Perempuan ini, Lebih dari Sekedar Kartini

 

Aku menatap lekat raut mukanya. Kerutan di mana-mana. Namun senyumnya itu loh, membuatnya tetap awet muda buat aku. Selalu membuat aku rindu. “Apa kabar Mak?”, aku menyalaminya. Lalu mencium kedua belah pipinya. Hari ini aku putuskan memperingati hari kartini dengan datang pada  emak. Sebuah kejutan buatnya.

Perempuan ini, seorang ibu yang mempunyai sembilan anak. Woow. Banyak bener. “Program KB dulu belum ada ya, Mak ?”, aku pernah menggurauinya. Aku sendiri anak ke enam.

“Program KB ga sukses,” tukasnya sambil tersenyum menatapku.

“Tumben datang sendiri ? Mana anak-anakmu?”, emak agak mencari-cari Galang, anakku yang gendut yang selalu kubawa ke rumah emak.

“Aku datang sendiri Mak, karena nanti siang aku harus sampai lagi di rumah “. Aku membimbingnya masuk ke dalam.

“Begini, emak menatap aku. Ada kabar gembira.”,

“Waaah… apa Mak ?”

“Ademu mau diwisuda bulan depan”.

“Waaah.. alhamdulillah.” Aku menatap emak bahagia. Tiba-tiba ada genangan air mata di sana.

“Kenapa Ma?”,

“Hutang emak sudah lunas pada bapakmu”, air matanya mulai meleleh.

Emak memang janda sejak duapuluh tahun yang lalu. Tanpa pekerjaan, hanya seorang ibu rumah tangga, kesembilan anaknya menjadi sarjana. bahkan empat diantaranya sudah melanjutkan sendiri program masternya. Tiga anaknya malah sekolah di luar negeri. Emak  tak diwarisi harta apapun, karena memang bapak bukan orang berada. Hanya seorang pekerja swasta yang menghabiskan sisa uasianya dengan menggarap sebidang warisan kakek.

Bapak hanya meninggalkan semangat perjuangan yang tinggi buat emak dan anak-anaknya. Bapak hanya orang yang berpesan bahwa harkat derajat harus diperjuangkan dengan tekad dan kemauan. Bapak juga yang berpesan bahwa perjuangan selalu penuh resiko tapi hasilnya pasti akan kita terima dengan menyenangkan.

Maka selama ini pulalah emak dan bapak selalu mendidik semua anak-anaknya dengan disiplin tinggi, terutama untuk sekolah. Dari sembilan anaknya, enam adalah perempuan. Semua sama, harus sekolah. Mimpi bapak sederhana, semua anaknya harus sarjana. Baik laki-laki atau perempuan.

Setelah bapak pergi, emaklah yang menjadi nakhkoda mengendalikan perahu dengan sembilan anaknya sendirian. Ketika anak pertama dan kedua sudah mulai bekerja, mereka yang membantu emak, begitu seterusnya. Hebat perempuan ini. Dia mampu memanaje kehidupan begitu teraturnya.

Tanpa pembantu, dia jadikan semua anaknya mandiri.

Puluhan tahun emak menjadi ibu warteg dengan bermodal pinjaman dari seorang kerabat. Dia memang wanita super. Kerja serabutan jadi tukang cuci hingga tukang kredit. Apapun dijalani.

Kini, setelah semua anaknya jadi sarjana…

Aku tahu apa yang dirasakan emak. Aku merangkulnya penuh cinta.

Perempuan ini lebih dari seorang kartini bagiku. Kartini hanya mampu memperjuangkan kesetaraan perempuan. Kartini tidak pernah selelah emak mengasuh sembilan anak dengan keterbatasan ekonomi. Emak bukan kartini, hanya seorang lulusan sekolah rakyat. Namun dia mampu mengantarkan anak-anaknya sekolah tinggi tanpa membedakan dia laki-laki atau perempuan dengan perjuangan fisik mencari nafkah.

Emak, perempuan ini lebih dari seorang kartini bagiku. Aku merangkulnya lebih erat.

 

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s