Pacar Virtual, Lebih Berbahayakah ?

 

 

Hari ini adalah hari pembagian rapor tengah semester. Seperti biasa, acaranya curhat-curhatan. Seorang ibu mengisahkan tentang anak perempuannya yang lebih aneh dari biasanya.  Anak ini memang pendiam, parasnya cantik. Temannya  tidak banyak, karena dia selalu terlihat bersama beberapa orang saja. Berangkat sekolah diantar ibunya, pulang naik mobil jemputan. Duduk di kelas x, kalau ingin jalan ke mall, dia akan minta diantar mamanya. Sungguh anak rumahan yang penurut.

Beberapa waktu lalu, HP anak ini disita guru karena digunakan pada saat KBM. Akhirnya HP ini diserahkan kepada saya selaku pembimbing akademiknya. Sebagai PA, saya bertugas layaknya wali kelas. Saya menanggungjawabi anak ini, termasuk atas segala yang dilakukannya di sekolah. Saya telpon ibunya agar memahami duduk masalahnya kenapa sampai HPnya tersita guru.

HP saya pegang, tapi saya tak berani buka. Anak-anak berpesan betul, “Bu, jangan langgar privasi saya!“.

Oke, ga masalah“, tapi panggilan tak terjawab sebanyak 11 kali. SMS ada 9 buah. Semuanya dari satu nama  : “Aa“.

Esok harinya, saya panggil anak ini, sebut saja Mira, jelas bukan nama sebenarnya. Mira saya ajak bicara perihal telepon genggamnya yang ada di saya. Saya bilang kalau HPnya tak akan saya kembalikan. Maksud saya, saya ingin lihat reaksi dia karena dengan disitanya HP dia tak bisa lagi berhubungan dengan si Aa. Saya yakin benar, yang dimaksud si Aa adalah pacarnya, karena dia anak pertama di keluarganya. Namun dengan santainya dia berkata bahwa tidak masalah kalau HP itu saya sita, karena dia masih bisa berhubungan dengan si Aa lewat dunia maya.

Oooh… begitu ya. Ternyata tidak masalah sama sekali. Akhirnya saya harus berfikir untuk mengorek lebih lanjut dari mulut Mira sendiri tentang pacarnya.

Selidik punya selidik, pacar Mira ini adalah seorang mahasiswa di lain pulau, nun jauh di sana. Dia kenal lewat chatting internet. Tidak pernah bertemu sejauh ini. Sudah berkenalan hampir satu tahun.

Saya jadi melongo. Cerita seperti ini ada di depan mata. Saya kira hanya kisah isapan jempol belaka yang hembuskan media agar lebih seru, plus dipoles dengan kisah-kisah kriminal lainnya di mana si anak perempuan ini lalu diajak kopdar dan kisahnya menjadi penculikan. Ah, seram. Tapi ternyata di ibu tahu masalah ini. Beliau merasa aman-aman saja, justru meraka berjauhan maka segala sesuatunya jadi tidak mungkin.

“Menurut ibu, apakah dia akan terus menerus berhubungan di dunia maya?”, saya bertanya. Si ibu diam. Dahinya mengernyit. Dia tahu maksud pertanyaan yang saya ajukan. Saya merasa, kalau orang lain saja bisa kok “diculik” pacarnya, kenapa dia tidak bisa?

Masalah culik menculik kan hanya pemutarbalikkan kata. Mana tahu si anak dan pacarnya memang telah memilih tempat untuk bertemu. Alih-alih melarikan diri dari dari pantauan orang tua, maka si anak merasa lebih senang diculik pacarnya.

Saya menyimpulkan sederhana, pacar virtual bisa lebih berbahaya karena dia tidak tampak. Komunikasi yang dilakukannya memang virtual, tapi apa daya jika anak gadis yang sedang beranjak dewasa lalu dipuja setinggi langit dan dibelai dengan rayuan kata-kata dalam pesan singkat di message facebook atau twitter dan dia tergoda. Apa yang bisa dilakukan orang tua kalau sudah begini. Maka akhirnya saya menyarankan satu hal saja yang saya nilai paling penting : perbaiki komunikasi dengan anak. Hal ini sepele, namun akan disesalkan jika tidak dilakukan segera.

Advertisements

2 thoughts on “Pacar Virtual, Lebih Berbahayakah ?

  1. maaf numpang comment bu!
    setelah saya baca-baca blog yang anda buat tentang “Pacar Virtual”
    apakah anda pernah mengalami yang nama nya pacaran jarak jauh atau bisa di bilang bahasa gaul nya longdistance..? Kenapa anda begitu berfikiran negative tentang cara gaya pacaran jarak jauh..? Maaf sebelum nya,kenapa saya comment blog anda..? “Karena saya pernah mengalamin yang nama nya “Pacar Virtual”. Kalau kita ngejalanin nya secara positif, kenapa ga? Dan tidak selama nya “Pacar Virtual” itu buruk… Justru dengan cara gaya “Pacar Virtual” kita bisa melihat kesetian dari diri kita sendiri… Dan tidak semudah itu untuk mempertahankan hubungan jarak jauh… Kenapa anda sangat berfikiran negative tentang gaya pacaran jarak jauh..? Apakah anda merasa di rugikan…?
    Terima kasih.

  2. Ow.. syukur deh jika yang Anda alami justru baik-baik saja.
    Memangnya kita harus selalu satu pendapat ya ? Anda punya pengalaman dan pendapat berbeda, tentunya sayapun punya pengalaman dari beberapa teman sehingga kemudian saya berpendapat berbeda.
    Menurut Anda, apakah saya harus tetap menganjurkan ?
    Saya memilih mengatakan pada ortu hal spt di atas, demi kebaikan anaknya, bukan buat saya, tentunya dengan alasan yg sudah dijelaskan dlm tulisan saya.
    anyway, trims sudah berkunjung..:)

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s