Makanan Berpengawet di Sekeliling Anak-anak Kita

 

Tumben kemarin Mang Udin penjual bubur kacang ijo di depan gang rumah saya ga jualan. Atau mungkin saya datangnya terlambat ya ke sana ?

Biasanya, sambil berangkat kerja, saya membeli bubur ini untuk si kecil Alisha. Alisha suka sama bubur Mang Udin ini. Memang sejak Alisha suka, saya jadi ikutan suka. Pasalnya bubur ini punya rasa gula asli. Mang Udin juga ramah, Alisha dalma gendongan saya suka malu-malu kalau digodain Mang Udin.

Nah, karena Mang Udin tidak tampak batang hidungnya, akhirnya Alisha saya belikan bubur kacang ijo di depan sekolah. Beberapa ibu sambil menggendong anakpun turut dalam antrian. Rupanya banyak juga penggemar bubur si abang yang satu ini. Saya beli dua porsi, untuk Alisha dan satunya untuk saya tentu saja.

Di sekolah, mumpung hangat, saya langsung menyantap bubur. Tapi, ternyata rasanya pahit. Beda sekali sama bubur Mang Udin. Saya yakin sekali, bubur ini pasti ditambahkan pemanis buatan. Waduh. Saya langsung telepon pengasuhnya untuk memberitahukan agar buburnya jangan diberikan sama Alisha. Terlambat, buburnya sudah habis. Halah…

Beberapa waktu lalupun saya membeli bubur sumsum dengan kuah gula merah. Cerobohnya saya, saya tidak mencoba dulu memakannya. Saya masih teringat bubur sumsum jaman saya kecil selalu enak dengan kuah gula jawa asli. Ternyata, kuah yang ini juga pahit. Dan Alisha kecil sudah terlanjur memakannya.

Waah.. makanan apa ya yang sekarang masih asli tidak berpengawet atau berpemanis buatan ya ? Saya merasa anak-anak sudah terlalu banyak mengonsumsi makanan-makanan mengandung zat-zat seperti ini. Walaupun memang masih ada toleransi untuk dikonsumsi, tetapi apakah kita bisa menjamin kadar yang masuk ke dalam tubuh anak-anak kita masih di bawah ambang batas tersebut ?

Pagi ini saya menyaksikan pemandangan sama, ketika banyak ibu kembali mengerubuti tukang bubur di depan sekolah dengan bayi-bayi dalam gendongannya.

Ini baru dua jenis makanan, bagaimana dengan makanan lain yang juga dikonsumsi anak-anak kita? Konon bubur ayampun diberikan sedikit gendar agar tidak mudah berair. Kadang malah kita mengonsumsinya bareng dengan anak-anak kita di tukang bubur pinggir jalan. Harusnya timbal-timbal dan polutan dari udara kotor bisa terlihat ya, agar kita waspada di mana kita harus mengajak si kecil makan.

Di banyak kejadian memang keegoisan dan kelalaian orang tua sangat membahayakan kesehatan anak-anaknya sendiri.

Mudah-mudahan saya juga terbelajarkan untuk waspada pada hal-hal seperti ini. Kalau membeli makanan atau minuman yang akan dikonsumsi anak-anak kita, sebaiknya kita mencobanya terlebih dahulu. Jika rasa dan warnanya mencurigakan, sebaiknya tidak usah kita berikan sama bayi-bayi kita. Yang paling aman memang kita membuat sendiri panganan untuk si kecil dengan bahan-bahan yang berkualitas baik sehingga bisa mengurangi resiko konsumsi zat-zat berbahaya untuk si buah hati.

Salam cinta untuk anak-anak kita semua …

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s