Akankah UKG Mampu Mengukur Kompetensi Guru ?

Uji kompetensi Guru (UKG) sudah saya laksanakan kemarin.Benar-benar menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Betapa, pagi itu selepas sahur langsung bersiap diri agak bergegas menyelesaikan pekerjaan rumah, menyiapkan si kecil sekolah dan meluncur ke lokasi Ujian bersama rekan-rekan yang lain karena lokasi ujian yang jauh dari rumah dan lokasi mengajar.

Tempat UKGberada di SMPN 1 Setu, sementara sekolah kami berada di kecamatan Tambun Selatan. Masih untung saya hanya memerlukan waktu tigapuluh menit untuk sampai di lokasi karena rumah saya terbilang paling dekat. Teman-teman yang lain ada yang rumahnya di Bekasi kota, Cikarang, atau Tambun. Jadi, mereka benar-benar persis sehabis sahur langsung berangkat.

Tiba di SMPN 1 Setu, kami tidak disambut siapapun dan apapun. Biasanya, lokasi tempat ujian selalu ada panitia dan pernak-pernik ujian, seperti ruangangannya sudah ditandai, nama-nama peserta sudah ditempel, dan sebagainya. Kecurigaan mulai muncul. Kemana para panitia dan guru-guru peserta UKG yang lain ? Karena mulai khawatir, seorang rekan menelpon salah seorang pegawai di Dinas dan kami langsung membelalakkan mata karena ternyata lokasi ujian dipindahkan ke dua sekolah, yaitu di SMAN 1 Tambun Selatan dan SMAN 1 Setu. Kok bisa tanpa pemberitahuan sebelumnya ? Untungnya waktunya menjadi pukul 10.30 atau gelombang kedua, bukan gelombang pertama (pukul 07.00) dengan lokasi ujian di SMAN 1 Tambun Selatan.

Tak mau mengulang kesalahan, kami berencana kembali ke sekolah dengan terlebih dahulu mengecek ke SMAN 1 Setu karena kebetulan satu arah. Jarak tempuh yang lumayan jauh, belum apa-apa sudah membuat kami lelah. Setelah tidak menemukan daftar nama kami, akhirnya kami memutuskan untuk langsung ke SMAN 1 Tambun Selatan. Ternyata kami memang terdaftar di sana. Pukul sembilan kurang kami mendapat kartu peserta dengan nomor ujian dan NUPTK. Terdapat juga lokasi ujian dan waktunya. Satu pertanyaan besar dari saya: Mengapa kami tidak tahu perpindahan lokasi dan waktu ujian sebelumnya?

Okelah, mungkin yang bersangkutan repot. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di lokasi ujian sambil menunggu waktu tiba. Namun, setelah mendiskusikan materi ujian yang berhubungan dengan pedagogik dan materi, saya jadi agak-agak gelisah. Menemani ribuan orang yang mulai khawatir dengan UKG ini. Sebagai orang biasa, tentu saya takut tidak bisa mengerjakan soal, waktu tidak cukup, atau salah prosedur pengerjaan karena memang tidak mendapat sosialisasi lengkap dan latihan mengerjakan soal.

Tapi, hati ini menjadi tenang ketika datang beberapa guru dari sekolah swasta yang sudah agak sepuh. Kok saya jadi tenang ya? Bukan berpikiran jahat, hanya saja saya merasa pasti orang tua-orang tua ini punya kendala dalam menggunakan komputer karena bisanya guru senior seperti beliau-beliau tidak familiar dengan multimedia. Dan mereka tenang saja. Mengapa saya harus gelisah ?

Menjelang pukul 10.30, beberapa orang peserta gelombang pertama mulai keluar ruangan dan riuh rendah menceritakan pengalamannya di dalam. Dua pelajaran, yaitu PKn dan BK tidak bisa login karena kemungkinan gaungguan server. Teman-teman kami dari yayasan yang sama malah kemarin tidak jadi ujian karena koneksi terganggu. Semua peserta yang tidak bisa ujian pada waktu yang telah ditetepkan akan melaksanakan ujian pada awal Oktober nanti.

Pukul 10.30 ruangan ujian dibuka untuk gelombang kedua. Dua orang panitia menemani kami dan memberikan kesempatan untuk kami menuliskan soal-soal yang dianggap salah atau tidak bisa dijawab. Waktu pengerjaan adalah 120 menit dengan hitungan mundur dengan jumlah soal 100 untuk setiap pelajaran.

