Indahnya Bertukar Peran

 

Again ! Untuk kesekian kalinya Alisha memanggil saya Ayah.. Hadeuh.. memang si bungsu yang belum genap berusaia tiga tahun itu sedang senang-senangnya main rumah-rumahan. Biasanya ditemani Hanif yang usianya lima tahun. Hanif jadi bapak , Alisha jadi ibu.

Tapi kok manggil saya Ayah lagi .. saya kan ibunya. Lagi pula, siang ini dia tidak sedang main rumah-rumahan.

Bapaknya  mesem-mesem saja melihat tingkah Alisha. Akhirnya kami berdua terlibat percakapan  tentang panggilan baru Alisha buat saya Ayah barunya.

“Biar saja, dia sedang mencari jati diri”, ungkap Bapaknya. Waaw.. jati diri?

Jadi begini, kalau ditilik agak mendalam kasus ini. Boleh jadi juga Alisha akhirnya menukar panggilan buat saya, sehingga saya jadi ayah dan ayahnya jadi ibu. Pasalnya, memang kami suka bertukar peran. Sesuatu yang menurut kami tidak prinsipil dilakukan oleh sekedar gender.

Ayahnya Alisha senang memasak. Kata lain senang adalah hobby. Maka, karena anak kami empat dan kami tidak punya pembantu, jadilah saya sangat beruntung ketika suami saya menggantikan peran saya sebagai juru masak di dapur. Dengan begitu, saya bisa melakukan hal lain yang tidak dilakukan suami saya.Semisal, pagi-pagi sekali saya bangun lalu masak nasi sambil nyuci baju, cuci piring, nyapu, dan sebagainya. Setelah anak-anak bangun, saya mengurusi anak-anak untuk siap pergi sekolah. Pada saat itulah sang ayah jadi koki.

Kenapa tidak ? Tidak melanggar apapun kok. Buat saya, suami memasak itu bukan dosa dan juga bukan aib. Suka agak sebel kalau orang menganggap perempuan itu kerjanya di dapur. Soalnya saya ga jago masak. Kalau saya masak, suka awet..(jadi malu..). Tapi ga masalah kok buat suami saya, soalnya dia suka kesel juga  kalau harus nyetrika baju atau mandiin anak-anak. Tuhh kan ? Itulah gunanya saling melengkapi. Jangan bilang kalau suami ga boleh kerja apa-apa ya ..

Hai, kartini juga tidak memasak kali.. apalagi dia orang  kaya. Dilayani oleh para pembantunya (praduga).

Saya cuma mau bilang, sudah saatnya kita menyadari kodrat perempuan dan laki-laki yang sesungguhnya. Dan kodrat pasangan yang sama-sama memahami arti sebuah keluarga adalah saling mendukung, mehamani, dan membantu. Jadi, kalau perempuan tidak bisa masak, dia bukan menyalahi kodrat. Kalau saya membongkar mesin cuci juga bukan berarti menyalahi kodrat sebagai perempuan.

Saya percaya bahwa orang tua punya peran penting dalam sebuah keluarga. Dan peran itu utuh, bukan sesuatu yang bisa dibagi. Seperti halnya keinginan saya untuk tetap bekerja dan suami saya mendukung. Artinya, semua konsekuensi yang terjadi akibat keputusan yang disepakati bersama adalah tanggung jawab bersama. Maka, sudah sewajarnya kita kemudian saling bertukar peran pada saat-saat tertentu agar semua tujuan bersama tercapai. Hal seperti ini sama sekali ga ada hubungannya dengan emansipasi atau kodrat-kodratan .

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s