Komunikasi yang Hilang Antara Demo, Kepolisian, dan Sekolahan

Sedih sekali malam ini melihat dan menemani anak-anak murid dari unit SD, SMP, hingga SMA yang kelelahan menunggu macet berakhir . Hingga pk. 20.30 keadaan sepertinya masih tak bisa diharapkan. Puluhan kendaraan memadati ruas jalan sekitar sekolah kami. Jika dipaksakan pulang sedari tadi, selama itu pula anak-anak akan menikmati kemacetan sepanjang jalan. Akhirnya mereka terpaksa menunggu di sekolah hingga jalanan mulai merenggang. Ruas jalan Kp. Utan- Cikarang dan sekitarnya memang macet total. Mobil motor tak bergeming. Persis seperti sesuasana mudik menuju kampung halaman saat menjelang lenaran.

Demo buruh Bekasi siang hingga malam hari ini memang lebih besar-besaran dibanding sebelumnya. Ketidakpuasan kaum buruh terhadap hasil putusan sidang di Bandung yang memenangkan gugatan Apindo sudah diramalkan akan menghasilkan kesepakatan untuk buruh berdemo kembali. Tapi di pihak lain, anak-anak harus tetap sekolah. Sebuah sisi yang tak pernah dipikirkan oleh pihak manapun. Buat saya, ini adalah sebuah bentuk pengorbanan pihak lain yang tak bersangkutan langsung dengan buruh. Sudah beberapa kali hal ini terjadi. Anak-anak yang tetap harus berangkat menuntut ilmu tak bisa menghindari resiko pulang malam hari seperti sekarang. Demo memang tak kenal kompromi.

Lantas bagaimana antisipasi yang harus disiapkan oleh berbagai pihak sebenarnya? Sudut pandang yang mungkin luput dari perhatian para pendemo, polisi, dan sekolah menurut saya adalah:

1. Kurangnya informasi yang diberikan pihak terkait kepada pihak sekolah menjadi sebuah alamat bakal terjadinya kekacauan seperti ini. Minimal, pihak-pihak yang bertanggungjawab memberikan informasi terlebih dahulu tentang demo yang akan terjadi sehari sebelumnya. Berita yang beredar bukan dari pihak resmi, seperti kepolisian misalnya, akan menimbulkan persepsi berbeda dari masyarakat sehingga masih ada kecenderungan untuk mengingkarinya. Lagipula, demo buruh semacam ini seharusnya sudah mengantongi ijin dari pihak berwajib.

2. Ada pihak Diknas kabupaten yang seharusnya lebih peduli pada keberlangsungan proses Kegiatan Belajar Mengajar di sekolah-sekolah yang ada di sekitar lokasi demo . Diknas seharusnya bisa membela sekolah semisal meminta informasi resmi dari kepolisian dan organisasi buruh guna memberikan himbauan kepada sekolah untuk bertindak hati-hati dan antisipatif terhadap kegatan demo buruh yang akan terjadi. 3. Pihak sekolah harus proaktif segera mencari informasi kepada pihak kepolisian untuk mencari solusi sesegera mungkin akan kemungkinan yang akan terjadi terkait demo. Dengan begitu, kemungkinan sekolah bisa memulangkan siswa lebih awal dari jadwal demo itu sendiri.

Bagaimanapun, demo yang dilakukan buruh jangan hanya nantinya menguntungkan buruh semata dengan kenaikan upahnya, namun perlu dipikirkan solusi agar pihak lain tidak menjadi korban dari buruknya komunikasi.

Selamat berjuang para buruh, jangan lupa hati nurani !

Advertisements

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s