Membandingkan sekolah di Swedia dan sekolah kita

Setiap pagi, saya berusaha datang jauh sebelum jam kerja dimulai. Tujuannya adalah agar saya bisa mencari bacaan yang menginspirasi hari saya.

Pagi ini, saya kembali menemukan tulisan yang menarik. Ditulis oleh Pak Hari Priyadi yang sedang melanjutkan studi di Swedia, negeri para peraih nobel.

Jadi, di Swedia  mempunyai system pendidikan yang humanis menurut saya, dengan birokrasi yang tidak blibed. Menurut Pak Hari, beberapa hari setelah memboyong keluarga ke Swedia tepatnya bulan Maret 2011, Pak Hari langsung mengajak Juno, anaknya, mencari sekolah. Prosesnya begitu cepat, bertemu kepala sekolah, isi formulir, wawancara dan besoknya boleh sekolah. Di Indonesia sepertinya tidak semudah itu ya? Rangkaian tesnya terlalu panjang untuk ukuran masuk TK.

Pemerintah Swedia patut diacungkan jempol untuk pelayanan masyarakatnya. Contohnya di sektor pendidikan ini. Swedia membebaskan biaya pendidikan dari SD-SMA bagi siapa dan darimana saja yang sudah terdaftar di kantor catatan sipil. Bisa tidak ya di Indonesia seperti itu? Memang ada SD Negeri yang gratis, tapi harus beli buku cetak dan LKS yang harganya juga mahal. Belum lagi harus beli seragam. Ngomong-ngomong, memang sekolah harus berseragam ya ? Saya sih lebih setuju sekolah tak terbelenggu seragam, tapi anak-anaknya kreatif dan berakhlakul karimah dibandingkan dengan pemakaian seragam tetapi  justru tidak menyentuh bagian-bagian lain. Bahkan biaya untuk seragam harusnya bisa dialihkan untuk pengembangan pendidikan atau membeli buku. Jika tujuannya untuk kesamaan setiap orang, hati-hati itu adalah ciri-ciri negara sosialis.

SMP dan SMA Negeri juga sekarang pasang tarif. Tak ada yang gratis di negeri ini. Apalagi sekolah swasta, padahal kan sekarang ada dana BOS.

Sekolah zaman sekarang juga beragam jenisnya. Dari sekolah berstandar nasional sampai standar internasional. Kalau sudah masuk kawasan RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional), wuih… biayanya juga bertarif internasional. Entah ada manfaatnya atau tidak sekolah-sekolah seperti ini, yang pasti pendidikan di Indonesia jadi bertambah mahal.

Belum lagi perguruan tingginya. Waah… cape deh. Kalau kita punya uang, Insya Allah kita bisa masuk perguruan tinggi negeri atau swasta mana saja, karena sekarang negeri atau swasta sama-sama mahal. Apalagi jalur masuk perguruan tinggi juga bermacam-macam. (Sambil saya berfikir, nanti anak saya bisa kuliah di mana ya dengan gaji orang tuanya yang hanya guru swasta ? Mudah-mudahan Allah menjaminkan hal ini buat kami para guru. Amiin)

Beralih lagi ke Juno, di sekolah Juno, semua murid diperhatikan dan dibimbing dengan sepenuh hati. Saya jadi teringat sebuah berta yang saya ikuti di status seseorang di facebook. Isinya sebagai berikut : “Ini baru terjadi, siswi kelas 6 SD nekat minum cairan pembersih lantai karena malu dan terbebani perkataan ibu gurunya yang mengungkkit masa lalunya (pernah mencuri uang ibunya sendiri) di depan teman sekelas. Usai sekolah, siswi 13 tahun tersebut langsung ke kedai terdekat dan membeli sachet pembersih lantai seharga Rp. 1.500, dan langsung diminumnya di dalam ruang kelas. beruntung, nyawa siswi ini selamat, karena tidak begitu banyak cairan pembersih lantai yang ada di dalam sachet masuk ke tubuhnya (JPNN.com, 8/12).

