Buruh juga Manusia

 

 

Sebelum jadi guru, saya pernah loh jadi buruh pabrik, sambil menunggu lamaran di sekolah ada tanggapan. Jadi kurang lebih saya juga pernah merasakan bagaimana nasib menjadi seorang buruh.

Dengan berbekal ijazah SMA, saya melamar di sebuah pabrik di Bekasi. Letaknya di pinggir Kalimalang, bukan di Kawasan Industri. Pada saat saya melamar, ternyata saya bersama beberapa orang yang juga mencari pekerjaan. Bekal ijazah saya pada saat itu adalah S1. Tentu saja saya berharap tidak menjadi bagian operator. Namun menurut bagian personalia, jika prestasi saya baik, maka jenjang karirpun bisa meningkat. Karena tidak ada posisi yang tepat untuk sarjana, maka saya ditawari menjadi QC (Quality Control).

Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya saya terima juga tawaran tersebut. Beberapa teman yang melamar bareng saya ada yang diterima sebagai tukang jahit, dan bahkan ada yang tidak keterima. Kebanyakan dari mereka hanya lulusan SD atau SMP. Saya tidak terlalu faham, apakah syarat-syarat yang diberikan kepada calon buruh untuk semua orang sama atau tidak. Sebagai pabrik di luar kawasan industri, saya memang agak mencurigai pola penerimaannya. Tentu saja, jika ada orang dalam siapapun bisa masuk bekerja. Jika tidak kenal siapapun maka masuk kerja di pabrik adalah hal yang sama susahnya dengan bekerjanya itu sendiri.

Sekarang, anak-anak murid saya memanggil mbak-mbak buruh pabrik dengan sebutan mbak-mbak PT. Nah, ketika saya jadi mbak-mbak PT tersebut saya jadi merasakan bagaimana hidup dalam kerangkeng. Bedanya, kerangkeng yang ini dapat upah. Kenapa saya sebut kerangkeng ? Bayangkan saja, pukul tujuh tepat bel berbunyi nyaring menandakan kerangkeng dibuka. Serem bener ya ? Siapapun yang terlambat maka dia tidak boleh masuk. Tidak masuk berarti mengundurkan diri. Wow.

Istirahat siang tentu yang muslim akan pergi sholat, belum lagi plus mencari makan siang. Sebagai orang yang merasa faham akan kesehatan dan tanggungjawab untuk tepat waktu, saya membawa bekal dari rumah. Kalau tidak begitu, saya akan ikut antri bersama ratusan mbak-mbak dan mas-mas PT lainnya untuk sekedar antri mie ayam, bakso atau nasi warteg. Tentu saya merasa harus istirahat lebih banyak daripada antri seperti itu. Pasalnya, jadi QC walaupun lebih terhormat dari pada jadi operator mesin jahit, ternyata kerjanya super keras. Kami harus berdiri seharian. Plis deh, seharian full. Belum lagi kalau ada ekspor yang memaksa kami harus lembur hingga larut malam bahkan sampai pagi, masih dengan berdiri !

Punya hasrat ke toilet ? Boleh kok.. tapi diberi waktu sangat sedikit. Alasannya, pabrik dikejar target. Maka, sudah sangat yakin tidak ada buruh yang bisa bersantai-santai sekedar meregangkan kaki yang seharian dipakai berdiri. Belum lagi bentakan-bentakan dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata, tapi saya yakin para mbak-mbak dan mas-mas PT di sini paham benar bahwa para atasan sedang marah-marah.

Mungkin itulah pilihan yang harus diterima para buruh ini. Saya yakin benar bahwa ini adalahh pilihan. Jika mau begini, silahkan terus begini, dan jika tidak mau begini, ya jangan jadi buruh pabrik. Itu pulalah rupanya yang dijadikan alasan bagi onyi-onyi (panggilan untuk kakak  perempuan dalam bahasa  Korea, entah menulisnya harus bagaimana, karena memang pemilik pabrik adalah orang sana) pengawas pabrik untuk langsung mengeluarkan peserta yang tidak masuk kerja. Bayangkan, berapa banyak orang yang dalam kondisi sakitpun harus bekerja. Bahkan ada seorang QC sedang hamilpun harus tetap berdiri. Luar biasa nih para pemilik pabrik!

Pernah sekali ada kabar bahwa seorang anggota keluarga buruh meninggal dunia di kampung sana, akhirnya dia terpaksa pulang. Sampai di pabrik beberapa hari kemudian ternyata namanya sudah didelete.

Yang paling parah menurut saya adalah waktu sholat mbak-mbak dan mas-mas PT ini juga dimenitin. Berkali-kali si onyi bakal memukul-mukulkan tongkat ke dinding mushola yang juga berada di wilayah dalam pabrik untuk mengingatkan waktu shalat jangan lama-lama. Tobat deh nih pabrik lebih menyiksa daripada penjaranya para koruptor !

Jadi, saya merasa sangat mempunyai semangat membela kaum buruh yang disiksa seperti ini di negerinya sendiri. Andai saja saya terus bekerja sebagai buruh, mungkin saja saya sudah jadi buruh pemimpin demo untuk mayday besok hari. Namun apa daya, saya tidak kuat menanggung beban mental dijajah para pemilik pabrik yang menurut saya tidak manusiawi. Saya memilih jadi guru dan berkata pada anak-anak didik saya, jangan mau jadi buruh ! Lebih baik ciptakan lapangan kerja sendiri, kalau perlu belilah pabrik-pabrik itu sama kalian. Biarkan kalian yang menjadi tuan rumah di negeri kalian sendiri, dan perlakukan buruh sebagaimana kalian memperlakukan diri kalian sendiri.

Ini pengalaman sekitar sebelas tahun yang lalu. Mudah-mudahan kaum buruh sekarang lebih mampu bekerja secara manusiawi dan diperhatikan hajat hidupnya.

Selamat Hari Buruh.

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s