Kearifan Lokal dan Pendidikan Karakter pada Permainan Tradisional

Rencananya, saya akan membuat permainan kwartet untuk pembelajaran yang sedang saya rancang. Saya meminta adik dan keponakan-keponakan saya untuk meminjamkan kartu kwartet kepada saya. Namun mereka bingung. Kartu kwartet? Apaan tuh ?

Saya jadi mengernyitkan dahi. Kartu kwartet itu adalah mainan saya semasa kecil dulu setenar mainan bongkar pasang. Apakah sebegitu jauhnya perbedaan generasi saya dan mereka sehingga mereka tidak tahu kartu kwartet itu seperti apa ?

Kalau diingat-ingat, memang anak-anak ini tidak pernah terlihat memainkan permainan tradisional seperti yang dilakukan saya dan orangtuanya ketika kecil dulu. Pagi-pagi dan sore hari setelah mandi, biasanya kami pada saat itu kembali ke lapangan untuk main yeye, main cetok batu, main petak umpet, main gatrik, main galah asin, main obat nyamuk, main benteng, atau main gunung (sudamanda). Di teras bisa main congklak, main bekel, main utrik, main bongkar pasang, atau kwartet. Di kebun bisa membuat golek dari tangkai daun singkong. Main kuda-kudaan dari tangkai daun pisang yang dibuat bapak. Ah, jadi bernostalgia.

Permainan-permainan ini ternyata telah hilang tergusur oleh masifnya permainan plastic buatan Cina maupun permainan-permainan virtual di dunia maya. Padahal banyak nilai luhur terkandung dalam permainan-permainan tradisional tersebut. Hal yang paling penting yang tidak didapat dalam permainan modern sekarang adalah aspek sosialitas. Permainan tradisional selalu membutuhkan teman hidup dalam memainkannya. Di sinilah anak-anak belajar berteman, belajar jujur, belajar sportif, bergerak, berlari, dan tertawa bersama. Jauh lebih “bermain” dibandingkan permainan anak-anak sekarang yang tidak mau diganggu teman. Mereka sendiri menjulukinya sebagai permainan orang-orang individualis karena memang bermain sendirian dalam dunianya.

Bahkan Munif Chatib sekalipunpun, seorang pakar multiple intelligences, menganjurkan guru-guru dan orang tua mengajarkan kembali permainan tradisional. Permainan-permainan ini disamping mempunyai pendidikan akan kearifan local bangsa juga mengandung pendidikan karakter yang penerapannya secara langsung dilakukan oleh anak-anak. Disadari atau tidak, permainan-permainan ini sudah memberitahukan pembelajaran kecerdasan majemuk pada anak-anak. Semisal permainan tali atau main yeye untuk urang Sunda, melatih anak berolah raga lompat tinggi. Dengan permainan ini guru bisa mengajak si cerdas kinestetik belajar dan bermain.

Meskipun sudah sangat tua diciptakan oleh nenek moyang kita berdasarkan jati diri bangsa, ternyata permainan tradisional tetap memiliki peran edukasi bagi proses belajar anak-anak. Secara alamiah permainan tradisional mampu menstimulasi berbagai aspek-aspek perkembangan anak yaitu: motorik, kognitif, emosi, bahasa, sosial, spiritual, ekologis, dan nilai-nilai/moral.

Sebenarnya, sudah banyak guru kreatif menyampaikan pembelajarannya dengan menggunakan permainan tradisional sebagai inovasi pada media pembelajaran. Media pembelajaran bukan hal sepele, karena menjadi factor penentu berhasil tidaknya guru menyampaikan suatu nilai. Guru-guru ini menggabungkan kesederhanaan permainan tradisional dengan kecanggihan tekhnologi yang ada. Artinya kita masih punya waktu untuk menghadirkan permainan-permainan tradisional untuk anak-anak kita.Tinggal keputusan ada pada orang tua, sekolah dan guru. Akankah anak-anak kembali diperkenalkan pada permainan-permainan tradisional ini ?

Ketika saya berkunjung ke Pesantren Al Ittifaq Ciwidey beberapa waktu lalu, saya sempat menyaksikan anak-anak yang tergabung ke dalam OSIS menggelar pameran kecil-kecilan untuk permainan tradisional ini. Ada permainan congklak, angklung, dan engrang. Menurut salah seorang pengurus, permainan tradisional tidak boleh hilang karena nenek moyang kita mewariskannya untuk anak-anak Indonesia. Bermain dengannya akan menambah keakraban, dan melatih percaya diri dan sportifitas.

Walaupun dengan cara yang sederhana namun mereka sudah menyampaikan bahwa permainan-permainan ini masih mereka kenal.

  

Kearifan Lokal dan Pendidikan Karakter pada Permainan Tradisional

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s