Peran Strategis Guru Menelurkan Para Penulis

image dari: dianeaninditya.wordpress.com

Saya senang, hasil Rakernas IGI (Ikatan Guru Indonesia) beberapa waktu lalu masih terus mengusung kegiatan membaca dan menulis  dalam pembelajaran. Ini merupakan salah satu cara guru-guru yang tergabung dalam IGI meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

Proses pendukungan ini memungkinkan banyak fasilitas pelatihan yang masih akan digelontorkan IGI kepada para guru. Hal lain yang juga tetap diangkat adalah pemberian pelatihan ICT agar guru melek internet. Kalau digabung, jadilah kegiatan tulis menulis yang dishare lewat internet.

Beruntung jaman berpihak pada kegiatan menulis. Makin berkembangnya tekhnologi dan jaringan telekomunikasi sangat membantu manusia untuk menuliskan berbagai rencana, melaporkannya, dan bahkan sekarang bisa menyebarluaskan hasilnya. Dalam sekejap tulisan yang baru saja dibuat bisa dibaca banyak orang dari berbagai belahan bumi.

Penyebaran tulisan guru di internet biasanya tersebar dalam bentuk blog. Sebagian sudah merambah ke dalam dunia menulis online yang menghasilkan komentar langsung seperti Kompasiana. Sebagian kecilnya sudah mampu mendokumentasikan tulisan ke dalam buku.

“Lakukan apa yang kau tulis dan tulis apa yang lakukan”, sebuah pepatah bijak yang sering diucapkan seorang guru saya ketika SMA  masih terus membekas dalam benak saya. Rupanya  kalimat tersebut mengandung makna bahwa  kegiatan menulis akan membuahkan kebiasaan baik pada diri kita. Kebiasaan tersebut semisal:

  1. Menulis akan menumbuhkan kebiasaan  melakukan segala tindakan dengan perencanaan. Perencanaan berpengaruh besar pada keberhasilan. Konon, perencanaan menyumbang 90% pada keberhasilan.
  2. Menulis tentang apa yang kita lakukan mengandung arti bahwa kita melaporkan semua peristiwa dalam sebuah rangkaian sejarah yang terdokumentasikan. Tulisan ini bisa sebuah laporan tugas hasil praktikum di Lab, atau hanya sebuah diary yang isinya adalah kejadian hari itu.
  3. Tulisan hari ini akan menjadi bekal untuk kegiatan selanjutnya karena sifatnya yang evaluative. Mengevaluasi semua kegiatan yang sudah terlaksana apakah sesuai dengan rencana atau tidak.
  4. Kegiatan menulis mengakibatkan kegiatan ikutan yang tidak kalah penting, yaitu membaca. Karena sifatnya yang saling melengkapi. Biasanya orang yang suka membaca akan mampu menuangkan ide lebih mudah ke dalam tulisan. Menggelontor seiring niat dan kemauan.

Memang, dunia pendidikan sangat masuk akal jika dihiasi dengan kegiatan yang berbau pemikiran ilmiah, membaca, dan tulis menulis. Makanya, kegiatan pelatihan menulis sangat membawa pengaruh positif pada peserta didik. Jika  seorang guru diberi pembekalan menulis, maka seribu orang siswa akan mampu dibimbing untuk menulis oleh guru tersebut. Artinya, guru adalah penyebar virus yang baik dalam kebiasaan menulis.

Dalam dunia pendidikan pula kita mengenal adanya multiple intelegences yang harus dipahami benar oleh guru dan orang tua. Howard Gardner membagi kecerdasan ini ke dalam 8, yakni cerdas diri, cerdas alam, cerdas kata, cerdas angka, cerdas gambar, cerdas tubuh, cerdas musik, dan cerdas bergaul. Setiap anak cenderung mempunyai kecerdasan yang berbeda, dan harus diberikan ruang secara proporsianal sesuai kebutuhan mereka.

Dengan begitu, kita akhirnya juga harus memahami bahwa  menulis juga adalah sebuah kecerdasan.  Sebagai sebuah cerdas kata, menulis sejajar dengan kegiatan berpidato,  bermain sinetron, membaca puisi, atau mendongeng. Dan sebagai  sebuah kecerdasan, kegiatan menulis harus diberikan ruang khusus sama dengan pemberian pelajaran lainnya seperti matematika atau IPA.  Di sinilah guru harus mampu memainkan perannya mewadahi semua tipe multiple intelligences.

Sebenarnya, dalam mewadahi minat siswa terhadap kegiatan menulis dan memfasilitasi bakat mereka dalam mengolah kata sekarang ini sudah ada sebuah komunitas yang meremaja dan cocok untuk anak sekolah walaupun anggotanya tidak hanya remaja. Anggota termuda berusia 4 tahun sedangkan yang tertua berusia 69 tahun. Komunitas tersebut benama Forum Lingkar Pena (FLP).

FLP berdiri sebagai bentuk kepedulian Asma Nadia dan kawan kawan untuk mewadahi para penulis muda yang sebenarnya banyak namun tidak mempunyai tempat untuk eksis. Forum inilah yang kemudian melakukan pembinaan-pembinaan secara intensif sehingga mampu menelurkan karya-karya berkualitas tinggi. Bagaimanapun, FLP sudah terbukti melahirkan karya-karya fenomenal yang luar biasa. Jika diperhatikan, semua tulisan jebolan FLP lebih religious sehingga tetap saling mengingatkan para pembaca akan adanya nuansa keagamaan yang harus tetap ada dalam keseharian.  Akhirnya, FLP bisa dijadikan sebuah alternative bagi siswa untuk mendalami cara-cara menjadi penulis yang aktif sehingga mampu berbakti, berkarya dan berarti.

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s