Ada apa ya dengan pendidikan di Indonesia ? Sangat mengerikan. Tingkah laku para pendidiknyapun kadang tidak bertanggungjawab. Bagaimana mungkin melahirkan siswa yang humanis?

Pak Hari juga menceritakan pengamatannya sebagai berikut, sekaligus saya bandingkan dengan kebanyakan sekolah di sekitar kita :

1.     Satu kelas hanya boleh diisi oleh maksimum 20 murid dengan diajar oleh 2 orang  guru.  1 orang guru senior merangkap walikelas. Seorang guru pendamping/asisten. (Di sekolah saya maksimum 32 siswa untuk SMA, sekolah Anda?)

2.       Sebelum anak-anak masuk guru-guru sudah berada di depan pintu kelas, menyambut anak-anak yg datang dengan senyuman, menanyakan kabar, bahkan memeluk dan membelai kepala anak-anak. Seperti anak-anaknya sendiri. (Di Indonesia jarang terjadi, apalagi sekolah negeri. Belum pernah saya menyaksikan adegan mengharukan seperni ini. Di sekolah Anda?)

3. Sebelum sekolah dimulai, di kelas disetel lantunan musik nan lembut, bangku disusun berganti-ganti, kadang seperti bentuk U atau seminar dengan formasi duduk anak-anak yang berganti-ganti teman duduknya. (Di Indonesia apalagi sekolah negeri yang isinya 40an siswa, jarang terjadi perubahan tempat duduk. Selalu si A ada  di pojok belakang atau si B di depan guru karena tidak ada temannya. Music nan lembut juga jarang ada, kecuali di sekolah swasta yang lumayan tarafnya)

4. Guru memulai pelajaran pukul 08.00, kemudian istirahat pukul 10.00 selama 15 menit. Pukul 11 tepat anak-anak makan siang di ruangan khusus makan, bersama murid-murid dari kelas lain. Anak-anak mengambil sendiri makanan serta susu segar. Mereka boleh tambah. Sebelumnya orangtua mengisi formulir bila ada pantangan dalam menu. Kami contreng menu halal dalam hal ini. Pukul 13.00 sekolah usai. (Di Indonesia sepertinya tidak ada sekolah negeri yang seperti ini. Bisa jadi ada di swasta)

5. Setiap minggu wali kelas mengirim e-mail kepada para orangtua tentang apa saja yg sudah dipelajari dan apa yang akan dipelajari  minggu depan. (Ide yang bagus untuk ditiru level TK – SD, kalau untuk SMA sepertinya email bisa digunakan untuk laporan tentang perkembangan siswa selama seminggu. Di Indonesia hal ini belum lumrah terjadi, kadang ditemui gurunya pun tidak punya email pribadi).

6. Biasanya ada acara menampilkan kemampuan anak-anak, misalnya menyanyi, menari di depan semua kelas. Orangtua diundang untuk melihat. (Di Indonesia sudah banyak terlihat, terutaman pada acara samenan atau ambil raport)

7. Orangtua akan diundang bertatap muka dengan wali kelas bersama anaknya untuk mengetahui kemajuan belajar sang anak. (Yang ini sudah sering dilakukan di Indonesia namun dengan kualitas yang berbeda))

8. Ada kegiatan ekstra setelah pulang sekolah, seperti bermain bola, skating, golf, bola voli, yoga dll. Anak-anak dilatih oleh 2 orang guru, untuk 2 jam. Semuanya gratis. (di sekolah di Indonesia  juga ada, biasanya dalam wadah ekskul. Tapi sedihnya, tidak ada skating, golf dan yoga, dan yang pasti.. tidak gratis)

9. Setiap beberapa bulan, anak-anak akan diajak nonton pertunjukan teater, ke kebun binatang, piknik di pantai dan lain-lain. Bila lokasi cukup jauh, disediakan bis. Juga gratis. (di sekolah di Indonesia : mimpi kali yeee…)

10.   Untuk anak-anak yang mempunyai keahlian atau minat khusus, guru akan memfasilitasinya. Misalnya diberikan buku latihan khusus utk yang gemar. (beberapa guru melakukan hal ini, selebihnya masih belum )

Begitulah perbandingan pendidikan di Swedia dan Indonesia. Bisa jadi sudah banyak perubahan terjadi di Indonesia, saya hanya mengambil beberapa sampel yang terbayang di benak  saya.

