Gara-gara Wacana, UN B.Indonesia jadi “Susah”

Setiap hari selepas UN saya selalu memberkan pertanyaan kepada anak saya, “bagaimana ujiannya, A?”

Selalu saja jawabannya “Gampang”.  Syukurlah..

“Tapi bahasa Indonesia panjang-panjang banget soalnya”, tiba-tiba dia melanjutkan komentarnya.

Oohhhh.. saya sih sudah tidak heran akan soal-soal bahasa Indonesia jaman sekarang. Saya teringat akan rekan guru yang juga mengajar bahasa Indonesia. Ketika UN SMA kemarin , keluhannya juga sama dengan UN UN tahun sebelumnya,  kenapa ya banyak sekali soal-soal cerita yang panjang-panjang?

Ketika saya mengawas UN beberapa waktu lalu, anak-anak peserta UN SMA  juga spontan saja memberi komentar ketika mereka dapati soal ujiannya sangat tebal…”Busyeet nih soal”.

Kalau saya tanya pada rekan guru bahasa, soal-soal sekarang lebih mengacu pada pemahaman bacaan yang dikemas dalam bentuk cerita atau penggalan berita dari koran.Yang dipertanyakan juga seputar inti kalimat, perwatakan, atau amanat dalam cerita tersebut. Untuk menentukan kata baku atau tidakpun soalnya dalam bentuk cerita panjang. Belum lagi soal resensi atau essai yang juga dalam kisah nan membosankan dalam sebuah bacaan panjang jugaaaaa. Wow.

Untuk tahun ini barusan saya diperlihatkan soalnya, dan halah.. lebih dari 20 wacana dalam soal bahasa Indonesia SMA.

Menurut saya,  bahasa Indonesia lebih memerlukan praktik menulis, terutama menyangkut kebijakan baru tentang kewajiban menulis karya ilmiah. Di SMA,  mungkin juga sudah mula efektif dilaksanakan di SMP, penulisan karya ilmiah harus sudah dicoba agar anak-anak terbiasa melakukannya. Bahkan di SMA, anak-anak belum mampu bagaimana menulis kreatif atau menulis popular yang tidak terlalu berEYD, apalagi yang harus ilmiah dengan tata bahasa baku.

Ketika anak-anak sekolah saya harus membuat karya tulis yang memang diadakan setiap tahun di awal kelas 12, saya mendapati mereka tidak bisa mengembangkan kata-kata hingga menjadi kalimat bermakna. Walhasil yang mereka lakukan biasanya adalah copas dari sumber yang mereka dapat. Tentu praktik ini sebenarnya akan terbaca karena ketidaknyambungan isi bahasan antaralinea akan terlihat jelas. Apalagi ketika mereka harus membuat kesimpulan dari penelitian yang mereka buat sendiri.

Semisal jika untuk anak SMA dimaklumi, bagaimana pula ceritanya jika anak SD pun harus mendapat soal dalam bentuk wacana  panjang serupa ?

Seharusnya, pembuat soal melihat karakteristik anak-anak SD ya. Kalaupun soal seperti ini harus ada, jumlahnya juga seharusnya disesuaikan.  Dari bentuk soal saja, soal-soal seperti ini sudah menimbulkan perasaan malas dan enggan untuk membaca apalagi untuk mencari jawaban yang benarnya ?

Menjadi tantangan juga bagi guru bahasa Indonesia untuk mampu membuat soal-soal panjang tersebut lebih familiar bagi anak-anak sekolah, dari tingkat SD hingga SMA.

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s