Enjoy your blog walking…
Menjelajah Dunia Lewat Virtual Tour
Mau melihat apa isi kepala Liberty Statue ? atau ingin membedah The Mansion ? atau ingin jalan-jalan di White House ? Ternyata sekarang sudah ada virtualisasi para tempat-tempat keren tersebut. Jadi, sebelum kita mampu jalan-jalan ke sana secara nyata, kita bisa survey terlebih dahulu.
#sambil berandai-andai di Indonesia sudah ada virtual tour model begini.
Jika ingin menguak ada apa saja di Patung Liberty, klik gambar ini :
Jika ingin jalan-jalan di White House, yuk yang ini:
Lihat yang lain di link berikut http://teach123-school.blogspot.com/2012/10/virtual-field-trips.html
Mengulik Critical Thinking Skills
Benyamin Bloom mengklasifikasikan kognitif menjadi 6 ranah, yaitu :
1. Pengetahuan
2. Pemahaman
3. Penerapan
4. Analisis
5. Sintesis
6. Penilaian
Model-model pertanyaannya bertingkat dari pengetahuan hingga penilaian bisa dipelajari dari gambar di atas.
sumber : http://www.flickr.com/photos/vblibrary/4576825411/in/set-72157627665009435/
Wellcome, Blog Materi Ekonomi !
Alhamdulillah, telah hadir melengkapi pembelajaran Ekonomi lewat dunia maya yang bisa diakses di mana saja, sebuah blog khusus yang menayangkan materi Ekonomi.
Silahkan kunjungi dan follow : http://goekonomi.wordpress.com/
Akhirnya, Daftar S2 juga
Bersama dua rekan guru, Ibu Sri Widowati dan Sri Andiyani, alhamdulillah, akhirnya daftar juga di Pasca Uhamka dengan kenekatan yang sudah luber alias sangat full. Memilih Uhamka, karena memang dialah satu-satunya yang terjangkau biaya dan akses transportasi, serta yang terpenting : kuliah Minggu. Walaupun belum sampai negeri Cina, mudah-mudahan Allah memberi kemudahan segala urusan, termasuk mendapat ijin dari para pejabat yang berwenang…. padahal kan menuntut ilmu itu wajib hukumnya, ijinnya saja sudah keluar dulu kala, Belajarlah sejak dari buaian ……
Portofolio Leadership Siswa
Saya sedang belajar membiasakan siswa membuat portofolio. Tak terduga ya, portofolio yang pertama mereka buat dalam bentuk fisik ini memberikan gambaran kreatifitas yang luar biasa dari mereka. Full creativity. Lebih hebat lagi, ternyata portofolio ini telah membantu memunculkan beberapa ciri mereka yang sempat terpendam. Portofolio ini membantu mereka melakukan curhatan yang tak tersampaikan.
Dari portofolio ini juga saya baru tahu, ternyata mereka penuh prestasi. Mudah-mudahan sekolah dalam hal ini bisa terus membantu hingga bakat-bakat mereka tidak benar-benar hilang tergeser tuntutan kognitif.
Penilaian Guru di Al Muslim itu Berat, Jendral !
Kepala sekolah menegaskan kembali bahwasanya Penilaian Guru yang dilakukan Kepala Sekolah, Kabid Pendidikan, dan Kabid Nonpendidikan akan segera berakhir. Artinya, sebentar lagi kami akan melihat seberapa besar nilai kami untuk tahun ini. Tahun lalu saya mendapatkan nilai akhir 85, tentu saja dengan predikat A. Sebagai catatan, tahun lalu saya hanya punya tulisan di surat kabar satu buah dan belum punya PTK. Tahun ini saya kasih tulisan di media massa sebanyak 4 buah. Mangga silahkan dinikmati, dan satu buah PTK plus satu buah Lesson Study. Nah lho ! Dari sekarang saya sudah ancang-ancang, kalau nilai saya di bawah tahun kemarin… saya akan datangi kepala sekolah dan bertanya : Kok bisa ? #butuhnilaiobjektif.
