Jual Tanah untuk Pesta Pernikahan, Biasa di Sini !

 

Saya tinggal di perkampungan yang dekat dengan ibukota. Bahkan hingar bingarnya hampir sama  saja dengan Jakarta, karena kaum urban pekerja pabrik dari berbagai daerah datang ke sini.

Kondisi geografis dan sosiologis wilayah  ini memang berbeda dengan Jakarta. Masih berbau kampung karena masing dihiasi rindangnya pepohonan dan upaya mereka melestarikan budaya kampung mereka. Semisal, lulus SMP langsung dinikahkan. Upaya mengawinkanpun masih dengan kebiasaan-kebiasaan kampung sini. Misalnya, pesta dilaksanakan dua hari dua malam. Yang serunya, selalu keriaan ini dimeriahkan oleh hiburan-hiburan live tradisional semisal “topeng”, jaipong, sampai dangdutan atau beberapa masih suka nanggap layar tancep. Film yang diputar bervariasi, dari Barry Prima tempo doeloe hingga film remaja tahun duaribuan. Tergantung pesanan yang punya hajat.

Sebenarnya tidak tradisional-tradisional banget, karena pada saat dangdutan kadang si penyanyi lebih seksi goyangannya dari sekedar ngebor atau  goyang gergaji. Baju dan dandannannya lebih seksi dari Dewi Persikk.

Saya suka agak geli dengan surat undangan yang disebar orang-orang sini, di bagian turut mengundangnya kadang tertulis satu halaman penuh. Tergantung jabatan orang yang mengundang. Semakin keren, semakin panjang. Pernah saya melihat  surat undangannya  kepala desa malah satu setengah halaman isinya nama orang-orang yang turut mengundang. Luar biasa. Kadang saya bertanya dalam hati, beneran turut mengundang ga sih orang-orang ini ? Saya jadi membayangkan, sekelas menteri atau presiden, yang turut mengundangnya berapa banyak ya ? bisa dijadikan buku rasanya.

Yang hebat lagi, banyak dari para pemilik hajat  ternyata menjual tanah dulu untuk mengadakan pesta seperti ini. Sudah sangat lazim terdengar ketika keluarga si A menjual tanah untuk mengawinkan anaknya. Orang-orang pribumi asli memang selalu terdengar punya tanah warisan yang banyak. Beberapa menginvestasikannya dalam bentuk rumah kontrakan, beberapa bagian mungkin dibagikan untuk anak-anaknya atau bagian tertentu untuk jatah pesta pernikahan anak-anaknya. Namun, yang menyedihkan saya, jarang dari mereka yang sengaja menyimpan jatah untuk pendidikan.

Pendidikan masih tetap belum mendapatkan prioritas utama. Lulusan SMP saja bisa langsung dikawinkan oleh orang tuanya. Padahal jumlah sekolah yang ditemui sepanjang jalan sangat banyak. Beberapa yang melanjutkan ke jenjang SMA dan sederajat lebih memilih untuk menjadi buruh pabrik dibanding mencari pekerjaan yang lain. Pemahaman kewirausahaanpun masih rendah. Mereka tetap lebih memilih pabrik dibanding jadi pengusaha.

Entah kenapa, pabrik lebih memiliki pesona bagi masyarakat sini. Mungkin resiko tidak beruangnya lebih kecil dibandingkan menjadi wirausaha. Namun, seperti biasanya kaum pribumi, tetap kaum pendatang yang dinilai mempunyai tingkat motivasi survival lebih tinggi. Orang-orang pendatang sendiri lebih diminati di pabrik daripada orang-orang asli. Hal ini memang kadang menimbulkan kecemburuan yang luar biasa. Namun apa boleh buat, kaum pendatang inilah yang dinilai lebih ulet, rajin, pekerja keras, pantang menyerah.

koleksi kompasiana saya : http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2012/04/02/jual-tanah-untuk-pesta-pernikahan-itu-biasa-di-sini/

Advertisements

One thought on “Jual Tanah untuk Pesta Pernikahan, Biasa di Sini !

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s