Wisata Budaya Candi Cangkuang dan Kampung Pulo : Sepaket Perlu Pembenahan

 

Akhir pekan kemarin berkesempatan menemani anak-anak kelas dua belas mengunjungi Candi Cangkuang di Garut.

1337131663734888228

rakit-rakit yang siap mengantar ke Candi Cangkuang

13371317582135189744

di atas rakit menuju Cangkuang

13371318701339155036

13371562361177940804

Candi Cangkuang

Ternyata, untuk bisa masuk ke situs Candi Cangkuang, pengunjung harus melewati Situ Cangkuang dengan menggunakan getek. Getek ini adalah rakit yang bisa mengangkut hingga duapuluh orang sekali angkut.

Situ Cangkuang tidak terlalu besar, sehingga waktu menggunaan getek hanya memakan lima menit perjalanan.

Nama Candi Cangkuang disesuaikan dengan nama desa dimana candi itu ditemukan. Desa Cangkuang berasal dari nama pohon Cangkuang, sejenis pohon Pandan  yang banyak terdapat disekitar makam Embah Dalem Arif Muhammad. Daun cangkuang dimanfaatkan warga Cangkuang untuk membuat tudung, tikar atau pembungkus gula aren. Embah Dalem Arif Muhammad dikenal sebagai tokoh yang memimpin masyarakat setempat  membendung daerah ini, sehingga terjadi sebuah danau. Danau itulah yang dikenal dengan nama “Situ Cangkuang”.

Kampung Pulo

13371320421136573506

Rumah Adat di Kampung Pulo

13371321821160999753

salah satu rumah di Kampung Pulo

Desa Cangkuang ini menyerupai sebuah pulau yang dikelilingi Situ Cangkuang. Di dalam desa ini pula terdapat pula sebuah perkampungan yang tetap dijaga keberadaannya menurut adat setempat.

Kampung Pulo merupakan sebuah kampung kecil yang terdiri dari enam buah rumah dan kepala keluarga. Ketentuan adat ini harus ditepati. Tidak boleh bertambah atau berkurang. Persis seperti cerita tentang Baduy. Sebagian besar dari penduduk Kampung Pulo tersebut bermata pencaharian petani dengan tanah sendiri, dan sebagian lagi sebagai petani penggarap tanah orang lain. Penduduk yang menempati kampung ini merupakan penduduk keturunan ke tujuh dari Eyang Dalem Arif Muhammad. Dulu, masyarakat Kampung Pulo beragama Hindu. Secara perlahan, kedatangan Embah Dalem Arif Muhammad berhasil menyebarkan Agama Islam di Kampung Pulo ini.

Secara keseluruhan, keberadaan Desa Cangkuang sangat menarik karena lokasinya di tengah situ.  Candi Cangkuang sendiri terletak di daratan yang tingggi, sehingga tampak indah dari kejauhan. Konon kalau pagi hari Desa Cangkuang ini sangat indah di antara sinar matahari yang menembus pepohonan dan kabut yang masih tebal menyelimuti candi. Di sebelah candi Cangkuang terdapat makam Embah Dalem Arif Muhammad.

Wisata Cangkuang Perlu Pembenahan

Sebenarnya, banyak daya tarik yang bisa diciptakan Desa Cangkuang karena Desa ini mempunyai seperangkat potensi wisata. Sebut saja:

    • Candi Cangkuang
    • Kampung Pulo
    • Makam Embah Dalem Arif Muhammad
    • Situ Cangkuang

namun keberadaan seperangkat potensi ini belum dapat dikatakan maksimal sebagai  sebuah cagar budaya yang dijaga baik. Harus mendapat perhatian lebih dari dinas pariwisata setempat. Semisal saja:

    • Ketika pengunjung mulai memasuki pintu gerbang, sudah terdapat pemandangan tidak elok : keberadaan pengemis. Entah, pengemis-pengemis ini stay setiap hari atau hanya pada waktu-waktu tertentu. Tapi jelas jadi menurunkan keindahannya.
    • Danau atau Situ Cangkuang ini sangat menarik pengunjung. Namun di beberapa bagian mulai mengalami pendangkalan. Padahal di ujung sebelah kanan ketika pengunjung mulai masuk Situ, terlihat ratusan bunga teratai yang sangat indah. Jika bunga-bunga ini dipelihara dari sampah-sampah pasti akan lebih indah terlihat.
    • Ketika pengunjung mulai berjalan memasuki kawasan cagar budaya Kampung Pulo, di sepanjang jalan setapak ini ternyata dipenuhi oleh pedagang-pedagang yang menawarkan makanan maupun souvenir. Karena lokasinya yang tidak terlalu besar, sebaiknya pedagang ini ditempatkan di luar Pulau Cangkuang saja agar nuansa budaya kampung pulo yang sangat tradisional tidak ternoda oleh “dunia luar”.
    • Saya hampir salah wisata. Maksud hati melihat-lihat Kampung Pulo dan Makam embah Dalem, apa daya saya masuk ke pemakaman umum. Saya tidak mendapat penjelasan banyak mengapa ada pemakaman umum di cagar budaya candi cangkuang ?

1337132346235142299

di ujung situ cangkuang, terdapat padma yang indah

13371324621754840452

pendangkalan situ bisa menjadi sarang sampah

 

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s