Ramai-Ramai Membeli Tanah Makam

 

Kami sedang membicarakan masalah tanah kuburan yang selalu digali dan diganti oleh petugas makam karena tidak terurus. Tidak terurus yang dimaksud tentunya karena sudah lama sanak saudaranya tidak datang menengok makam tersebut. Kita memaklumi perlakuan tersebut dengan alasan terbatasnya lahan yang dipakai untuk pemakaman.

Karena itulah, kemudian perbincangan merembet kepada minat beberapa orang rekan kerja untuk membeli tanah satu kali dua meter tersebut. Ditambah lagi, beberapa rekan kerja yang lain memang sudah mengkapling tanah untuk mengubur dirinya sendiri. Iih.. mengerikan ya, masih hidup sudah membicarakan di mana akan dikubur ?

Tapi itulah gambaran kenyataan yang tak bisa dihindari, bahwa kita memang harus menyiapkan tempat di mana kita akan dikubur. Tentunya terlepas dari masalah kita akan meninggal di mana dan dengan cara bagaimana. Orang-orang terkena musibah tsunami, misalnya, walaupun sudah membeli tanah untuk pemakaman dirinya, dia tidak akan menempatinya kalau bencananya semodel ini.

Di tempat saya tinggal membeli tanah kuburan memang belum lazim, bahkan bisa dikatakan tidak ada. Hal yang pasti menjadi penyebabnya adalah karena belum ada pihak pengembang (apa ya istilahnya?) atau pengusaha tanah pemakaman di sekitar tempat tinggal saya yang mulai menjual tanah untuk kapling kuburan. Di beberapa kota semisal Jakarta da Depok sudah kaplingan ini sudah mulai ramai dipesan. Kalau mengikuti trend tersebut, sepertinya sebentar lagi akan ada beberapa orang yang mulai tertarik merambah ke bisnis ini.

Menjadi suatu bisnis karena memang dalam mengelolanya dibutuhkan beberapa sumber daya. Sumber daya yang dimaksud adalah manusia dan tanah. Orang-orang yang dipekerjakan dalam bisnis ini bisa saja seorang manajer pemasaran kuburan dan orang-orang penggali kuburan. Mereka tentu saja memerlukan upah sebagai balas jasa dalam bekerja. Sumber daya berikutnya adalah tanah. Berhubung tanah susah dicari, maka bisa dipastikan tanah pemakaman akan sulit dicari. Pengembang memerlukan luas yang memang masih mumpuni untuk menampung lebih banyak makam. Beberapa warga sudah pasti akan menolak kehadiran kompleks makam di dekat pemukiman mereka, maka sebaiknya kapling kuburan ini letaknya tidak begitu dekat dengan tempat tinggal warga.

Baru dua sumber daya saja sudah kompleks. Apalagi kalau kita membayangkan pemakaman  mewah di Sandiego Hills sana. Lima puluhan juta untuk kapling yang dekat dengan toilet. Harga semakin melangit jika tanah yang ditawarkan semakin seksi. Semisal, di atas bukit. Konon harganya bisa sampai satu milyar. Woow.. untuk mati saja mahal bener ya…

Perbincangan kami menjadi semakin luas, apa manfaatnya makam dekat toilet ? Memang si jenazah akan perlu ke toilet ? Atau, enak kali ya kalau di surga sana sambil melihat pemandangan dari atas bukit ? Tentunya ini obrolan ringan sambil nyeruput kopi.

Kalau sudah terkait dengan entertaint dari makam itu sendiri, semisal dekat dengan toilet atau di atas bukit, tentu yang dimaksud adalah manfaat untuk sanak saudara yang akan berziarah. Barangkali efek tamasya dan kepraktisan pengunjung sekaligus disertakan dalam ziarah kubur ini.

Terlepas dari bisnis kuburan ini, ada baiknya kita memang siap sedia membelinya. Tujuannya agar ketika kita tutup usia, sanak saudara tidak perlu lagi bingung kemana harus mengubur jasad kita. Bahkan kita bisa pesan tanah makam untuk pasangan atau orang-orang lain yang dekat dengan kita. Bukan mendoakan agar kita cepat meninggal, namun ketika kita meninggal hal-hal seperti ini bukan lagi menjadi perdebatan dan tidak merepotkan. wallahualam bisshowab.

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s