki sekolah-sekolah ini. Ketika masuk kantor administrasi, tertera tulisan “kantor”. Masuk library, tertulis “perpustakaan”. Benar-benar serasa di negeri sendiri. Anak-anakpun terlihat sudah mampu berbahasa Indonesia meski masih terbata-bata.

Sementara itu fenomena berbeda tentu saja kita temui di Indonesia, masuk perpustakaan tertulis “library“, masuk ruangan kantor guru tertulis “office“. Dua kejadian yang seakan menjadi aneh manakala orang Indonesia berusaha mengejar Bahasa Inggris dan orang Australia berbahasa Indonesia. Tentu saja kita tidak bisa menampik kepentingan akan kemampuan berbahasa dunia itu sendiri untuk komunikasi global, namun seharusnya ada perasaan bangga juga ketika kita berbahasa Indonesia. Apalagi sekarang kita tahu bahwa orang asing justru antusias untuk mempelajarinya.

Entah apa alasan sampai Bahasa Indonesia bisa diminati untuk mengisi kurikulum mereka, namun perkiraan saya, bahasa Indonesia mempunyai kekuatan tersendiri. Mungkin dari struktur bahasanya yang memang mudah dan menarik atau juga dari sudut pandang sosiologi berbangsa.

Indonesia adalah negara yang dipertimbangkan banyak negara maju, apalagi bertetangga. Jumlah penduduknya yang besar sangat tepat dijadikan sasaran pasar. Sikap konsumtifnya yang melambung akan barang impor akan terus dikulik asing dari berbagai sudut dengan berbagai cara. Saya merasa yakin mereka telah memahami bagaimana bangsa ini menghadapi negara asing dan bagaimana mereka berusaha mendekat dengan cara berbahasa yang sama dengan orang-orang pribumi.

Setiap negara memang mempunyai tujuan hidup masing-masing. Bagaimana Indonesia mati-matian menghidupkan RSBI (Rintisan  Sekolah Bertaraf Internasional )  dan Sekolah Bertaraf Internasional  (SBI), tentu juga dengan tujuannya sendiri untuk go international walaupun dengan sumber daya manusia yang masih rendah. Namun, alangkah lebih terhormat jika kita juga tetap mempertahankan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dengan mempelajarinya lebih baik lagi. Belajar bahasa asing tentu saja keharusan untuk menaklukkan dunia, tetapi menanamkan kecintaan berbahasa Indonesia pada siswa juga menjadi wajib adanya karena bahasa ini berfungsi sebagai bahasa persatuan dan identitas bangsa.

Salam Cinta Bahasa Indonesia!

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s