Nak, Tidak Ada yang Sempurna, Namun Kau Sempurna Untuk Ibu

Ketika si sulung Zaidan TK, saya mengalami masa kecemasan dan rasa jengkel luar biasa. Pasalnya, anak ini selalu harus ditunggui di kelas oleh saya atau pengantarnya yang lain. Dia bisa nangis keras dan tidak mau sekolah jika ditinggalkan. Saya merasa kematangannya untuk sekolah belum memadai. Dia tidak mempunyai teman satupun. Saya menduga, sekarangpun dia tidak akan ingat siapa saja teman TK nya. Kesimpulan kedua pada saat itu adalah dia tidak bisa bersosialisasi.

Siapa ibu yang tidak sedih dengan keadaan anaknya seperti ini ? Sekolah bagaikan momok yang menakutkan. Dia selalu terlihat murung. Tidak mandiri. Cengeng.

Saya suka sedih ketika membandingkan dia dengan anak-anak lain yang ceria. Berlari ke sana ke mari dengan teman-temannya. Mau berinteraksi dengan guru dan teman-temannya, mau membaca, mau bernyanyi, mau bersendagurau, memberikan respon yang baik jika ditanya, sedangkan  anak saya?

Suatu ketika ada acara lomba dan saya mendampingi dia ikut lomba mewarnai tingkat TK sekabupaten Bekasi. Saya memang tak berharap banyak akan prestasi dia. Mau berpartisipasi saja sudah alhamdulillah.

Seperti biasa, Zaidan kecil tetap tidak mau ditinggal. Walhasil saya duduk menemani dia diantara ratusan anak TK yang berlomba. It’s oke lah. Saya berusaha tidak malu dan tetap setia padanya.  Sesekali saya tinggakan untuk menunjukkan ke orang lain bahwa saya sedang tidak memanjakan anak saya dan saya berusaha memandirikan dia. Sesekali juga Zaidan menoleh ke arah saya atau merajuk agar saya mendatangi dia. Tarik ulur saya menemaninya hari  itu. Tumben, saya merasa sangat sabar dan santai pada saat itu.

Satu per satu teman-temannya selesai. Tinggal Zaidan dan beberapa peserta lain yang masih asik dengan gambarnya. Sembari memperhatikan anak-anak lain, saya memandangi Zaidan.  Dia tidak pernah menoleh sedikitpun ke teman-temannya, riuhnya suasana tidak menarik perhatiannya. Tangan mungilnya bergerak-gerak mewarnai gambar, tapi dengan tempo yang sangat lambat. Kesimpulan saya selanjutnya adalah dia bukan tipe kinestetis.

Ruangan lomba semakin sepi. Tinggal Zaidan dan dua orang temannya yang masih sibuk mewarnai. Ada satu pemandangan yang menyentak saya dan membuat saya bertekad membuka hati saya untuk menerima anak seperti apapun adanya. Salah satu orang tua peserta marah sama anaknya yang belum juga menyelesaikan pekerjaannya sementara beberapa panitia sudah mulai menutup tirai dan merapikan ruangan. Dipukullah sang anak hingga beberapa panitia menoleh dengan perasaan tak enak. Seorang ibu lagi malah menjawil anaknya hingga jatuh kemudian membawanya pulang secara paksa. Dua anak itu menangis. Sang ibupun marah besar sebagai pelampiasan kekecewaannya.

Zaidan menoleh pada saya demi melihat adegan tersebut. Saya tahu dia menanti respon ibunya. Tapi akankah saya berlaku sama seperti dua ibu tadi? Saya menatap mata beningnya yang menanti jawaban. (Tuhan, haruskah anak sepolos dia aku marahi juga seperti yang lain ?) Mukanya yang tampan tanpa dosa masih menatap saya. Berusaha menegur keibuan saya. “Kamu lanjutkan aja A… nanti ibu tunggu sampai selesai “, timpal saya. Dia tersenyum dan kembali mewarnai. Sampai akhirnya Zaidan menjadi peserta terakhir lomba mewarnai dengan ruangan yang nyaris rapi dan sangat sepi, ditemani dua orang panitia tersisa. Tapi saya bersyukur bisa menjadi ibu yang baik hari ini. Ibu yang bisa memahami bahwa setiap anak tidak sama. Ibu yang mencoba memberi cinta tanpa syarat. Buat ibu, tidak apa-apa Aa tidak bisa menggambar , karena memang  tidak harus semua orang  jadi pelukis. Tidak pula semua orang harus jadi presiden. Ibu harus membuka mata bahwa apapun dan seperti apapun Aa.. Aa adalah anak ibu yang  ibu banggakan. Ibu bangga sama Aa. Ibu bangga sama Aa.