Ada lagi yang menarik ketika Pak hari menulis: One day I told him “When my PhD is accomplished, we’ll go back to Indonesia”.
He said ” No, I don’t want to go back to Indonesia!”

Komentar banyak orang yang membaca : Ya iyalaaaah……

Tapi sebagai anak negeri, kita harus punya kemauan dan mengasah kemampuan agar dunia muram pendidikan akan segera berganti dengan cahaya terang benderang. Bagaimanapun, anak cucu kita ada di sini. Ayo, semangat Pendidikan Indonesia Maju !

inspirasi dari: http://edukasi.kompasiana.com/2011/12/08/inilah-metode-pendidikan-anak-anak-sekolah-di-swedia-negeri-sang-%E2%80%9Cnobel%E2%80%9D/?ref=signin

Advertisements

22 thoughts on “Membandingkan sekolah di Swedia dan sekolah kita

  1. Seragam juga memang menurut saya tidak terlalu penting hanya melambangkan nama sekolah saja atau bersekolah dimana.. sebaiknya masalah seragam lebih anak muridnya sendiri yang membuat. Dikumpulkan sekelas untuk mendesain seragamnya sendiri agar lebih kreatif..

  2. menurut saya seragam itu tidak terlalu penting,yang terpenting ialah akhlakul karimah karna akhlakul karimah harus dimiliki oleh setiap pelajar..

  3. Asalamualaikum bu mugi. Setelah saya membaca artikel ini, menurut saya sekolah di Swedia lebih mendukung pendidikan dibandingankan masalah keuangan karena di Swedia terdapat sekolah yang ditanggung pemerintah dengan diadakannya sekolah gratis. Tapi jika di Indonesia, sekolah negeri yang mendapatkan dana BOS tidak sepenuhnya digunakan karena masih terdapat bayaran yang harus ditanggung oleh murid, yang dapat memberatkan beban orang tua yang kurang mampu.

  4. kalau menurut saya sih ditirunya seperti 1 kelas di isi 20 murid atau lebih sedikit supaya belajarnya lebih efisien dan meberikan fasilitas bagi anak – anak yang mempunya kemampuan tersendiri..

  5. Assalamualaikum..wahh enak banget sekolah disana.Kalau saya jadi juno saya betaaaaah banget di sekolah,gimana tidak betah suasana nya cozy,enjoy dll..kegiatan ekstrakulikernya yaampun bikin ngiri aku secara pribadi,betapa indahnya apabila ada ekskul se keren itu,otomatis piala atau prestasi kita bertambah dong dengan minat dan bakat yang tersalurkan lewat ekskul tersebut..Disekolah di Swedia terlihat jelas kekompakan antar murid dan guru.irii sekali membacanya.jangan kan di swedia,sekolah sekolah lain yang berlokasi di ibu kota pun membuat saya iri mereka sudah bisa melaksanakan bilingual yang telah diprogramkan disekolah mereka bahkan trilingual sekarang dan ada lagi nih perbedaan antar sekolah di swedia dan sekolah kita buu,kayaknya ga ada ransum deh bu.tapi bu bagus nya sistem disekolah kita adalah melaksanakan solat dhuha,zuhur,ashar,dan adanya kegiatan kegiatan yang mengedepankan pembentukan akhlak islami ..semoga pendidikan kita kelak akan lebih maju dibandingkan dengan pendidikan di swedia bahkan kalau bisa pendidikan kita akan menjadi sistem pendidikan yang akan menjadi panutan bagi sistem pendidikan sekolah lainnya,amiinnn..Wassalamualaikum

