Penuh Kenikmatan dalam Berbagi Ilmu

 Istilah berbagi dan memberi tidak selalu identik dengan memberikan materi secara fisik, namun bisa juga dalam bentuk sharing ilmu.

Menurut Rasulullah SAW, alim ulama atau orang berilmu adalah pewaris para Nabi. Tentu saja, karena orang berilmu mempunyai kewajiban untuk menyampaikannya kembali sepeninggal para Nabi. Hal inilah yang menempatkan pemilik ilmu yang kemudian membagikannya kepada orang lain mempunyai tempat sangat mulia dan terhormat.

Setidaknya, sebagai seorang yang meyakini bahwa berbagi adalah kemuliaan, maka setiap ilmu baru yang saya peroleh saya usahakan untuk kembali dishare kepada rekan-rekan pengajar yang lain.

Ada banyak kegiatan yang selama ini saya ikuti selain pelatihan-pelatihan pedagogik yang mampu menunjang karir saya sebagai guru. Beberapa yang saya banggakan adalah keaktifan saya menulis di kompasiana, mengelola blog pribadi, pelatihan internet sehat, maupun social entrepreneur. Untuk penyaluran hobby menulis, alhamdulillah telah membuahkan hasil berupa pemuatan dua buah artikel di Kompasiana Freez cetak, memenangi lomba artikel maupun blog. Sesuatu yang tentu saja membanggakan saya sebagai penikmat menulis, namun memang masih merupakan titik kecil di tengah samudra. Masih perlu meningkatkan proses belajar untuk meningkatkan kualitasnya.

Setiap sesi belajar inilah yang selalu ingin saya bagi kepada teman-teman di lingkungan saya bekerja maupun komunitas profesi. Untungnya, yayasan tempat saya bekerja memberikan kesempatan kepada guru untuk membagi ilmu yang baru diperolehnya, sehingga saya juga turut berkesempatan melakukannya.

Kegiatan besar yang pernah saya lakukan adalah sharing dalam bentuk cascade social entrepreneur kepada puluhan guru yang menjadi perwakilan dari sekolah-sekolah di Bekasi. Cascade ini merupakan tindakan lanjutan dari Pelatihan Social Entrepreneur yang pernah saya ikuti atas prakarsa British Council. Dalam sesi sharing ini disampaikan bahwasanya para wirausahan juga bisa melakukan kegiatan sosial secara otomatis dari jenis usahanya. Semisal Saung Angklung Mang Udjo di Bandung, selain menjadi wirausahawan juga menjadi pihak yang bisa mengembangkan kesenian angklung di Jawa Barat. Atau, kegiatan yang dilakukan banyak koperasi simpan pinjam yang memberikan pinjaman modal sekaligus memberikan workshop dan pelatihan untuk pengembangan usahanya.

cascade kewirausahaan sosial di SMA al muslim

 

Alhamdulillah, sambutan baik dari guru-guru peserta yang juga diminta kembali menularkan ilmu baru ini kepada lingkungan dan anak didiknya.

Kesempatan besar lain yang dengan senang hati saya lakukan adalah pelatihan ICT Dasar dan pemanfaatannya bagi pembelajaran. Sungguh, betatapun jaman sudah sangat canggih, ternyata banyak bapak ibu guru di pelosok yang tidak tahu semacam apa internet itu. Tentu saja dengan ketidaktahuan tersebut mereka tidak bisa menggunakan internet sebagai alat bantu pembelajaran, padahal dengan internet, sekali klik ribuan ilmu pengetahuan akan bisa kita baca. Di sisi lain, bapak ibu guru kalah cepat dari anak-anak didiknya yang bahkan sudah memanfatkan internet terutama sosial media dalam kesehariannya.

menemani guru-guru belajar internet dasar – lokasi di SD Insan Kamil Bantar Gebang

Dalam sesi pengenalan social media untuk pembelajaran, para guru diajak mengenal social media yang banyak digunakan anak-anak Indonesia semisal facebook dan twitter. Dengan tahu apa dan bagaimana social media bekerja, bapak ibu guru bisa turut mengawasi anak didiknya dalam berinternet sehat. Bahkan, guru bisa mengalihkan perhatian anak dari status-status sampah ke dalam kegiatan bersama dalam social media untuk pembelajaran. Guru-guru juga diperkenalkan pada blog yang bisa menjadi wadah guru untuk belajar menulis dan berkreasi menjadikannya sebagai media pembelajaran.

Kegiatan ketiga adalah berbagi cerita tentang kegiatan Guru Menulis yang memang sedang digalakkan. Mungkin banyak orang mempertanyakan mengapa setelah jadi guru kok baru belajar menulis ? Bukankah menulis merupakan proses berfikir yang seharusnya sudah pandai dilakukan oleh seorang bahkan sebelum dia menjadi guru ? Bagaimana mungkin guru akan menjadi motivator yang mampu mengubah siswanya menjadi lebih tinggi derajatnya jika menulis saja baru belajar? Begitulah fenomena pendidik di negara ini. Harus banyak langkah yang dilakukan agar kemauan untuk belajar mampu tersemat. Bukan lagi guru-guru banyak yang tidak mampu menulis, bahkan mereka memang tidak punya keberanian menunjukkan diri dalam untaian kata-kata. Dan kegiatan sharing seperti ini turut memberi semangat kepada guru-guru di pelosok untuk mau mencoba dari hal yang sederhana, semisal menulis di blog pribadi. Kemampuan awal ini akan meningkatkan daya fikir untuk selanjutnya menulis penelitian ilmiah.

Tiga buah contoh kegiatan berbagi di atas ternyata membawa kenikmatan buat saya. Semoga sedikit ilmu yang saya miliki akan bermanfaat bagi yang lain.

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s