Manajemen Televisi

(http://sosbud.kompasiana.com/2012/02/02/manajemen-televisi/)

Seringkali orang tua tidak mampu berbuat banyak ketika sang buah hati tidak bisa melepaskan dari dari televisi. Suasana seperti ini sering kali ditemukan pada keluarga yang sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga agar kegiatannya tersebut tidak terganggu, orang tua menyerahkan anak pada layar kaca.

Banyaknya program yang tidak cocok untuk anak sekalipun tayangan tersebut berbentuk kartun sebaiknya mulai diwaspadai orang tua sebelum sang anak “ketagihan” . Bagaimanapun, tayangan local maupun bukan,baik sinetron, berita criminal , bahkan music sekalipun sering menampilkan suasana berbau kekerasan dan gaya hidup glamour yang tidak masuk akal. Hal ini dianggap memberikan dampak negative dan cenderung tidak mendidik, bahkan justru kerap menginspirasi orang-orang melakukan kejahatan.  Kalau kita amati betul, banyak kasus criminal cenderung mempunyai motif yang sama dengan kasus yang sebelumnya yang ditayangkan televise dalam berita. Para penjahat ini seakan terinspirasi oleh kejahatan yang dilakukan sebelumnya.

Untuk anak, tayangan seperti ini akan menimbulkan efek meniru yang sifatnya kumulatif. Anak-anak ini akan lebih aggressive dibandingkan anak-anak yang jarang menonton.  Yang perlu diwaspadai juga adalah tayangan orang dewasa berbentuk komedi yang justru sedang marak di Indonesia.  Mereka kadang menirukan adegan yang mengkhawatirkan untuk ditiru anak. Misalkan sebagai superman mereka melompat dari jendela dengan efek  manipulasi.  Namun akan lain maknanya jika yang menonton adalah anak usia prasekolah, karena mereka belum mampu membedakan mana tayangan yang sifatnya fantasi dan mana yang realita.

Menilik hal tersebut, ada baiknya orang tua mulai mempunyai manajemen televise yang diterapkan pada keluarga terutama untuk anak-anak usia prasekolah dan sekolah. Manajemen televise ini bertujuan untuk mengatur mereka  agar mempunyai jadwal menonton yang bisa diarahkan dan disesuaikan dengan kebutuhan. Ada beberapa cara melakukannya:

  1. Batasi  tontonan yang bisa dilihat anak. Jangan biarkan mereka menonton televise semua tayangan kapan saja. Karena tidak semua tayangan cocok untuk mereka. Misalkan: beri ijin anak menonton hanya pada acara music atau kartun shaun the sheep. Selebihnya tidak boleh.  Jangan lupa berikan alasan yang masuk akal bagi anak, semisal karena waktu tersebut tidak berbenturan dengan jadwal belajar.
  2. Perhatikan waktu menonton. Jangan berikan waktu pada saat prime time untuk belajar atau mengaji. Kalau perlu berikan ijin menonton di hari libur saja agar tidak mengganggu jadwal kegiatan belajar anak.
  3. Temani anak. Hal ini penting agar orang tua bisa melihat apa yang ditonton anak dan orang tua bisa menjelaskan langsung pada anak jika ada adegan-adegan tertentu. Misalnya, pada saat Avatar harus berkelahi maka berikan alasan kenapa dia melakukan hal itu. Jangan biarkan anak dengan persepsinya masing-masing terutama jika mereka masih kecil.
  4. Konsisten dengan aturan yang dibuat. Artinya, ketika anak dilarang untuk menonton, maka seiisi rumah harus juga menahan diri menonton televise. Alihkanlah waktu yang biasa digunakan menonton untuk hal-hal bermanfaat lainnya, semisal membaca buku atau merawat taman.
  5. Sebisa mungkin, perkecil atau hilangkan kebiasaan menonton televise dan gantilah dengan kegiatan yang dilakukan bersama, misalnya berenang, jogging keliling kompleks perumahan, atau memasak. Hal ini akan lebih merekatkan tali kasih sayang dan perhatian dalam keluarga.
Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s