  6. assalamualaikum
    asik kayaknya bu sekolah di Swedia,dari 10 perbedaan di artikel ,saya paling tertarik sama urusan kafetaria , makananya bermutu,makanya bareng bareng jadi nggak buang buang waktu ,sekaligus bisa hemat uang jajan bu.Terus setiap bulan diajakin ke teater atau museum pasti asyik banget buat refreshing dan nambah wawasan,jadi murid gak penat cuman belajar dari tulisan di textbook,yang bikin bingung,kita bisa liat langsung,Real!.Juno aja sampe gak mau pulang ke indonesia :D, bu saya pingin nanya juno itu kelas berapa bu?pulangnya enaak cepet banget.

    “Ini baru terjadi, siswi kelas 6 SD nekat minum cairan pembersih lantai karena malu dan terbebani perkataan ibu gurunya yang mengungkkit masa lalunya (pernah mencuri uang ibunya sendiri) di depan teman sekelas.”
    ngeliat berita ini saya jadi bertanya tanya kenapa gurunya ngungkit2 masa lalu anak itu -_-

    asyik bu artikelnya saya jadi pengen terbang ke swedia secepatnya 😀 , Maaf bu kalo komentar saya kepanjangan 😀

  7. sekolah diswedia adalah sekolah yang sangat bagus, karana isi muridnya pun tidak teralu banyak jadi guru-guru nya dapat mengontrol murid-murid nya satu per satu. Yang harus kita tiru dari swedia agar pendidikan indonesia bagus seperti swedia adalah pemerintah dan kepedulian anggota-anggota negaranya untuk memperbagus pendidikan di negerinya. Jika di indonesia pemerintah nya perduli dan tidak memikirkan diri sendiri saya rasa indonesia akan lebih maju dari swedia bahkan negara-negara lain dalam dunia pendidikan

  8. Assalamualaikum..wah kalau saya menjadi Juno saya akan betaaah berada di sekolah seperti itu,karena suasana yang cozy dan sangat mendukung.Kekompakan antar anak murid dan gurunya sangat terlihat jelas.Ada berbagai pilihan ekskul yang disediakan di sekolah ini,otomatis ini akan menjadi sebuah cara agar mendapatkan prestasi sebanyk-banyaknya dan pengalaman yang berharga.Saya ingat dahulu di sekolah kami terdapat ekskul pilihan seperti bahasa Jepang,Mandarin,fotografi dll,akan tetapi hal ini tidak berjalan lancar,saya sangat keceewa akan hal ini.semoga sekolah ini dapat dijadikan sebagai tolak ukur bagi sekolah di Indonesia.Semoga kelak Indonesia bisa menjadi pemimpin atau menjadi panutan sistem pendidikan bagi seluruh dunia..AMIIN..Wassalamualaikum

  9. Menurut saya sih bu sekolah di Swedia sendiri itu sangat menarik dan mengasyikan,saya juga setuju dengan metode mendengarkan musik yang lembut sebelum pelajaran dimulai karena hal itu menurut saya akan menambah mood tersendiri bagi para pelajar sebelum menerima pelajaran.Coba sekolah2 di Indonesia menerapkan hal tsb,tentunya belajar akan semakin menyenangkan…

  10. uhuk ehem.. Bu, pan di Swedia bisa kayak gitu karena ada pemerintah yang bertanggung jawab dan para warga negara taat bayar pajak. Lah kalo di Indonesia? Korupsi di mana-mana, pajak juga kayaknya gak semua orang tau. Jelas aja bisa terjadi perbedaan yang amat kontras antara pendidikan di Swedia dan pendidikan Indonesia. Pendidikan di Indonesia bisa kayak di Swedia kalo dari pemerintahnya sendiri gak cuma omdo. Kalo pendidikan terbenahi, otomatis SDM di negara ini bisa terbenahi juga bu.