Penilaian yang berlangsung setiap tahun ini memang bermacam-macam jenisnya. Ada penilaian supervisi, penilaian DP3, prestasi. penilaian perangkat pembelajaran, dan sebagainya. Saya juga pernah menuliskan buku-buku apa saja yang harus dipersiapkan guru selama satu tahun pembelajarannya di tulisan bertajuk Kompetensi Administrasi. Buku-buku itu antara lain :
- Buku Administrasi, seperti :
- Buku Kasus
- Buku Daftar Referensi guru
- Buku Penerimaan dan Pengembalian Rapor
- Buku Notulen
- Buku Data Kelas
- Buku Jurnal
- Buku Inventaris
- Buku Kunjungan/ Supervisi
- Buku Observasi Leadership
- Buku Penilaian dan Remidi
- Buku Refleksi RPP
- Administrasi Guru
- Silabus
- Program tahunan
- Program Semester
- RPP
- LKS
- Kisi-kisi Evaluasi
- Soal
Sebenarnya tidak ada yang istimewa. Hanya rutinitas yang seharusnya sangat biasa dilakukan guru-guru. Saya juga tidak tahu apakah sekolah lain juga mengalami penilaian yang sama dengan yang dilakukan sekolah kami, yang pasti, guru yang tidak terbiasa dengan beban kerja yang seakan-akan berat ini memang biasanya akan segera angkat kaki. Saya menduga, banyak sekolah yang memang tidak seberat Al Muslim dalam membelajarkan guru-gurunya. Buku-buku ini dibundel sedemikian rupa dalam bentuk portofolio.
Gambar cantik : portofolio saya tahun 2013 ini…
Bayangkan saja, tidak semua sekolah juga melakukan supervisi terhadap gurunya di kelas. Sekolah kami hampir setahun minimal dua kali dikunjungi. Di akhir tahun bahkan bisa sampai lima kali. Dua tahun yang lalu saya pernah disupervisi oleh sepuluh orang secara bersamaan dalam kelas. Oh My God, serasa jadi si Fatinnya x-factor, pengen mati aja! Saya bukan entertain yang bermental baja, jadi bolehlah saya gugup sekali pada waktu itu. Apalagi hasilnya kemudian dijadikan bahan diskusi antartiga lembaga Al Muslim, yaitu Salman Al Farisi Bandung, Al Muslim Tambun, dan Al Muslim Surabaya. Entahlah, seperti apa saya pada saat itu. Dan dengan gagahnya, Pak Heri (pustakawan kami) memasangnya di Youtube. #sayataksanggupmenontnnya. Hehe.. baru 97 kali tayang. Ada yang minat ?
Nah, kembali ke penilaian. Penilaian setiap tahun yang kami alami, rupanya dijadikan sebagai patokan kenaikan gaji dan insentif tahunan guru dan karyawan. Jadi gini, setiap tahun kami mendapat insentif bulanan yang besarnya bervariasi antarguru. Sebut saja misal tahun kemarin insentifnya RP. 500.000, jika tahun ini saya mendapat nilai A maka insentifnya akan naik 100 %, sehingga jadi deh Rp 1.000.000.00. Kalau nilai saya C, maka saya tidak akan mendapat insentif untuk satu tahun ke depan.
Di luar penilaian dan besarnya nilai insentif ini, saya tetap merasa sadar bahwa saya harus menjadi guru profesional dan tetap tulus mencintai profesi ini. Saya ikrarkan bekerja dengan maksimal dan optimal serta penuh prestasi sebagai bentuk pertanggungjawaban saya bagi keluarga yang saya tinggalkan sehari-harinya. Sebagai bentuk permohonan pertolongan dari Yang Kuasa agar Dia mencintai anak-anak saya sebagaimana saya mencintai murid-murid saya sepenuh hati. Jadi, pekerjaan ini penuh cinta lho… Semoga Allah meridhainya sebagai ibadah dan semoga ilmu yang diberikan adalah ilmu yang manfaat untuk semua orang.
Hiks… terpujilah wahai engkau, ibu bapak guru #pengendinyanyiin.
Fenomena Uje
Saya ingin menuliskan ini sebagai sebuah pelajaran buat saya dan siapapun, bahwa pernah ada seorang ustad yang hingga 40 hari setelah kematiannya, almarhum masih saja menjadi buah bibir banyak orang. Ribuan bahkan mungkin jutaan orang rakyat Indonesia tetap mengapresiasi Uje sebagai ustadz yang dicintai. Saya belum pernah melihat antusiasme masyarakat seperti ketika mengenang kepergian Ustadz Jeffry ini.
