Kembalinya Sang Primadona

 

Senyum anakku merekah, waaaah… ada tempe terselip di tumpukan sayur si abang.

Beberapa malah dipamerkan si abang di atas tumpukan sayuran bayam dan tomat

Rupanya, beberapa hari ini tak makan tempe, rindu anakku  kian menggunung,

Maklumlah, dia cuma mau makan tempe.

Kebiasaan yang salah yang dianut anakku. Lah, kalau harga kedelai impor kembali naik bagaimana nanti?

Apa kau tidak akan makan selamanya, Nak ?

Sebagai orang Indonesia asli, memang tempe jadi primadona keluarga

setiap hari tempe jadi makanan wajib, apalagi dua ribu rupiah kita sudah bisa beli sebantal

mudah-mudahan harga tempe pagi ini tetap sama dengan beberapa hari yang lalu sebelum tempe menghilang

Jadi  anakku, sukailah yang lain…

Petani kita tak mampu menanam kedelai di ladangnya

Tanah di kampung kita terlalu panas untuk kacang-kacang polong itu merambat

Petani kita bahkan merasa tidak jadi petani kalau menanam kedelai, Nak

Kita tak mampu berbuat banyak Nak, harga kedelai impor tetap masih lebih rendah dibanding harga kedelai dalam negeri. Jadi, mereka tanampun tak akan ada yang mau beli.

Ibu jadii ingat sewaktu kakekmu bertanam dulu,

Bahkan harga pupuknya tak mampu terbeli karena terlalu mahal

Pupuk jadi momok setiap petani, memang

Ayo ah, kita beli tempenya Nak… sebelum para pembeli mulai menimbunnya

Nanti kita masak oreg, mendoan, dan tempe sambal asam manis untuk berbuka

 

Bekasi, 30 Juli 2012

 

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s