Gaji Naik Terus, Guru Negeri Jangan Malas untuk Belajar

http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/18/gaji-naik-terus-guru-negeri-jangan-malas-untuk-belajar/

Dalam beberapa seminar  yang saya ikuti, kebanyakan dari peserta  adalah guru-guru muda . Seorang teman pernah membisiki saya “Itulah Bu, guru-guru negeri tuh pada males ikut-ikut seminar kayak gini. Padahal digratiskan untuk beberapa  orang oleh panitia, yang dateng cuma satu”.

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman juga menceritakan hal yang kurang lebih sama, bahwa banyak guru-guru terutama guru PNS tidak mempunyai semangat yang menyala-nyala untuk tetap belajar melalui seminar-seminar, pelatihan atau workshop. Kebanyakan mereka mungkin merasa sudah senior, sehingga merasa tidak perlu lagi belajar. Padahal, ketika mereka muda dan masih kuliah, ilmu yang didapat tentulah tidak sama dengan ilmu-ilmu zaman sekarang yang mementingkan faktor kekinian.

Jika mau mengajar, guru harus punya kemauan untuk belajar. Begitulah sebaiknya motto yang diusung setiap guru, sehingga guru benar-benar menjadi agen perubahan yang mumpuni, terutama untuk mengajar anak-anak didiknya agar turut menyeimbangkan diri menghadapi perubahan. Walaupun guru tidak mau berubah, akan tetapi dunia tetap berubah. Lantas, apalah artinya guru jika semuanya guru sejarah? Maksud saya, jika semua guru selalu mengabadikan masa lalu.

Sebenarnya, bukan hanya guru negeri saja yang terlihat malas belajar. Guru swastapun setali tiga uang. Pengelola beberapa yayasan pendidikan swastapun pernah mengeluhkan minimnya motivasi guru untuk mengejar ilmu tambahan dari seminar-seminar atau pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan kompetensi mereka. Seolah-olah guru sudah merasa cukup dengan kemampuannya yang sekarang mereka miliki.

Namun, kali ini  saya sangat ingin menyoroti tentang kinerja, etos kerja, dan tanggung jawab guru negeri yang notabene digaji dengan uang negara. Gaji inipun terus naik. Sesuai dengan PP No. 15 tahun 2012, gaji PNS golongan IA dengan masa  kerja o tahun saja sudah Rp. 1.260.000.-.  Gaji tersebut di luar tunjangan keluarga yang besarnya untuk istri / suami adalah 10 % dari gaji pokok, ditambah untuk anak 2 % dari gaji pokok. Tunjangan pangan sebesar nilai beras per 10 kg/orang. Belum lagi tunjangan jabatan dan struktural.

Karena selalu naik, maka jadi guru PNS adalah sebuah status yang diidam-idamkan banyak guru swasta apalagi honorer. Apalagi sudah jadi idiom umum bahwa guru negeri itu santai. Walaupun jumlah jam bisa banyak ataupun sedikit tapi tidak punya kewajiban untuk stay di sekolah setiap hati. Hal ini memungkinkan guru negeri merasa “agak longgar” untuk melakukan rutinitas di luar kantor. Padahal, sebagian guru swasta justru tetap harus tinggal di sekolah walaupun jamnya tidak penuh. Kesempatan jam kosong inilah yang kemudian bisa dipakai untuk menggali lagi ilmu untuk perbaikan proses pembelajarannya. Keadaan ini mungkin saja bervariatif. Buktinya tetap ada guru negeri yang rajin workshop dan guru swastapun masih banyak yang malas.

Namun mengerucut saja,  sudah saatnya guru negeri menjadi pemimpin dalam melakukan perubahan. Karena dari segi finansial mereka ini mendapat bayaran yang luar biasa besar dibanding guru swasta, sementara tidak semua guru bisa mendapatkan kesempatan itu.  Dari segi waktupun, guru negeri relatif lebih punya waktu luang yang banyak untuk berguru lagi. Janganlah malas untuk belajar kembali. Sudah sangat pantas kalau guru negeri keluar dari zona aman, nyaman, tentram dan damai. Cari kegiatan lain yang lebih profesional dan bertanggung jawab sebagai bentuk rasa syukur Anda menjadi pegawai negara!

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s