Ibu bangga sama Aa.. sebangga ibu menerima rapor Aa di TK B kemudian dengan nilai tertinggi dan mendapat rangking 1. Tak pernah terlintas sedikitpun anak ibu yang setiap hari nangis di kelas, anak ibu yang lelet, akhirnya mendapat peringkat pertama.

Ibu bangga sama Aa… sebangga ibu menyaksikan Aa tampil pada lomba vokal group TK se Jabodetabek dan menang juara pertama.

Ibu bangga sama Aa… sebangga ibu menyaksikan Aa jadi anak sholeh.

Advertisements

One thought on “Nak, Tidak Ada yang Sempurna, Namun Kau Sempurna Untuk Ibu

  1. Membaca tulisan ini serasa mengulang kembali kegiatan hari sabtu kemarin dimana saya menemani anak pertama saya yang masih duduk di bangku playgroup untuk kali pertama mengikuti lomba mewarnai di sekolahnya. Sama seperti Zaidan yang minta ditemani ibunya saat lomba, Alifpun demikian padahal peserta lomba tersebut adalah teman-teman playgroupnya plus kakak-kakak yang duduk di bangku TK A dan TK B, pengawas lomba pun guru-guru Alif yang notabene dia temui setiap kegiatan sekolah. Namun masih saja Alif minta ditemani saya untuk duduk didekatnya, sampai-sampai saya berdiripun seolah-olah ingin beranjak dari sana sampai ditarik baju saya olehnya. Teman-teman yang lain tidak ada yang ditemani oleh ibu/bapaknya, hanya Alif saja. Sampai pada akhirnya seorang guru seperti bisa membaca pikiran saya lalu datang menghampiri dan berkata “gapapa bun, mungkin karena ada bunda makanya jadi gak mau lepas dari bunda, kalo biasanya sekolah dianter ma mbak (pengasuh Alif ketika saya bekerja) langsung mau koq main dan gabung sama teman-temannya”. Ahhh..entah mesti lega atau sedih. Lega karena ternyata sehari-hari ketika sekolah Alif “beda” dengan sikapnya hari ini yang terkesan gak mau mandiri. Sedih juga kenapa ketika dengan si mbak Alif malah bisa menunjukkan sikap mandiri tapi kenapa dengan bunda tidak mau menunjukkan kemandiriannya.
    Ketika lomba dimulai, walaupun saya berada di dekatnya saya sama sekali tidak memberikan petunjuk untuk Alif karena tujuan saya mengikutkan Alif lomba tsb hanya untuk menambah pengalaman Alif saja, jadi saya hanya berpesan “Warnai dengan warna yang menurut Alif bagus dan pas untuk gambarnya ya”, Ada kejadian yang sempat membuat hati saya “agak panas” ketika Alif mulai mewarnai dengan warna yang agak “nyentrik” lalu ada kakak TK B dengan lugunya berkata sambil menunjuk ke arah gambar Alif “eh liat deh..jelek banget..masa gambarnya dikasih warna item”. Sontak langsung saya melihat wajah Alif, tanpa ekspresi, entah karena Alif belum paham atas ejekan kakak kelasnya itu atau apa yang ada dibenaknya saat ini saya masih belum bisa menebaknya. Namun setelah kejadian itu Alif tetap melanjutkan mewarnai gambarnya sampai selesai, tanpa mempedulikan ejekan kakak kelasnya itu. Kalau mau diurut mungkin Alif berada di urutan ke15 dari 50an peserta yang tercepat menyelesaikan waktu mewarnai, walaupun dengan hasil warna yang “nyentrik” itu 🙂

    Makasih bu atas sharing tulisannya, pikiran saya semakin terbuka bahwa setiap anak itu unik dan kita harus hargai setiap keunikkannya itu.

    -Tidak perlu jago melukis untuk menjadi seorang Presiden kan? 🙂 –

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s