Awalnya, saya mengenal Uje (saya doang yang kenal Uje, Uje ga kenal saya..hehe) sebagai ustadz muda yang gaya. Pernah dipanggil ceramah di sekolah kami dan menghasilkan kehebohan luar biasa, terutama dari kaum ibu. Maklumlah, sebagai ustadz, Uje ini adalah mantan artis dan ganteng pula. Gaya bicara, bahasa tubuh, dan bagaimana beliau memperlakukan audiens begitu memesona. Semua orang seakan tersentuh. Dia tidak seperti sedang menggurui, tetapi dia bicara seakan mengajak pada dirinya sendiri dan pada semua hadirin. Dia juga tidak termasuk ustad jaim yang jaga imej mulu biar keliatan baik, tapi upayanya untuk “diterima” di kalangan anak muda terutama, begitu terlihat. Dia membaurkan diri dengan bahasa “gue elu” dan bahasa-bahasa gaul lainnya. Makanya, semasa hidupnya almarhum dikenal dengan sebutan ustadz gaul.
Lantas, memang tidak ada yang salah kok dengan itu semua, dengan “gue elunya”, dengan “sok kerennya”, dengan “gaya mudanya”, dan dengan segala kegaulannya. Bukan berarti yang bergue-elu itu kasar dan tidak mendidik. Bukan berarti yang dandy dan banyak gaya tidak boleh dilakukan seorang ustadz.
Semua orang punya cara masing-masing menggapai tujuannya. Jika saja dia tidak ber”gue-elu”, mungkin saja, para preman atau anak muda jaman sekarang tidak mau mendengar nasihat Uje, Jika saja dia tidak ber-moge, mungkin saja dia sulit masuk banyak komunitas yang di kemudian hari terbukti menganggap Uje telah banyak membantu.
After his gone…saya baru menyadari bahwa dia ternyata dikenang oleh demikian banyak orang dalam waktu yang lama. Siapa yang bisa menyaingi ketenarannya di bagian ini? Dia sedemikian hebat dicintai, dia sedemikian dalam dikenang. Bukan hal yang tidak mungkin kalau ternyata Uje sudah memberikan “sesuatu” yang pasti sangat luar biasa hingga Allah sepertinya mengharumkan namanya seperti ini. Saya awalnya menduga, kehebohan orang mencintai Uje pastilah hanya sampai sepekan setelah kematiannya. Namun ternyata tidak. Hingga 40 hari, ribuan orang tetap memadati kediamannya untuk memberikannya untaian doa.
Saya merinding ketika ratusan orang menyalatinya di Istiqlal dan ketika ribuan orang mengantarnya ke peristirahatannya yang terakhir. Tidak mungkin, kalau Uje adalah orang “biasa-biasa saja”. Saya juga menganggap hebat ketika beberapa stasiun Televisi bahkan menyiarkan secara langsung maupun delay dari pagi hingga malam, hingga berminggu-minggu, tentang berita kematian Uje. Bahkan, live dari beberapa stasiun televisi mengenang 40 hari meninggalnya sang ustadz, 4 Juni 2013. Bukan hanya karena dia ustadz gaul yang sedang naik daun dan dikenal banyak orang, tapi ada sesuatu di balik seorang “Uje”. Saya menyebutnya : Fenomena Uje.
Mungkin Uje orang yang sangat tulus. Ikhlas berdakwah. Mungkin Uje telah sangat memberikan manfaat bagi banyak ummat. Mungkin Uje adalah orang yang tobatnya sungguh-sungguh, atau banyak kemungkinan lainnya. Wallahualam bisshowab. Tapi, minimal sebuah pelajaran kembali terpetik. Bahwa Allah memberikan apa yang kita beri, bukan selalu dari apa yang kita pinta.
(dalam 40 hari meninggalnya Uje. Semoga Allah memuliakan tempatmu di sisiNya).
Sebatang Es Krim
Reblogged from Assalamu'alaikum Wr.Wb:
Karena hidup tak selalu bernilai bahagia
Terkadang kau luka,sedih bahkan menderita
Tapi bukan itu soalnya|Sejatinya persoalan itu adalah
Apa alasanmu untuk selalu dapat tegar|kuat|senyum melewati waktu-waktu itu
Dunia ini berpasangan-pasangan|seperti juga keadaan. Motion kata anak alay
Dan kutemukan itu desember 2010 “sebatang es krim”
Waktu pertama dan terakhir kali aku melihatnya…..