Ajaib, dari dalam ruangan saya menemukan banyak hal :

    • Soal-soal yang diajukan banyak yang diulang
    • Saya menemukan 12 soal untuk pelajaran saya yang tidak ada jawabannya (versi saya sesuai perhitungan dan analisa saya. Bisa berbeda tentunya dengan peserta lain untuk pelajaran yang sama)
    • Soal-soal cacat seperti yang saya sebutkan di atas ada beberapa macam kategori. Ada yang kurva tidak ada, pernyataan soal tidak ada (soal kosong), jawaban kosong, atau jawaban tidak ada hasilnya. Ini ditemui juga di pelajaran Biologi, semisal. Gambar-gambar yang disajikan tidak jelas.
    • Untuk jadi perhatian, soal-soal ini jelas membuat waktu para peserta terbuang karena harus membaca ulang atau menghitung ulang.
    • Teman-teman yang mengampu mata pelajaran BK dan PKn tidak bisa mengikuti ujian karena tidak bisa login.
    • Komputer rekan sebelah saya tiba-tiba mati kurang lebih sepuluh menit sebelum ujian berakhir. Setelah dicek, ternyata monitornya rusak dan harus diganti dengan monitor lain. Kurang lebih lima menit terbuang dan menurutnya, konsentrasinya langsung buyar.
  • Soal mata pelajaran apapun jumlahnya 100, sehingga pada saat kami yang punya soal hitungan masih berkutat menghitung, teman-teman yang lain sudah selesai. Ketika saya mengerjakan soal yang ke 60an, teman sebelah dengan pelajaran penjas sudah selesai.

UKG memang kontroversial, setidaknya ini yang dirasakan dan memang terjadi. Di beberapa kota dikabarkan ujian ini diboikot dengan beberapa tuntutan. Saya sendiri menilai pemerintah dalam hal ini Depdiknas juga belum siap melakukan UKG dengan baik. Terbukti dari banyaknya permasalahan yang timbul dalam pelaksanaannya sejak dari hari pertama Senin kemarin. Kepala Badan Pembinaan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDM-PMP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Syawal Gultom seperti yang kutip Kompas.com mengatakan bahwa persoalan yang menyebabkan pelaksanaan uji kompetensi guru (UKG) di sejumlah daerah gagal dilaksanakan adalah masalah teknis dan administratif. Masalah tekhnis terkait dengan gagalnya operator menginstalasi program sementara dari segi administratif adalah banyaknya guru yang melakukan perbaikan sendiri data-data yang sudah tercatat dalam program.

Saya sendiri mengalami kesalahan penulisan tanggal lahir, yang seharusnya 04-09-75 tertulis di data menjadi 09-04-75. Beberapa temanpun mengalami hal yang sama. Artinya, diknas sendiri melakukan kesalahan catat data administratif guru untuk data dalam ujian ini.

Saya menyadari banyak kalangan di luar profesi ini yang memang tidak setuju dengan pemberian Tunjangan Profesi Pendidikl (TPP) yang seakan-akan hanya untuk memberikan gaji lebih besar bagi para guru dan untuk mengangkat harkat dan martabatnya tanpa diikuti oleh perjuangan guru meningkatkan profesionalitasnya. Tapi pelaksanaan UKG pun harus kembali dievaluasi karena pasti memakan biaya yang tidak sedikit. Setidaknya, pemerintah bisa memanfaatkan sekolah secara intern untuk melakukan pengawasan kepada para guru tersebut.

Semisal, di sekolah saya, kami mengalami minimal 4 kali supervisi klinis dan dua kali supervisi penilaian dalam satu tahun. Artinya, tidak semua sekolah tidak melakukan upaya perbaikan dan peningkatan mutu prosessionalitas guru. Belum lagi, setiap akhir tahun kami mendapat penilaian DP3 dari atasan dan harus mengikuti serangkaian penilaian dalam satu tahun tersebut untuk pengisian rapor guru. Memang tidak semua sekolah melakukan hal yang sama dengan yang kami terima, tetapi, percayalah, kegiatan seperti ini menjadi salah satu cara bagaimana dinas bisa mendapatkan data dari setiap sekolah tentang peningkatan mutu yang dilakukan.

Salam pendidikan !

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s