Kebun Raya Bogor, Bukan Tempat Mesum

133258410312325590

Kebun Raya Bogor/Kompasiana (Fikria Hidayat/KOMPAS Images)

Pernah ke Kebun Raya Bogor? Tentu tidak lengkap kalau Anda berkunjung  ke Bogor namun tidak mampir ke ke tempat nan melegenda tersebut. Namun Kebun Raya Bogor dulu dan sekarang sama saja, hanya menyisakan oleh-oleh cerita “kemesuman ” semata.

Dua puluh tahunan yang lalu ketika saya masih duduk di bangku SMA di Kota Bogor dan tergolong masih sering berkunjung ke Kebun Raya Bogor, cerita mesum juga sudah ada. Di pojok-pojok tempat wisata tersebut sering terlihat dua insan memadu kasih berdua-dua. Berpegang-pegang tangan, belai membelai bahkan suap-suapan bak pengantin baru.

Pepohonan yang rindang, teduh, dan cenderung “gelap” memang seakan-akan mendukung suasana. Pernah suatu ketika saya mengantar ibu yang katanya sangat kangen dengan kesegaran kebun botani ini. Betapa kagetnya, ternyata di balik sebuah pohon yang sangat besar ada dua orang bermesraan (mohon maaf), saling berciuman. Malu sekali saya memergokinya. Ibu saya yang mulai sepuh tak henti-hentinya istighfar dan menyesali kejadian tersebut.

Cerita ini berulang ketika beberapa waktu lalu si sulung berstudi wisata ke Kebun Raya. Di sela-sela perjalanan ke rumah dia bercerita panjang lebar tentang kunjungannya tersebut. Dia senang sekali bisa melihat macam-macam binatang yang diawetkan di Museum Zoologi Bogor. Museum ini begitu menginspirasi anak saya.  Namun di akhir cerita dia agak malu-malu berkata, bahwa di Kebun Raya Bogor banyak orang pacaran, katanya.

Suatu pemandangan yang menurut saya seharusnya segera dibenahi oleh pengelolanya. Masalahnya, Kebun Raya Bogor dibutuhkan lebih untuk unsur pendidikan mengingat kebun ini lengkap memiliki banyak koleksi tumbuh-tumbuhan dari berbagai belahan dunia. Kebun ini juga menjadi rujukan penting  bagi orang-orang dalam dan luar negeri untuk belajar dan melakukan penelitian. Ribuan pelajar dan mahasiswa setiap tahunnya berdatangan ke Kebun Raya Bogor ini. Bayangkan,  Kebun Raya ini   memiliki koleksi  tanaman tropis dengan jenis tanaman lebih dari 20.000  yang tergolong dalam 6.000 spesies. Apalagi dekat dengan IPB yang mahasiswanyapun sering melakukan penelitian di sana. Lalu, apa jadinya jika tempat sepenting ini sangat lekat dengan  aura-aura mesum di setiap titiknya.

Kebun Raya Bogor Bukan Hanya Mesin Penghasil Uang

Kebun Raya Bogor akan sangat padat pengunjungnya di masa-masa liburan. Pada masa -masa ini ribuan orang akan memadati kebun nan sejuk ini. Mereka berdatangan dari berbagai daerah. Menjadi mesin penghasil uang yang lumayan. Harga tiket yang dijual masih tergolong murah, sehingga tidak heran kebun ini tetap menjadi tempat wisata rujukan bagi keluarga.

Namun masalahnya bukan lagi hanya semata bagaimana Kebun Raya Bogor mampu menjadi mesin penghasil uang buat Kota Bogor, namun bagaimana mesin penghasil uang yang sangat diperlukan dalam dunia pendidikan ini tetap dijaga keutuhan, kelestariannya, bahkan melepaskannya dari pemanfaatan untuk hal-hal negatif yang justru menjukkan perilaku anak muda yang memalukan.

Saya pribadi akan berfikir panjang terlebih dahulu untuk memilih KRB sebagai tempat berlibur. Tentu saya tidak mau anak-anak saya terjebak dalam tontonan gratisan di sana. Bagaimana saya menjelaskan pada anak-anak saya tentang hal-hal seperti itu ? Saya merasa sangat penting bagi Pemerintah Kota Bogor untuk  membenahi hal-hal seperti ini agar kita tidak kehilangan “Kebun Raya” yang sesungguhnya.

 

dari koleksi kompasianaku : http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/03/24/kebun-raya-bogor-bukan-tempat-mesum/

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s