Peran Guru dalam Mewujudkan Keadilan Pendidikan dan Menyukseskan Gerakan Guru Menulis dan Melek Internet

Pendidikan merupakan isue paling hangat di dunia manapun karena menyangkut penyiapan sumber daya manusia setiap bangsa. Namun bagaimana jika pendidikan hanya bisa dinikmati segelintir orang ?

Pendidikan menjadi sangat penting setiap saat karena berhubungan langsung dengan jaman dan perubahannya yang tiada henti. Itulah mengapa pendidikan dewasa ini sangat erat hubungannya dengan pesatnya perkembangan ICT. Bagaimana pula guru-guru di era globalisasi ini harus menyikapinya ?

Peran Guru dalam Mewujudkan Keadilan Pendidikan secara Nasional

Anak-anak adalah harapan bangsa, ayo berikan pendidikan yang terbaik

Anak-anak adalah harapan bangsa, untuk itu mereka mempunyai hak memperoleh pendidikan, sebagaimana diatur dalam Pasal 31UUD 1945 (amandemen) ayat (1)  bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.

Bahkan dalam UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 49 menegaskan bahwa Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk memperoleh pendidikan. Dalam pasal ini malah tidak boleh ada satupun hal yang bisa menghambat anak untuk memperoleh pendidikan. Termasuk di dalamnya keluarga dan orang tua.

Masalah ketidaksetaraan atau ketidakadilan dalam pendidikan di negara kita memang lebih mengerucut kepada masalah ketidakmampuan ekonomi keluarga. Banyak anak yang terpaksa tidak sekolah karena harus bertoleransi dengan keadaan ekonomi orang tua yang sangat minim, walaupun masalah berikutnya yang tercipta  juga tidak kalah besar, misalnya : pemerintah mengadakan kelas RSBI dan SBI tapi justru menciptakan pengkastaan dalam pendidikan. Sekolah internasional ini membutuhkan biaya tinggi dalam  pelaksanaannya, sehingga hanya keluarga kelas menengah ke atas saja yang berkesempatan meneguk indahnya pendidikan berkelas internasional. RSBI dan SBI sendiri banyak dianut dan dilaksanakan justru oleh sekolah negeri milik pemerintah yang seyogyanya memberikan kesempatan pada wong cilik.

UU no. 20 Tahun 2003 Sisdiknas Pasal 5, ayat (1) menjelaskan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.  Untuk itu, jika memang guru bertekad memberikan keadilan bagi semua anak bangsa, maka guru wajib memberikan mutu terbaik untuk peserta didik. Mutu yang baik tidak harus dilaksanakan di sekolah mahal. Artinya, di manapun guru berada, ayo berikan keadilan dengan selalu memberikan dan memperbaiki cara mengajar dan mendidik yang bermutu di tempat kita mengabdi  sekarang!

Guru Menyiasati Abad Globalisasi

Saya sadar betul bahwasanya saya adalah seorang guru yang ada di abad 21, di mana abad ini merupakan abad megapolis dan sudah terbukti mampu menggusur nilai-nilai tradisional dalam pendidikan ke arah yang lebih modernis. Hal kecil semisal kapur saja sudah belasan tahun tak lagi dipakai di kelas saya. Perkembangannya begitu cepat. Beberapa tahun yang lalu, saya masih memakai OHP di kelas, namun belakangan OHP sudah menjadi  onggokan sampah tekhnologi dan digantikan oleh LCD. Saya sebenarnya sedang menanti-nanti kecanggihan model apa lagi yang akan menjadi pengganti mesin ini.

Perubahan tekhnologi ternyata harus membuat proses pendidikan juga berubah.  Mau tidak mau, suka tidak suka. Tentu saja, yang tidak suka akan tetap berdiam diri dengan pola pembelajaran tradisional dan mengedepankan berbagai halangan sebagai alasan untuk tidak berdamai dengan tekhnologi. Sebagai guru yang ada di era  ini, tentu saya harus jadi bagian dari perubahan itu sendiri,

Guru di abad ini minimal harus memiliki profil  pelengkap sebagai berikut :

Pertama, ramah tekhnologi. Artinya, guru di jaman globallisasi ini harus mau berdamai dan mau menggunakan tekhnologi dalam kegiatannya sehari-hari. Guru harus memahami bahwa siswa  sekarang memang lahir di jaman serba canggih. Untuk itu, agar tetap diminati, maka guru harus kenal dan memakai tekhnologi.