  11. Assalamualikum wr.wb
    menurut saya di Swedia sana sangat mengerti akan pentingnya pendidikan buktinya semua yang berbau pendidikan di jalannya secara gratis. pemerintah Swedia tidak mementingkan akan keseragaman seragamnya, hum iyasih gak ngaruh juga belajar dengan pakaian berseragam toh tanpa berseragam pun kita masih bisa belajar. pendapat Bu Mugi tentang “Bahkan biaya untuk seragam harusnya bisa dialihkan untuk pengembangan pendidikan atau membeli buku” nah menurut saya itu benar sekali, daripada ngurusin seragam mending untuk beli buku dan biaya pendidikan yang lebih berguna daripada seragam, seragam juga gak terlalu penting bagi saya, seperti apa yang bilang tadi diatas ‘tanpa seragam pun kita masih bisa belajar’ asalkan pakaiannya sopan tanpa seragam pun bisa di terapkan disekolah kita. iya kan bu? ;), hem masalah pendidikan yang begitu sangat mahal benar sekali saya bingung kenapa di negara maju sana banyak sekali perguruan tinggi yang berkualitas tapi murah? kenapa di Indonesia gak bisa? *kalo gini caranya kasian orang tua saya* -_-. lanjut ke komentar tentang jumlah murid di kelas, oh di Swedia 20 iyasih bagus karena semakin sedikit orang semakin intensif belajarnya daripada banyak murid ngobrol sana sini. menurut saya guru disekolah kita juga seperti itu kok bu sangat memperhatikan anak muridnya termasuk ibu pun begitu :), dan lanjut lagi tentang masalah ekstra kulikulernya, iya ya kenapa disana serba gratis padahal kalo saya pikir pikir ekstra kulikuler pun dapat meningkatan kualitas bangsa kita, misalnya coba aja tanpa biaya yang cukup besar mungkin banyak yang beminat ekskul di bidang olahraga dan di kembangkan melalui berbagai macam pertandingan yang bisa di ikuti dan bisa lebih mengharum negara kita ini. pokoknya intinya dengan pendidikan gratis dan berkualitas bisa menjadikan para pelajar Indonesia berkualitas pula. makasih bu. maaf kalo ada salah kata dalam komentar saya ya bu:)

  12. betul
    kita sebagai penerus bangsa harus menjadi anak bangsa yang maju seperti di negara lain
    kita kalo bisa menjadi pengganti bangsa , karna di Indonesia banyak yang menjadi pelaku kkn, ataupun penjahat , maka jadilah pengganti bangsa yang baik , yang menjadikan bangsa makmur , menjadi guru baik , yang menjadikan sekolah di Indonesia makmur
    kalaupun menjadi penerus bangsa , jadilah penerus yang meniru tokoh tokoh baik di Indonesia , agar di masa depan negara kita menjadi negara maju, amiiiiinnn!!!!

  13. assalamualaikum bu 🙂 ibu saya tertarik loh bu sama artikelnya. kayaknya kalau sekolah di Indonesia mencontoh sistem pendidikan di swedia seru juga bu. Selain itu keliatannya lebih efektif juga. jujur saya juga tertarik dengan sistem liburannya bu. jadi siswa tidak terus menerus belajar,ada kalanya siswa kan butuh refreshing juga bu hehehe ._. makasih buuu

  14. wah keren bu artikelnya (y). Seharusnya pemerintah Indonesia mencontoh sekolah yang di Swedia itu,kan kasian kalo yang orang tuanya ngga punya duit buat membiayai sekolah anaknya terus anaknya jadi nggak bisa nggapai cita-citanya.

  15. assalammualaikum bu, artikel ini sangat menarik. Terus terang aja, sistem pendidikan Indonesia sangat berbeda dengan Swedia, baik dari segi penetapan seragam, jumlah murid, dsb. Yang palik mencolok adalah masalah biaya. Kalo dipikirkan, bagaimana orang Indonesia mau maju, mau lebih pintar kalau untuk sekolah saja kurang mampu, karena dibebani biaya yg sedemikian mahalnya. Padahal pemerintah juga tau kalau banyak orang di Indonesia yg masih menganggur yg berarti banyak jg yg kurang mampu untuk membiayai pendidikan.
    Dan jg dari segi jumlah murid perkelas yg hanya 20, dari situ sudah terlihat perbedaan keintensifan belajar para murid, begitu juga dengan ektrakulikuler dan kegiatan refreshing. Refreshing itu sangatlah perlu untuk setiap orang, Apalagi untuk para siswa yang otaknya sering mumet karena pelajaran ._.

