Hukuman Fisik ? Lihat-lihat Dulu Dong !

 

Selepas lebaran ini, anak saya bilang mau puasa syawalan. Waah, alhamdulillah banget. Maklum, ini pertama kalinya dia sangat berminat. Masuk SMP, saya rasa dia sudah mulai mengerti tentang banyak hal, terutama keutamaan puasa syawal.

Hari pertama puasa, hari Senin bertepatan dengan upacara bendera di sekolahnya. Dia tidak mengeluh walau saya tanya berulang kali. Tapi, yang membuat saya agak geram adalah ketika mendengar dia dihukum lari keliling lapangan oleh gurunya. Upacara saja sudah cukup melelahkan apalagi dengan lari keliling lapangan.

“Loh, kamu ga bilang sedang puasa, Kak?”

“Aku udah bilang. “

waduuh, bener nih kamu udah bilang kamu sedang puasa ? Anak saya berulang kali mengiyakan. Pasalnya, saya sudah geregetan ingin tahu alasan gurunya tetap memberikan hukuman keliling lapangan padahal anak saya sudah bilang bahwa dia sedang puasa.

Masalahnya sepele, sepatu anak saya hitam tapi talinya berwarna biru. Kesalahan memang terletak pada anak saya yang sepatunya yang ada warna birunya di bagian tali. Namun saya sangat menyayangkan dalam kondisi dia sedang berpuasa, dia tetap dihukum fisik. Apa karena saya ibunya ya, maka saya jadi agak-agak ga rela?

Jangan-jangan, gara-gara Pak Menteri mengijinkan hukuman fisik boleh diterapkan pada siswa maka gurunya lantas mengaplikasikannya dengan serta merta ? Ooh.. tidak ! Saya jelas tidak setuju! Guru harus tetap bertanya terlebih dahulu pada siswa tentang keadaan fisiknya pada saat itu. Saya teringat kasus rekan guru yang lima belasan tahun yang lalu menampar seorang anak SMK (waktu itu masih bernama STM) hingga anak itu tidak sadarkan diri. Darah segar mengucur dari bibirnya, dan anak itu lantas dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan.

Setelah diusut, ternyata si anak memang dalam kondisi sakit. Karena melakukan kesalahan, si guru oleh raga ini membariskan anak-anak tersebut dan menamparnya satu persatu. Baru anak kedua yang kena tampar, dia langsung jatuh. Si anak sakit, gurupun diperkarakan.

Guru harus tetap berhati-hati. Dalam keadaan seperti ini, apapun alasannya guru tetap bersalah. Hukuman fisik yang boleh dilakukan tentu saja harus berlandaskan niat mulia mengubah perilaku anak yang kurang baik menjadi baik dan lebih baik. Tidak boleh berdasarkan niat jahat atau balas dendam karena siswa melakukan kesalahan. Jika masih ada cara lain selain hukuman fisik, saya lebih merekomendasikan itu.

Puluhan tahun menjadi guru membelajarkan saya, bahwa hukuman nonfisik saja kadang menorehkan sakit hati mendalam pada anak, apalagi hukuman fisik. Mental siswa dipertaruhkan. Jika sakit hati terlalu dalam, karakter buruknya bisa muncul, padahal harapan dari pemberian hukuman fisik adalah mengubah karakter yang buruk menjadi baik. Contoh kasus, siswa balas mengeroyok gurunya karena sakit hati.

Susah-susah gampang memang menjadi guru. Menyenangkan kalau mengajar anak-anak yang berkategori baik-baik saja dan tidak menimbulkan masalah. Beresiko tinggi jika harus menghadapi dan memperlakukan yang “luar biasa”. Kadang hukuman fisik menjadi akumulasi dari kekesalan guru pada siswa yang keterlaluan. Guru memang manusia biasa, namun untuk menjaga martabat dan menghindari pemberian hukuman fisik yang beresiko, guru harus juga ingat bahwa siswa adalah anak-anak yang berstatus manusia biasa juga.

Salam pendidikan humanis!

Hukuman Fisik ? Lihat-lihat Dulu Dong !

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s