Belajar dari Kepemimpinan Umar Bin Khattab

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa sebaik-baiknya tempat yang dicintai Allah adalah masjid-masjidNya, sedangkan tempat yang paling dibenciNya adalah pasar.

Umar bin Khattab mengungkapkan kembali sabda Rasul ketika membahas tentang pasar yang pada saat itu sudah juga dipenuhi praktik-praktik curang oleh para pedagang. Umar memergoki seorang pedagang susu yang menjual susu yang telah dicampur dengan air. Sertamerta amirul mukminin ini mengusir pedagang tersebut. Akhirnya beliau mengangkat pengawas pasar yang bernama Syifa binti Abdullah. Pengawas inilah yang akan menjadi pengawas akan praktik-praktik kecurangan pedagang dan juga berfungsi sebagai tempat bertanya akan hal-hal yang tidak dimengerti.

Umar bin Khattab berkata bahwa sebaiknya pedagang meninggalkan pasar dan tidak berjualan jika dia tidak tahu mana yang halal dilakukan dan mana yang haram dikerjakan. Dengan begitu, akan menghindarkan diri dari praktik-praktik curang dan riba.

Umar Bin Khattab, khalifah yang luar biasa bijaksana. Mencintai kaum dhuafa lebih dari dirinya sendiri. Memerangi kecurangan dan menegakkan keadilan. Visinya jauh ke depan. Sepertinya Umar bin Khattab memang pemimpin yang cerdas. Diriwayatkan oleh Al Hakim dan Thabrani dari Ibnu Mas’ud berkata ”Seandainya ilmu Umar bin Khattab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumi diletakkan pada tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khattab lebih berat dibandingkan ilmu mereka. Pantas saja berbagai gagasan baru muncul dalam pemerintahannya.

Sebut saja gagasan untuk menghimpun Al Qur’an dalam bentuk mushaf, menetapkan tahun hijriyah sebagai kalender umat Islam, membentuk kas negara (Baitul Maal), menyatukan orang-orang yang melakukan sholat sunah tarawih dengan satu imam, menciptakan lembaga peradilan, membentuk lembaga perkantoran, membangun balai pengobatan, membangun tempat penginapan, memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan, menetapkan hukuman cambuk bagi peminum “khamr” (minuman keras) sebanyak 80 kali cambuk, mencetak mata uang dirham, audit bagi para pejabat serta pegawai dan juga konsep yang lainnya.

Ketakwaannya membuat dia takut akan jabatan amirul mukminin yang diberikan padanya. Umar menangis karena takut tak mampu memikul amanah ini.

Pernah suatu ketika terjadi krisis karena kemarau yang berkepanjangan, Umar lalu berdoa, “Ya Allah, jangan Engkau jadikan kebinasaan umat Muhammad pada tanganku dan di dalam kepemimpinanku.”

Umar lalu berkata kepada rakyatnya, “Sesungguhnya bencana disebabkan banyaknya perzinaan, dan kemarau panjang disebabkan para hakim yang buruk dan para pemimpin yang zalim… Carilah ridha Tuhan kalian dan bertobatlah serta berbuatlah kebaikan”.

Tidak lama kemudian,  berbagai krisis tersebut segera diatasi. Saking sejahteranya, tiap bayi yang lahir pada tahun ke-1, mendapat insentif 100 dirham (1 dirham perak kini sekitar Rp. 30 ribu, tahun ke-2 mednapatkan 200 dirham, dan seterusnya. Gaji guru pun per bulan mencapai 15 dinar (1 dinar emas kini sekitar Rp 1,5 juta).

Pada tahun 20 hijriah, khalifah Umar juga mencetak mata uang dirham perak dengan ornamen Islami. Ia mencantuman kalimah thayibah, setelah sblmnya umat Islam menggunakan dirham dari Persia yang di dalamnya terdapat gambar raja-raja Persia.

Adapun pencetakan dinar emas berornamen Islami diberlakukan pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan pada tahun 75 hijrah. (sa/Sumber: Al-Fiqh al-Iqtishadi li Amir al-Mukminin Umar Ibn Khathab”)

Umar bin Khattab adalah pilihan Allah atas doa Rasulullah pada saat penyebaran islam pertama kali,  ” Ya Allah.. buatlah Islam ini kuat dengan msuknya salah satu dari kedua orang ini. Amr bin Hisham atau Umar bin Khattab”.

Ah… I love you Umar bin Khattab.

Advertisements

2 thoughts on “Belajar dari Kepemimpinan Umar Bin Khattab

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s