Sulitkah Memahami Anak yang Butuh Kasih Sayang ?

 

Tahun ajaran baru, masalah baru mulai bermunculan. Kali ini adalah tentang seorang anak yang orang tuanya akan bercerai. Apa yang harus saya lakukan sebagai wali kelasnya ?

Tentu saja, saya bukan siapa-siapanya. Hanya seorang guru yang berusaha menjadi orang tua dan teman di kala anak-anak didik saya sedang gundah gulana begini. Namun, jika anak ini menginjak tahun ketiga di SMA yang akan menghadapi Ujian Nasional dan masuk kuliah, apa ga mumet saya?

Puluhan belaian dan ucapan semanis madu sekiranya tetap tak mampu menghapus rasa gelisah, kecewa dan sedih Widya, sebut saja namanya begitu. Biduk rumah tangga ayah dan ibunya memang saya tahu sudah beberapa tahun ini retak. Bertahun-tahun ini pula, keduanya berusaha menyelamatkan keluarga demi sang anak. Namun ego manusia, ternyata tak bisa terbendung. Di awal tahun ketiganya di SMA ini justru Widya menghadapi kenyataan keluarganya akan berantakan.

Ketika pembagian rapor kemarin saya berusaha mengingatkan pentingnya Widya mendapat pendampingan ayah ibunya menghadapi UN. Belum lagi, Widya perlu orang tua untuk membicarakan akan kuliah di mana dan mengambil jurusan apa. Sungguh buat saya, ini adalah keputusan berat yang akan dihadapi Widya. Dia benar-benar butuh orang tua di sampingnya. Tapi, mungkin ada banyak hal yang tidak bisa diceritakan secara lebih dalam lagi oleh sang ibu ketika itu. Yang beliau katakan adalah, rumah tangga ini sudah terlalu lama memendam kesakitan. Mungking dengan berpisah, si anak akan lebih leluasa memilih akan dengan siapa dia tinggal. Daripada setiap hari harus menyaksikan ayah ibunya bertengkar.

Percaya atau tidak, ini kasus kesekian yang harus saya hadapi di sekolah. Kasus serupa beberapa kali pernah terjadi juga. Pemicu dari keretakan rumah tangga model begini ada beberapa macam:

    • Kesibukan ayah dan ibu yang juga bekerja. Masing-masing tidak berhasil menemukan jalan bagaimana menyiasati agar pertemuan di rumah dengan kuantitas yang kecil bisa dihadapi dengan kualitas tinggi.
    • Adanya PIL atau WIL. Orang-orang ketiga ini kadang terang-terangan hadir di depan anak-anak mereka yang sedang beranjak dewasa. Tentu saja si anak sudah memahami apa yang mereka lihat secara kasat mata. Dalam beberapa kasus yang dihadapi anak-anak ini, si anak menjadi pendiam dan lebih suka menyendiri. Saya menduga, walaupun diam, namun perasaannya bergolak menyimpan rahasia keluarga yang sangat memalukan. Seorang anak didik saya pernah menceritakan bahwa ayahnya yang manajer sedang suka sama sekretarisnya yang baru. Anak yang lainpun dengan terang-terangan menceritakan bahwa dia, diajak makan bersama ibu dan kekasih barunya.
    • Masalah ekonomi. Ternyata, hal yang juga menjadi pemicu keretakan rumah tangga yang saya temui pada kasus orang tua siswa juga dalam hal pendapatan yang tidak jelas yang mengarah kepada kebangkrutan.

Andai para orang tua mengerti, bahwa hidup anak-anak kita ketika berumah tangga kelak juga dipengaruhi oleh bagaimana suasana dan kebiasaan orang tuanya dalam berumah tangga. Alangkah indah kalau kita sebagai orang tua terus belajar bagaimana menanamkan kebiasaan baik dan pendidikan yang juga baik, tidak hanya di sekolah namun yang paling penting adalah di keluarganya masing-masing. Saya suka sekali dengan kata-kata mutiara yang menggambarkan betapa keluarga adalah sebaik-baiknya tempat kita kembali. Namun ke depan, masihkah rumah menjadi tempat kembali orang-orang yang berkeluh kesah ?

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s