Tradisi Tawur di Pemakaman

 

Hari pertama lebaran di kampung, Bongas Majalengka, suasana begitu meriah. Berkeliling kampung bersilaturahmi kepada sanak saudara, dan pada para orang tua yang masih ada.

Sore harinya, giliran berziarah ke kubur kakek nenek. Terus terang, saya selalu merasa amazing kalau ziarah ke komplek pemakanan-pemakaman di daerah sini. Pemandangan yang berbeda dengan di Bogor, kampung halaman saya.

Setiap lebaran hari pertama sampai kurang lebih hari ke empat, di mana orang-orang masih ramai berziarah, saya menemukan banyak sekali anak-anak dan orang dewasa, bahkan orang tua, baik laki-laki ataupun perempuan di sekitar pemakaman. Jumlahnya bisa sampai seratus orang. Wow. Mereka duduk-duduk di atas makam. Awalnya saya mengira mereka juga peziarah sama seperti saya. Ternyata, bukan.

Jadi, di sini rupanya  ada budaya tawur. Bukan tawuran. Tawur ini kalau dalam bahasa Bogor mungkin nyawer. Para peziarah selalu menyempatkan diri membawa koin-koin recehan semua nominal. Ada seratus rupiah, dua ratus rupiah, lima ratus rupiah, bahkan seribu rupiah.

Selesai berziarah, para peziarah ini memanggil kumpulan anak-anak tadi menuju ke arahnya. Sontak saja, puluhan anak-anak kecil tersebut berlarian melewati makam, tak peduli menginjak-injak nisan, menuju panggilan peziarah.

Suasana jadi riuh ketika peziarah melemparkan uang recehan. Wuih, anak-anak dan orang tua berebut tak kenal usia. Mereka mengumpulkan koin demi koin yang dilempar dengan penuh antusias. “Di dieu bu, di dieu…” seru mereka (di sini bu.. di sini). Tabrak kiri kanan. Bahkan ada yang saling berbenturan kepala satu dengan yang lain.

Hmmm… pantas penampilan pengumpul koin tawur ini begitu kumuh. Mereka bergelut mengumpulkan recehan dari pagi hingga petang di areal pemakaman yang kering kerontang dan padat. Menginjak-injak makam yang lain hingga batu batanya terlepas. Jumlah mereka banyak karena memang jumlah peziarahpun melimpah di musim ziarah ini. Jika saja ada lima peziarah dalam waktu bersamaan dan jumlah pengumpul koin dua puluh orang per makam maka orang-orang yang tersebut bisa sampai seratus orang.

Mereka berlari dari makam di sebelah utara ke selatan lalu ke timur dan seterusnya.

13454179601105085273

tradisi tawur di kompleks pemakaman

13454182241310170625

menginjak-injak makam karena berebut uang receh

Terus terang saya agak keberatan dengan budaya yang satu ini. Bisa dibayangkan,  kebiasaan ini menimbulkan sikap mengemis yang luar biasa. Bedanya dengan pengemis jalanan adalah mereka harus agak berjuang berebut uang recehan. Tidak ada baiknya sama sekali. Mereka berharap banyak dari para peziarah tanpa harus bekerja. Pengemis musiman ini bahkan merusak makam-makam yang ada karena injakannya.

Sebuah potret yang hanya menunjukkan kemiskinan warga sekitar pemakaman. Tidak ada penjual bunga, pedagang makanan, atau minuman. Hanya para pencari koin yang memadati makam. Padahal, padatnya peziarah kubur bisa diakali dengan membuka kios bunga atau warung minuman ringan sebagai bentuk bisnis yang lebih baik.Kalau saja warga bisa memberikan pendidikan yang lebih baik, sebaiknya mulai menghentikan budaya tawur ini.

@bongas kulon – majalengka,

Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.

Advertisements

2 thoughts on “Tradisi Tawur di Pemakaman

  1. Assalammualaikum Wr. Wb bu, menurut saya budaya ini harus dihentikan karena yang meminta saweran itu masih bisa bekerja dan berusaha. Lagian juga gak sopan nginjek nginjek kuburan._. kesannya yang minta saweran itu berpaku tangan sama para peziarahnya…

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s