  16. Assalamualaikum wr.wb , bagus bu mugi artikelnya 🙂 Kalo di Indonesia walaupun sekolah negeri dapat dana dari BOS tapi itu juga cuma dari SD-SMP , Bagaimana dengan SMA ? padahal menurut saya kalau di Indonesia mengikuti sekolah di Swedia mungkin tidak terlalu banyak yang mengalami putus sekolah karena tidak memiliki biaya untuk sekolah , dan generasi negara kita akan lebih maju jika masyarakatnya mendapat pendidikan yang cukup . Dan mereka bisa mencapai cita-cita yang mereka inginkan sesuai dengan minat dan bakat mereka . Terima kasih 🙂

  17. assalamualaikum 🙂 (ini saya bu, Dewi Nanseti (XA) :D)

    bu, saya sedih banget baca artikel ini. soalnya di artikel ini tertulis banyak banget perbedaan sekolah di Indonesia dengan di Swedia.
    Setelah membaca artikel ini, saya bisa melihat, sepertinya yang membedakan sekolah di Indonesia dengan di Swedia itu banyak yang mengungkit masalah keuangan. Sebenarnya kita bisa seperti sekolah di Swedia, Uang(negara) yang kita miliki, saya rasa cukup untuk meratakan pendidikan di Indonesia. Karena, pajak yang kita bayar kan lumayan besar, dan tujuan pajak itu kan antara lain untuk memeratakan penduduk (pendidikan, kesehatan, dan layanan publik lainnya). Tapi sayangnya uang itu banyak yang dikorupsiin sih, jadinya yaaaa gitu deh.

    *note: Sebenarnya orang-orang yang kurang mampu itu terkadang memiliki potensi yang besar dalam masalah pendidikan, tapi jadi tidak terlihat jelas karena mereka yang seharusnya bisa lebih mengasah potensi mereka, terpaksa berhenti sekolah karena masalah biaya. Sayang banget ya buuu, soalnya kasus seperti itu masih banyak banget di Indonesia ;'(

  18. assalamu’alaikum wr wb.
    kalau menurut saya di swedia bisa sekolah gratis dari SD – SMA, mungkin karna di negara tersebut adalah negara maju. Dan kalau menurut saya sebaik indonesia menyontoh atau mempelajari cara bersekeloah dengan baik, tenang, nyaman, dan tentram. Termasuk pula guru – guru di indonesia mempelajari cara menjadi guru yg baik, seperti guru di swedia

  19. asalamualikum bu mugi. artilelnya sangat menatik.menurut saya sekolah di swedia sudah sangat bagus dibandingkan dengan sekolah-sekolah di indonesia. namun kondisi harus dijadikan pacuan untuk menjadi lebih baik lagi

  20. assalamu’alikum wr wb bu mugi..berharga sekali artikelnya.. pandangan saya sekolah di swedia sangat bagus karena berbagai faktor yang sangat bagus salah satunya pemerintah dinas pendidikan yang membiayai..beda dengan di indonesia sekolah hanyalah sebagai formalitas biasa..bukan menjadi kepentingan rakyat..mungkin dari mentri pendidikan sudah ada dana untuk sekolah yang besar dan kemungkinan ada kong kali kong di dalam perjalanan dana yang besar itu sehingga sampai di murid hanyalah sedikit..murid ter ombang ambing pusing..akan tingkah laku pemain pemain dana yang berprogaganda proyek sana proyek sini..mereka jabat jabatan saling menguntyungkan.. wassalamualaikum wr wb

Your message

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s