Tak seperti kebanyakan|Yang ini limited edition|jauh dipandangan, tapi kerap dinantikan…
Guru, Berhati-hatilah Menjatuhkan Hukuman kepada Siswa
Anda guru ? Anda suka menampar siswa ? Atau mencukur rambutnya hingga orang tuanya tidak berkenan ? Mencubitnya, atau apa saja perbuatan yang tidak menyenangkan? Ternyata, tingkat melek hukum di negara kita mulai meningkat. Terbukti, gara-gara mencukur rambut siswanya, Pak Aop Saopudin, guru honorer di SDN V Panjalin Kidul, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka, harus merasakan dinginnya sel tahanan selama 3 bulan dengan masa percobaan selama 6 bulan. Padahal, setahu saya Panjalin ini sebuah desa kecil yang sepertinya di sini hubungan antarguru dan orang tua siswa maupun guru dan siswa mungkin tidak seperti layaknya di kota yang acuh dan terkesan lebih “keras”, namun di sinilah sebuah pelajaran baru terpetik. Ketidaksukaan orang tua bisa saja menjadi boomerang bagi guru.
Kasus terbaru dialami Pak Sutiyo setelah menjewer siswanya, Teguh Muji Wicaksono. Alasan Pak Sutiyo menjewer adalah karena Teguh sudah menyembunyikan sepatu temannya. Nah, kasus menyembunyikan sepatu adalah pekerjaan usil siswa yang memang kerap terjadi. Jangankan hanya menyembunyikan, di sekolahnya, anak saya sudah 3 kali mengalami hilang sepatu. Namun, mudah-mudahan gurunya tidak perlu menjewer si “pencuri” sepatu ini atau melakukan kekerasan lainnya, karena ternyata dalih “mendidik” yang dikatakan sang guru tidak lantas mampu membuatnya terhindar dari hukuman. Atau jangan-jangan saya sebagai orang tua melaporkan guru anak saya yang telah menghukumnya lari 5 kali keliling lapangan kepada polisi ?
Sesuatu yang rancu, ketika perbuatan menjewer dan menyembunyikan sepatu mendapatkan imbalan yang berbeda. Saya melihat ada “kesenjangan” hubungan antara orang tua dan guru, dewasa ini. Pola komunikasi yang semestinya terjalin baik tidak nampak terlihat. Sehingga, ketika ada kesalahan yang dilakukan siswa, dan guru menanganinya sendiri, lalu orang tua tidak terima, maka yang terjadi adalah melapor kepada polisi. Satu hal lagi yang harus diwaspadai guru adalah : Jangan lagi main kekerasan pada siswa! Kita tidak tahu, apa yang akan diadukan siswa kepada orang tuanya atau apa yang akan dilakukan orang tuanya kemudian.
Pengadilanpun harus menjelaskan perbedaan antara memberi pelajaran dan kekerasan sedini mungkin kepada sekolah dan orang tua. Semisal, di sekolah saya, kepala sekolah dan wakasek sering mencukur rambut siswa yang mulai melewati krag baju seragam. Ini termasuk pasal pelanggaran atau tidak ? Atau ketika guru membentak siswanya ? Atau ketika guru tidak memberikan nilai kepada siswanya ? Atau ketika melotot terlalu besar? Atau ketika ceramah kepanjangan ?
Hohoho.. Yuk Bapak Ibu Guru berhati-hati memberikan punishment kepada anak-anak didik kita..
Guru Berprestasi : Tidak Ada atau Tidak Mau ?
“Jika ingin muridnya pintar, guru harus lebih pintar. Jika ingin gurunya pintar, kepala sekolah harus lebih pintar. Jika ingin kepala sekolah pintar, kepala dinas harus lebih lebih pintar. Sesungguhnya air itu akan mengalir ke bawah dan memengaruhi kualitasnya”, begitulah sepenggal tulisan Pak Johan Wahyudi, seorang guru Bahasa Indonesia dari Sragen dan telah menelurkan 62 buah buku/jurnal/modul dari tulisannya yang berjudul : Sulitnya Mencari Guru Berprestasi di Kompasiana.
