Saya Mau, Menjadi Guru Bagi Semua Anak Indonesia

 

Guru adalah profesi pilihan. Silahkan pilih, kalau mau. Kalau tidak, jangan dipaksa. Mengapa begitu? Jadi guru, harus mendidik dengan hati. Maka kalau kita hadir separuh jiwa, kasihan anak didik yang akan mendapat separuh cinta dari gurunya. Belum lagi, jadi guru berarti kita siap hidup dalam kesederhanaan. Pas-pasan dengan gaji seadanya.

Itulah beratnya menjadi guru buat saya pada awalnya. Namun, saya tak bisa menahan air mata ketika didapati anak-anak miskin di tempat saya  mengajar divonis tak bisa mengikuti ulangan akhir kenaikan kelas karena SPPnya belum terlunasi.

Dalam pikiran saya pada saat itu, anak-anak harus sekolah. Makanya, sekolahan ini lalu didirikan. Lalu, mengapa pula mereka harus tidak bisa ikut sekedar tes, sementara cicilan uang sekolah dan tunggakan SPP masih bisa dibayar orang tuanya kapan-kapan?

Hati saya mulai berkecamuk. Bergemuruh, saya marah. Pendidikan tidak selayaknya membeda-bedakan. Lalu, bagaimana anak-anak tukang becak , anak-anak buruh tani, anak-anak kuli panggul pasar ini bisa terus sekolah kalau begini ?

Si Asep duduk termenung menatap keluar kantor. Saya tidak yakin dia menatap apa. Tatapan kosong. Baju seragamnya yang masih dikeluarkan tampak lusuh dan mulai menguning.

Di sebelahnya berdiri Taufik. Tangannya dilipat penuh kegalauan. Taufik  dan Asep adalah kakak beradik, anak pengayuh becak di ujung gang sana. Dua-duanya tersangkut pasal SPP yang tak kunjung dibayar.

Bapaknya, Pa Maman pernah bilang, “Anak saya ga perlu sekolah, karena saya tidak mampu”. Saya masih ingat mimik mukanya pada saat itu. Datar saja, seakan-akan memang mau bilang, “siapa suruh sekolah ?” Tangannya saling meremas satu sama lain, seakan-akan juga mau bilang,”Anda buang-buang waktu memanggil saya ke sini”.

Sebagai guru yang menjabat wakil kepala sekolah pada saat itu, saya jadi bingung menghadapi Pak Maman. Di satu pihak, kewajiban beliaulah untuk membayar SPP kedua anaknya, tapi di lain pihak, Pak Maman merasa tidak turut bertanggung jawab atas keinginan kedua anaknya untuk tetap berangkat mengilmu.

Pak Maman, kalau saja ini sekolah saya, saya sudah bebaskan SPP anak-anak Bapak… saya melamun lirih. Ingin sekali menangis. Tapi apakah saya cuma bisa menangis menghadapi masalah yang setiap akhir  tahun selalu terjadi.  Masalah kemiskinan yang membelenggu. Masih untung ketika anak-anak memiliki semangat tinggi untuk sekolah. Yang parah adalah ketika kemiskinan membuat siswa tidak lagi punya semangat untuk menuntut ilmu. Dan tentu saja yang lalu menyakitkan hati adalah ketika saya sadar bahwa saya tidak bisa melakukan apa-apa.

“Yayasan perlu hidup, Bu” demikian selalu ungkapan pemilik yayasan. Ya memang, sesuatu yang tidak bisa diingkari kenyataannya. Uang SPP anak-anak inilah yang akan membiayai  kelangsungan hidup sekolah. Kadang saya yang merangkap sebagai bagian keuanganpun menyiapkan gaji guru agak terhambat dengan pembayaran SPP macam begini.

Untunglah sekarang ada program BOS. Saya yakin sekolah tetap bisa berjalan dengan tidak mengandalkan SPP. Anak-anakpun masih bisa sekolah dengan tidak memikirkan tunggakan yang menggunung.

Sekarang, saya sudah pindah kota dan mengajar di sekolah yang berbeda. Sekolah ini milik orang berpunya. Menengah ke atas. Uang masuknya saja di atas sepuluh juta. Suatu nominal yang saya yakin sangat tidak mungkin dibayarkan siswa-siswa di sekolah lama.

Namun, ternyata kekayaan bukan penutup segala masalah. Walaupun anak-anak jarang mengalami kesulitan keuangan, namun ternyata masalah-masalah yang muncul  lebih kompleks. Lebih mengerikan. Kalau dulu, masalah hanya mentok di seputar tunggakan SPP, sekarang masalahnya adalah perceraian orang tua yang membuat anak-anak broken home, masalah bisnis orang tua yang jatuh dan bikin stress, masalah pergaulan bebas, dan penyimpangan sosial lainnya.

Sungguh, ternyata semua anak butuh bantuan kita para guru. Siapapun mereka dan dengan latar belakang keuangan yang bagaimanapun. Kekayaan memang diperlukan untuk melengkapi kehidupan, tapi kekayaan bukan segalanya. Masih beruntung mereka yang hanya kekurangan uang SPP, sementara yang lainnya butuh lebih dari itu. Mereka butuh guru yang tidak sekedar buat mengajarinya membaca, menulis, dan berhitung. Mereka butuh didengar. Mereka ingin diakui keberadaannya. Mereka ingin kasih sayang orang lain yang menunjukkan bahwa mereka ada artinya. Mereka butuh keluarga, dan saya merasa bahagia mendampingi mereka. Mendengarkan mereka curhat. Menyiapkan bahu tempat berkeluh kesah.

Inilah alasan mengapa saya tetap di sini sebagai guru.

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s