Yang kedua, guru harus menjadi motivator plus. Jangan sampai kecanggihan jaman membuat guru tak lagi dibutuhkan oleh siswa. Justru,  kencangnya globalisasi  ini harus membuat guru tetap ada dan menjadi motivator ulung agar siswa selalu berada pada rel yang benar dan tidak salah arah. Gurulah orang yang  paling tepat menyisipkan pesan-pesan moral, etika, dan akhlak mulia.

Saya teringat kata-kata motivasi Pak Rheinald Kasali bahwa : ”Sebelum perubahan menyentuh cara berpikir, maka manusia belum berubah … “. Artinya, sebagai guru kita harus sadar betul bahwa perubahan itu wajib dilakukan atau kita akan ketinggalan zaman. Mengutip apa yang dikatakan DR. Muslimin Nasution, APU : Change or die !

Mengingat pentingnya guru memahami zaman, maka tentu saja saya mau menjadi guru yang ramah tekhnologi dan mampu menjadi motivator bagi siswa. Hal yang memang mengawali perkenalan saya dengan tekhnologi adalah kecintaan saya pada menulis. Menulis buat saya adalah proses belajar merefleksikan banyak hal dengan buah pikiran sendiri. Menulis adalah perwakilan kata hati yang mungkin tidak sempat saya ucapkan dengan lisan. Menulis adalah sebuah proses mengajak dan mengingatkan yang paling efektif buat siapa saja, termasuk untuk siswa. Menulis adalah jalan dakwah yang paling indah buat saya. Saya berharap banyak, anak-anak didik saya termotivasi dengan tulisan-tulisan yang sempat saya goreskan.

Saya senang menulis sejak duduk di bangku SD, walaupun diary pertama saya miliki pada saat saya SMP. Saya yakin kesenangan saya ini dibarengi oleh kesenangan saya membaca  buku dan majalah yang disiapkan orang tua saya pada saat itu. Namun, ternyata hobi ini terkubur amat lama. Tahun 2006 saya baru mengenal internet yang juga baru ada di lab komputer sekolah. Dua tahun berikutnya blog pertama saya buat. Itupun pasif karena pada saat itu blog masih disamakan dengan kegiatan chatting yang hanya dianggap membuang  waktu saja.

Tahun 2010 saya menapaki babak baru menyeriusi internet dan kegiatan menulis , terutama setelah mengikuti Pelatihan Menulis di Rumah Perubahan milik Pak Rheinald Kasali. Di sinilah mata saya terbuka akan indahnya dunia menulis. Saya bisa belajar banyak dari para jurnalis, terutama sekali saya bisa belajar langsung dari Ahmad Fuadi, sang novelis Negeri Lima Menara. Sejak saat itulah, saya “menghidupkan” kembali blog saya.  Ternyata, berteman dengan para penulis membuat semangat menulis jadi tetap hidup.

Belajar Menulis bersama A. Fuadi di Pelatihan Menulis Rumah Perubahan

Dengan kata lain, menulis membawa saya mengenal dan memanfaatkan  internet lebih jauh.

Pada tahun yang sama saya mengenal IGI (Ikatan Guru Indonesia). Di IGIlah saya mengenal guru-guru hebat di seluruh Indonesia. Seminar IGI pertama yang sempat saya ikuti  bertajuk  Developing Creative Curriculum di Jakarta tahun 2011. Setelah itu, saya berusaha tidak ketinggalan mengikuti event-event IGI lainnya. Saya merasakan banyak sekali manfaat yang bisa dipetik dari  perkumpulan profesi ini.