Menurut Pak Johan, fenomena yang terjadi sekarang adalah guru-guru tak lagi bergairah untuk mengikuti kompetisi Guru Berprestasi karena apa yang didapat tidak sepadan dari apa yang dikeluarkan. Dengan kata lain, pengorbanan yang dikeluarkan jauh lebih tinggi dari apa yang diperoleh. Masih mending kalau menang, dapat piagam penghargaan atau bisa bertemu presiden, kalau tidak ?
Pengorbanan yang pertama menurut Pak Johan adalah : pengorbanan materi untuk mempersiapkan dokumen portofolio. Panitia mengharuskan peserta mengumpulkan 3 jenis dokumen rangkap 3, yaitu portofolio karya ilmiah, hasil bimbingan, dan dokumen pribadi. Pengalaman saya mengatakan begitu. Saya saja yang belum punya buku sendiri, portofolionya segepok, bagaimana guru-guru sekaliber Pak Johan yang harus menggandakan 62 buku rangkap tiga pula. Siapa yang bayar ? Untung saja kemarin sekolah bersedia membayar foto kopi dan biaya lainnya untuk menghasilkan 2 buah portofolio saya, bukan tiga.
Nah, inilah dia penampilan dua buah portofolio saya menelan biaya ratusan ribu rupiah:
Pengorbanan ini akhirnya terbagi lagi menjadi pengorbanan yang berbentuk materi maupun yang berbentuk nonmateri. Yang nonmateri ini lebih parah, bolak-balik ke tukang foto kopi, legalisir kanan kiri, nyari tukang jilid yang mau menjilid setebal itu hingga malam dan jauh dari rumah, dan seterusnya. Akhirnya, setelah pemilihan guru berprestasi usai, kemarin saya kena tifus dan selama 2 pekan harus beristirahat.
Lalu, menurut Pak Johan, pengorbanan yang kedua adalah : korban perasaan karena mengingat setelah jadi guru berprestasi, guru tersebut tidak mendapatkan “sesuatu” yang berbeda dari guru lainnya yang tidak berprestasi. Sama saja. Gaji sama, perlakuanpun sama. Pengalaman saya yang bukan PNS : Ya sama juga. Perlakuan sama, tapi saya masih berharap gaji berbeda. Dengan catatan : jika kepala sekolah saya memaknai pengorbanan saya ini sebagai sesuatu yang layak jadi “nilai tambah” dalam penilaian DP3 setiap tahunnya, mungkin gaji saya naik. Tapi jika my boss bilang bahwa apa yang saya lakukan dan telah raih ini sebagai sesuatu yang biasa-biasa aja, mungkin saya akan bilang :wassalam aja deh.
Nah, minimnya penghargaan inilah yang lalu menjadi poit selanjutnya dari Pak Johan. Silahkan Anda jawab, siapakah peserta guru berprestasi itu ? Jawabannya tentu saja : para guru yang mempunyai prestasi. Gupres ini sejatinya dipilih berurut dari unit yang paling kecil. Pertama, sekolah melakukan pemilihan gupres tingkat sekolah, lalu guru-guru ini akan bersaing tingkat kabupaten, propinsi, lalu nasional. Konon, para guru berprestasi ini, setelah pemilihan gupres tidak mendapatkan penghargaan berupa naik jabatan dst. Dengan kata lain, guru-guru ini tidak diperlakukan sepadan dengan prestasi yang diperolehnya. Mungkin, setidaknya kepala sekolah tetap melakukan pembinaan hingga gupres tersebut benar-benar dapat diberdayakan sesuai prestasinya, bukan dibiarkan saja hingga prestasinya seakan-akan tidak bermanfaat.
Di Kabupaten Bekasi sendiri, peserta pemilihan gupres 2013 dari SMA adalah 26 orang (1 orang dari sekolah swasta : dan itu aku sajah) dan 6 orang untuk SMK. Tahun kemarin bahkan sekolah-sekolah di SMK hanya mengirimkan 2 orang gupres tingkat kabupaten. Apakah benar tidak ada yang berminat atau memang tidak ada guru berprestasi ? Dari sekian banyak peserta, akan diambil 6 orang untuk menduduki juara 1, 2, 3, harapan 1, harapan 2, dan harapan 3. Secara otomatis, semua peserta gupres SMK akan menduduki juara 1 hingga 6, entah memang berprestasi atau tidak.











