Menyiasati Liburan Panjang yang Membosankan

 

Hari ini anak-anak kelas tiga SMA di sekolah saya datang ke sekolah setelah libur sejak UN beberapa pekan lalu. Semuanya terlihat sumringah dan segar, seolah-olah merasa sangat senang bisa keluar dari rumah. Liburan ini menjadi sangat panjang, karena pengumuman hasil UN akan berlangsung akhir bulan Mei ini. Sementara itu, aktivitas belajar di sekolah sudah tidak ada lagi.

Dan memang, anak-anak ini lalu bercerita betapa membosankannya liburan di rumah. Padahal, dulu ketika sekolah masih efektif, inginnya sering-sering liburan karena bosan dengan aktifitas di sekolah yang memang fullday. Cerita mereka lalu seputar kesendirian di rumah, karena kedua orang tuanya bekerja. Lalu merambah kepada aktivitas harian yang sangat membosankan semisal pagi-pagi harus menyapu, mengepel rumah, cuci piring, makan, tidur, makan lagi, tidur lagi…hidup ini betul-betul flat, kata mereka.

Beberapa orang juga menceritakan tentang nobar yang dilakukan bersama-sama di sebuah mall, namun hanya boleh sesekali. Tentu saja, kegiatan ini kan membutuhkan banyak uang, sementara anak-anak mengaku tidak diberi jajan selama libur.

Hmmm.. pantas, libur menjadi sangat menjemukan ya ?

Sayapun pernah merasakan hal yang sama ketika menjelang kelulusan SMA dulu kala, sementara kuliahpun biasanya berlangsung sekitar Agustus atau September. Wow kan ?

Saya pernah punya teman yang justru di pekan-pekan libur itu disuruh pergi oleh ibunya ke banyak tempat. Dibekali uang sekian rupiah, menurut saya waktu itu sih nominalnya tidak banyak, dan diminta laporan kegiatannya di akhir pekan. Lalu dia mengajak saya bergabung, namun dengan tentu saja saya mengajukan syarat, yang penting tidak mengeluarkan uang banyak. Akhirnya yang kami lakukan adalah jalan kaki menyusuri tempat-tempat yang kami tuju. Semisal, karena tinggal di Bogor pada saat itu, hari Senin kami menyepakati pergi baca buku di Gramedia. Tentu saja, masih sama dengan model Gramedia sekarang yang tetap wellcome menampung pembaca gratisan. Hari Selasa, kami main ke Perpustakaan Umum kota Bogor. Hari Rabu di rumah. Hari Kamis berenang. Hari Jumat ke rumah teman yang lain. Hari Sabtu janjian ke Curug luhur. Hari Minggu di rumah. Pekan berikutnya nyusun jadwal baru lagi…

Saya melihat cara kami waktu itu boleh juga ya ditiru oleh anak-anak yang sedang mengisi liburannya di rumah.  Apalagi pilihan sekarang lebih bervariasi dibanding saya dulu. Setelah saya ajak bicara, mereka lalu mulai berunding memberikan alternatif yang menurut saya juga menarik.

Anak-anak ini mulai diskusi tentang pergi ke UI naik kereta, untuk sekedar berkeliling mengumpulkan informasi. Lalu hari berikutnya pergi ke Kota Tua, juga naik kereta biar murah meriah. Hari berikutnya di rumah, tentu saja dengan agak sedikit kecewa karena masih harus mengikuti bimbel di beberapa hari dalam sepekan. Tapi minimal cara ini bisa memberikan mereka pengalaman baru dengan biaya murah dan menghilangkan rasa bosan dengan mengisi liburan hanya di depan laptop seharian.

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s