Pelatihan pertama dengan IGI, Developing Creative Curriculum, Jakarta 2011

Di IGI pulalah saya mengenal sosok Wijaya Kusumah. Omjay, nama panggilan  Pak Wijaya begitu mengisnpirasi saya sebagai penulis pemula. Di blognya http://www.wijayalabs.com, Omjay tak segan-segan berbagi bagaimana caranya menulis dan jadi penulis. Menurut Omjay, cara menulis yang efektif justru ketika kita dapat menulis apa adanya tentang apa yang kita lihat dan kita pikirkan. Tuliskan dengan tanpa beban dan tentu saja dengan tujuan yang sudah ditetapkan.

Gara-gara Omjay, semangat saya untuk tetap kreatif dan produktif terus terpacu. Saya juga bermimpi untuk menjadi seorang edupreuneur layaknya beliau. Makanya, berbagai kegiatan menulis saya usahakan ikut termasuk lomba blog. Lomba blog yang sempat saya ikuti dan menang adalah  Lomba Intip Buku yang diadakan di Jakarta, 28 April 2012 dan Lomba Blog yang diadakan Asta Media.

bersama Omjay di Pelatihan PTK Tambun Selatan 2012

Omjay ternyata bukan hanya seorang penulis,  diapun guru hebat yang lalu menggunakan blog sebagai media pembelajaran. Wow!! Kok bisa ya ? Omjay malah bisa menyabet juara karya ilmiah dengan blognya. Artinya, anggapan sebagian orang tentang blog yang hanya membuang-buang waktu bisa saya tepis dengan blog saya yang juga bisa saya manfaatkan untuk proses belajar mengajar saya. Di blog ini  saya  bisa simpan bahan pelajaran atau latihan soal yang bisa diakses siswa kapan saja dan di mana saja. Pendidikan era baru telah menyingkiran hambatan waktu dan jarak, Malah, dengan blog kegiatan mengajar saya lebih terasa “lama matinya” bahkan saya berharap ini lebih “abadi”. Di blog juga saya bisa menyisipkan banyak pesan dan inspirasi bagi siswa dan teman-teman guru yang lain.

Sharing dengan guru-guru pada Pelatihan ICT Dasar di SD Insan Kamil, bersama guru-guru dari IGI Bekasi

Senangnya saya, ketika juga saya berkesempatan mengajak siswa saya untuk blogging,  hingga akhirnya sudah dua tahun saya mengajak siswa untuk memiliki blog sendiri. Di blog, mereka bisa berkreasi apa saja. Bahkan, sampai sekarang saya masih bisa curi-curi pandang tentang curhatan dan rasa galau yang mereka tumpahkan di sana. Biarkan mereka menuliskan semuanya. Menurut saya, inilah awal rasa cinta mereka pada kegiatan menulis dan menggunaan internet sehat.

Kenapa harus internet sehat ? Sebagaimana kita tahu, dengan internet siapa saja bisa mengakses data apa saja. Siswa saya tentu menjadi bagiannya. Namun penyalahggunaan internet dewasa ini mencapai titik yang sangat memprihatinkan. Lihat saja pengguna jejaring social facebook atau twitter. Hampir sebagian besarnya  adalah anak-anak sekolah. Untuk itu, guru juga harus jeli menjadikan jejaring social ini sebagai bagian dari proses  pembelajaran. Buat saja group khusus tentang kelas mata pelajaran yang diampu, dan jadikanlah ini media saling bertukar informasi dengan siswa.

Dengan memanfaatkan internet dalam pembelajaran, guru sudah berusaha mengurangi porsi  siswa mengakses  hal-hal negative dan mulai mencoba menggeser kedudukan keyword berkonten negative untuk siswa. Alhamdulillah, sejak aktif menjadi blogger pribadi, tergabung dalam Blogger Bekasi,  dan juga menulis  di Kompasiana, guru-guru yang lainpun mulai mau ikut berpartisipasi. Beberapa di antaranya sudah pula tertulari virus menulis dan mulai menjadi aktifis blogger dan kompasianer. Mudah-mudahan  kami  tetap eksis dan bukan hanya narsis, sehingga tidak lantas menjadi penulis yang cepat gugur dan mengundurkan diri.

