Mengapa Uang Lusuh Masih Beredar ?

 

Hari ini anak-anak mengumpulkan contoh uang lusuh yang masih beredar di masyarakat. Beberapa anak tidak menemukannya. Beberapa orang memintanya dari para pembantunya. Beberapa lagi menukarnya di tukang sayur dan pom bensin. Beberapa malah mendapatkannya dari kembalian bayar sewa angkot.

Uang yang dikumpulkan anak-anak beragam nominalnya. Yang pasti ini adalah uang kertas. Pecahan yang paling banyak ditemui adalah pecahan seribu rupiah. Dua ribuan hanya ada satu sample. Mungkin karena beredarnya masih belum lama, uang yang dipegang masyarakat kebanyakan kondisinya masih baik.

Sebagai alat tukar, uang memang harus diterima masyarakat. Tapi bagaimana kalau kondisinya lusuh begini ? Menurut penjelasan di BI kemarin ketika saya melakukan kunjungan, memang kondisi uang yang bisa dipakai oleh mayarakat memiliki derajat kelusuhan yang berbeda. Untuk level lecek biasa, masyarakat kadang tidak mempermasalahkan. Tinggal masukkan ke dompet degan rapi atau disetrika, kadang-kadang uang kertas lecek bisa kembali rapi.

Dalam contoh uang lusuh yang dibawa anak-anak ke kelas, ada selembar uang yang sudah distreples karena sobek. Namun ternyata uang ini masih beredar di tukang sayur. Beberapa uang ada yang dilakban. Uang inipun masih beredar. Uang lainnya yang lusuh dan rusak ini kemungkinan karena basah, terlipat, atau robek. Bahkan saya sendiri pernah mendapat uang dari ATM sebuah bank yang ditempel dengan jenis yang sama, sayangnya tempelan tersebut gambarnya tidak pas. Ga mau rugi, saya pun belanjakan uang pecahan 50 ribuan tersebut ke supermarket.

BI memang mengakui bahwa masyarakat masih menggunakan uang lusuh dalam transaksi pembayaran tunai. Uang lusuh  ini masih diminati karena memang masyarakat sendiri masih menerimanya sebagai alat transaksi. Ketiadaan uang lagi kemungkinan besar dijadikan alasan mereka untuk terus memakainya sebagai alat tukar. Padahal, ternyata setiap bulan BI sudah mengedarkan mobil kas keliling untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat menukarkan uang-uangnya yang tak lagi layak pakai. Kas keliling ini biasanya berada di tempat-tempat beredarnya uang, semisal pasar

Hal yang dimungkinkan menjadi penyebabnya juga adalah kurangnya sosialisasi kepada masyarakat. Sosialisasi terhadap bagaimana memperlakukan uang sebaiknya, dan ke mana harus menukarkan uang. Artinya, orang yang sering ke pasar mungkin saja tahu keberadaan kas keliling ini, namun bagaimana yang tidak ke pasar ? Semisal saya, hehe.. (jarangkepasar.com).

Saya mengusulkan kalau mobil kas keliling tersebut selain mangkal di pasar, tapi juga berkeliling ke tempat yang memang selalu berbeda dalam jangka waktu tertentu. Sederhana saja alasannya, agar program ini juga bisa dinikmati masyarakat di tempat lain.

Tempat yang juga efektif dikunjungi oleh BI untuk sosialisasi adalah sekolah. Mengingat materi uang ini memang dipelajari di sekolah, juga menjadi penting sebagai pengetahuan dalam memperlakukan uang dengan baik dan benar.

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s