Manajemen Musim

Kisah ini terinspirasi setelah saya jalan-jalan keliling kampung. Terlihatlah, tanah-tanah sawah pasca panen yang mulai merekah lebar-lebar, dan keadaan ini hampir ditemui di setiap daerah yang terlewati di Majalengka. Musim panas sungguh telah membelah tanah-tanah ini dengan sisi-sisinya yang memutih kekeringan.

Selokan yang membelah sawah dan sungai yang biasa mengalir kini juga kering menanti air. Praktis, aktivitas yang biasa dilakukan di tanah pertanian ini kini tidak bisa lagi.

Di beberapa wilayah yang yang sungainya masih berair, terlihat aktivitas petani yang menyedot air untuk mengairi sawah-sawah mereka. Di daerah pegunungan seperti di Rajagaluh sawah-sawah masih hijau karena air dari gunung masih deras mengalir. Saya ingin mengatakan, dalam hal ini petani-petani di Rajagaluh masih bisa bekerja dengan sawah-sawahnya yang basah. Entah menyebar bibit, menyiangi rumput liar, atau memelihara aliran air dari sungai menuju sawah-sawah mereka. Sementara itu, pengangguran musiman terlihat jelas di daerah-daerah kering yang tidak memungkinkan para petani ini bekerja.

Sebenarnya, Indonesia sudah mengenal betul dua buah musim yang ada. Penghujan dan kemarau sepanjang usianya. Dua buah musim saja tentulah tidak serepot negara-negara Eropa yang bahkan mengenal empat buah musim. Dua musim ini sejatinya membawa berkah karena masing-masing memberikan manfaat pada isi dunia. Namun, duka nestapa kadang kerap terdengar justru akibat eksploitasi kekayaan negeri dua musim ini.

Entahlah, kesalahan bermula di bagian mana. Yang pasti, banjir bandang kerap dituding sebagai akibat dari illegal loging yang memperkaya orang-orang tertentu. Mulai dari pengusaha hingga petugas pemerintahan yang memberikan ijin atau menyembunyikan aktivitasnya. Petani kecil tidak tahu harus berbuat apalagi selain menanti hujan datang, akibatnya jumlah kemiskinan seakan membengkak dan terpampang jelas di depan mata.

Musim kemarau yang berkepanjangan sekarang ini menurut BMKG sendiri memang akan lebih lama 10 hingga 30 hari dari waktu normalnya. Keterlambatan ini dikarenakan oleh Badai Elnino yang terjadi. Dan ini hanya salah satu saja dari banyak masalah yang terjadi seputar musim di Indonesia. Mengenai dampaknya, kita dan pemerintah jelas tidak memiliki rencana antisipasif akan dua musim ini. Mengapa kita juga berperan ? karena para petani ini adalah bagian dari kita. Mereka mungkin saja orang tua kita di kampung, saudara, tetangga atau kita sendiri yang menjadi bagian dari mereka. Pemerintah tentu juga berpengaruh pada pola perilaku dan penerbitan berbagai kebijakan dan ide-ide kreatif guna menangani masalah terkait musim ini, baik musim penghujan maupun kemarau.

Hal-hal yang mungkin bisa diperhatikan untuk bisa diperbaiki adalah manajemen bencana dan manajemen musim. Kadang kita juga keliru menilai bencana hanya pada banjir bandang atau tanah longsor, padahal kemarau panjang seperti yang dialami sebagian besar wilayah Indonesia ini juga bisa menjadi awal bencana seperti krisis pangan dan air bersih. Dua krisis ini bahkan bisa berkembang menjadi multi krisis. Dalam manajemen musim, masalah pengangguran musiman juga harus diperhatikan. Jangan sampai para petani tidak mempunyai alternatif pekerjaan setelah panen atau hanya berdiam diri menunggu musim penghujan datang.

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s