Blog Novi, siswa saya, dalam tugas membuat mind map yang diposting di blognya

Mahersya dalam tugas Ekonomi Mikro dan Makronya

Ternyata, menjadi bagian dari perubahan itu sangat menyenangkan, dan sebagai guru saya menikmati proses ini. Karena itulah guru menjadi bagian mahapenting dalam rantai yang menjadikan masyarakat berpengetahuan. Hal yang bisa kita awali pada siswa. Bukankah siswa inipun beberapa tahun kemudian akan menjadi anggota masyarakat produktif ?

Inilah salah satu alasan mengapa saya tetap mau menjadi guru di era globalisasi ini. Pekerjaan ini sudah menumbuhkan rasa cinta berbagi dan peduli saya  pada anak-anak bangsa. Dengan menjadi guru pulalah saya tertantang untuk terus memikirkan hal-hal apalagi yang bisa saya perbuat untuk menemani mereka dewasa secara arif ?

“Menjadi Guru Tangguh Berhati Cahaya”

Buku inspiratif : Menjadi Guru Tangguh Berhati Cahaya

Buku milik Omjay ini saya yakin telah memberikan motivasi bagi banyak guru untuk dapat mempersembahan “sesuatu” pada dunia pendidikan. Secara sederhana namun menarik, Omjay menuturkan banyak hal yang menjadi suka dukanya menjadi seorang pendidik  dan juga harapan-harapannya pada dunia pendidikan.

Di buku ini juga Omjay mengisahkan kegelisahannya pada Ujian Nasional yang justru menjadi ajang pertaruhan kejujuran para guru. Belum lagi ujian yang dilaksanakan secara nasional ini masih dibayang-bayangi perbedaan kualitas pendidikan di berbagai daerah di Indonesia. Semisal di ibukota Jakarta dan kota-kota besar lainnya mendapatkan soal yang sama dengan di daerah-daerah terpencil seperti Papua atau daerah pasca bencana semisal Aceh pasca tsunami.

Menurut Omjay, menjadi guru adalah sebuah keberanian. Berani capek, berani susah, dan yang paling penting adalah berani menantang zaman. Beban hidup  dan kesulitan-kesulitan yang ditanggung oleh para guru harus membuat guru tangguh dan tetap memiliki hati bak cahaya yang terang benderang menyinari dunia.

Buku ini  sempat saya resensi di dalam blog saya dengan judul Guru Tangguh Berhati Cahaya.

Blog Wijayalabs.com sebagai Blog Pendidikan : Sebuah Opini dan  Harapan

Blog milik Omjay ini merupakan catatan harian seorang pendidik yang mempunyai harapan dan pemikiran dalam memajukan dunia pendidikan. Disajikan dalam bentuk opini dan laporan kegiatan yang dilakukan Omjay dalam peranannya turut serta berkontribusi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam blognya, Omjay sudah memicu banyak guru untuk juga mau tidak lagi berkeluh kesah, namun harus mulai menjalankan semua mimpi. Saya mengutip salah satu motivasi Mario Teguh yang terpampang menantang di tulisan Omjay : Cara terbaik untuk mewujudkan impian kita adalah segera bangun dan bekerja keras.

Memang, segala macam angan dan asa tidak akan terwujud dalam kemalasan kita untuk segera memulainya. Tidak lupa juga Omjay selalu memberikan trik dan tips kepada para guru untuk melakukan banyak hal. Semisal: cara menghindari kemalasan dalam menulis atau  cara membuat PTK.

Omjay memang luar biasa. Dengan diawali niat untuk berbagi, Omjay menjadian tulisan sebagai cara mengajak dan menyemangati para guru, sesuai mantranya : Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!

Omjay saja bisa, mengapa saya tidak?

(mudah-mudahan akan banyak guru yang termotivasi tulisan-tulisan omjay di http://www.wijayalabs.com)