Liburan edukatif ke Jakarta Book Fair

 

Hari ini hari terakhir Book Fair di Istora Senayan, dan syukurlah anak-anak dengan senang hati mau berangkat bersama saya di hari liburnya. Mereka memang sudah terbiasa saya ajak ke pesta buku yang biasanya setiap tahun ada dua event book fair.

134113840672254848

Jakarta pagi ini lancar. Satu jam perjalanan dari Bekasi, ternyata di depan Senayan jalanan ditutup sehubungan dengan jadwal kampanye Jokowi – Ahok. Anak-anak menyempatkan diri berfose dulu di depan spanduk Jokowi dan Ahok. Lalu mereka bertanya, “Mengapa Jakarta sepi?”,  Hehe, memang kami jarang-jarang melihat Jakarta lengang begini.

13411387951425211550

Kelengangan ini memang sehubungan dengan adanya kegiatan kampanye.

1341139319678222635

Hari hampir pukul sebelas siang, namun di hari terakhirnya saya melihat pameran buku ini masih sepi. Syukurlah, artinya kami masih bisa leluasa berkeliling tanpa harus berdesak-desakan dengan pengunjung yang lain.

Di depan pintu masuk, kami sudah ditawari untuk ikut kuis dari Rajamall. Bukan kuisnya yang menarik buat saya, tapi sekedar memberikan pengalaman dan melatih keberanian melakukan hal-hal yang baru. Kalau adiknya sih sangat bersemangat, “nanti kalau Aa menang, BB nya buat aku ya..”

13411400921836195068

Zaidan memang sudah punya email sendiri, punya blog sendiri, dan ternyata dia mampu mengisi aplikasi online seperti itu. Oke deeh..

Lalu berburu bukupun dimulai. Anak-anak sangat antusias sama buku-buku yang berbau pengetahuan yang baru buat mereka.

13411406941118287597

1341140983364547704Di ajang pencarian buku ini, ternyata mereka mendiskusikan isi buku yang mereka baca dan membandingkannya dengan berita-berita yang mereka ketahui dari gurunya, dari internet atau dari TV. Inilah salah satu pemandangan favorit saya ketika mereka belajar dari hal-hal yang mereka peroleh lalu mendiskusikannya.

Biasanya, dalam setiap bookfair selalu ada acara talk show atau bedah buku. Kali ini sayapun antusias untuk mencarinya.

Alhamdulillah, sedang berlangsung bedah buku “Mama Aku Lulus”. Buku ini mengisahkan tentang perjuangan Disa, seorang anak autis yang akhirnya lulus sekolah setelah melewati masa perjuangan yang berat.

Dalam bedah buku ini pula dihadirkan psikolog yang menjelaskan bagaimana anak autis sebenarnya bisa menjadi “manusia biasa” sama dengan yang lain andai saja orang tua dan guru dapat dengan tepat mendidiknya.

13411414741863526859

Tanpa saya berikan keterangan berlebih, anak-anak saya manggut-manggut mendengar keterangan psikolog tersebut. Ooh… anak autis itu seperti itu ya?

Mereka lalu memberikan tepuk tangan pada setiap penampilan anak-anak istimewa tersebut yang sengaja dihadirkan sebagai pengisi acara. Pas sekali ! Saya lalu sisipkan pesan pada mereka bahwa anak-anak autis ini adalah anak-anak yang sama dengan mereka, perlu teman dan perlu kasihsayang. Mereka mempunyai keistimewaan. Jadi kalau punya teman seperti itu, tidak apa-apa, berteman saja sebisa yang kalian mampu.

Anak-anak tersenyum faham. Syukurlah.

Waktu makan siang tiba, kami naik ke kursi-kursi penonton. Buka bekel, lalu makan siang. Memang, karena dananya terbatas mereka saya berikan jatah Rp. 20.000 untuk beli buku dan Rp. 15.000 untuk makan siang. Kalau makan siang bawa dari rumah, maka uang  jatah mereka menjadi Rp. 35.000.

1341141740879421225

Keliling book fair memang tidak harus beli buku. Apalagi dengan keterbatasan dana seperti kami ini. Sekedar lihat-lihat, baca-baca yang menarik hati, atau cari buku yang diskonnya besar-besaran terutama di hari terakhir ini.

Di setiap sudut tentu saja akan banyak penawaran menggiurkan dari para pemasar akan buku-bukunya yang luar biasa. Biasanya untuk ensiklopedi atau buku-buku mahal yang sering memberikan uji coba, anak-anak saya beri pengertian terlebih dahulu bahwa kita hanya melihat-lihat dan mencoba saja, bukan untuk membeli. Tapi kadang-kdang jika saya khawatir tidak bisa melepaskan diri dari jeratan para penjaja ini, maka saya akan berkata, “terima kasih mba, lain kali saja “.

Perjalanan berlanjut, kali ini ke lapak buku-buku lama. Waow…”Ini buku waktu ibu kecil, A”. Saya jadi berbinar-binar sendiri jika menemukan buku-buku zaman saya kecil yang masih ditemukan di sini. Jadi bernostalgia.

13411422541348056447

13411424841488518186

13411426341711018746                                 “Buku Ajahku”, karangan H.A.M.K.A

Demikianlah laporan singkat saya memberikannya pengalaman piknik ke Book Fair. Suatu kebiasaan yang saya ingin mereka lakukan di masa-masa remajanya kelak. Suatu kebiasaan yang akan membuat mereka faham bahwa buku adalah catatan penting kehidupan manusia. Dengan membaca buku, kita turut  tahu bagaimana manusia berkebudayaan dan berfikir.

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s