Siapkah Kita Mudik ke Akhirat ?

 

Menjelang lebaran, aktivitas ramadhan beralih pada realisasi rencana mudik ke kampung. Semua persiapan dari biaya, kendaraan, pakaian, oleh-oleh dicari dari jauh-jauh hari. Selalu heboh dalam persiapannya.

Mudik adalah kegiatan mengunjungi orang tua dan kerabat di kampung halaman. Tentu saja mudik ini sifatnya adalah sementara. Saya jadi merenung. Filosofi mudik rupanya menjadi gambaran minimalis mudik yang sesungguhnya ke akhirat nanti. Namun, renungan saya menenggalamkan saya pada kepedihan. Ternyata persiapan mudik yang satu ini belum maksimal sama sekali.  Padahal mudik yang satu ini tidak akan membawa kita kembali ke dunia fana.

Ramadhan tentu saja menjadi persiapan mudik sebaik-baiknya andai kita memahami. Ramadhan selayaknya menjadi tempat menempa diri agar punya persiapan untuk keabadian. Namun, aku lalaikan ramadhan, rupanya. Kini dia akan pergi. Tak lagi dalam hitungan hari. Ah, mengapa penyesalan selalu datang di akhir waktu ?

Akhirnya, harus bahagia atau sedih mengakhiri ramadhan, padahal puasa hanya menahan diri dari lapar, haus, dan nafsu. Tidak kita dapatkan istimewanya di sebelas bulan yang lain.

Mudah-mudahan masih ada waktu mempersiapkan diri lagi, Tuhanku. Untuk mudik yang sesungguhnya.

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s