Selamat Datang

Enjoy your blog walking…

This slideshow requires JavaScript.

Dijajah Akreditasi

Awal September ini sekolah kami akan menjalani proses akreditasi. Persiapan bak bik bek menjadi menu utama dalam menghadapi hajatan besar sekolah ini. Maklumlah, nilai akreditasi menjadi modal untuk berbagai kepentingan, terutama pintu gerbang masuknya calon mahasiswa baru pada PMDK-PMDK di PTN di negeri ini.

Diambil dari Komite Akreditasi Nasional, dituliskan bahwa definisi resmi dari ISO untuk akreditasi adalah “pengesahan pihak ketiga terkait dengan menunjukan kompetensi Lembaga penilaian kesesuaian untuk melaksanakan tugas-tugas penilaian kesesuaian tertentu. “(ISO / IEC 17000:2004).

Visitasi sendiri dilakukan oleh Asesor yang memiliki persyaratan dan kewenangan tertentu. Visitasi ini untuk mengecek data dan kelengkapan administrasi yang disiapkan sekolah sesuai dengan data isian dari instrumen yang diisi sendiri oleh sekolah. Hasilnya adalah, sejauh mana data yang diisi bisa dibuktikan didepan para asesor.

Untuk menunjukkan bahwa bukti dapat disiapkan oleh guru dan kepala sekolah, maka beberapa pekan sebelum proses akreditasi inilah guru menjadi sangat repot mempersiapkannya. Mempersiapkan bukti-bukti 8 standar pendidikan memang akan menyita banyak waktu. Bahkan, bisa-bisa pembelajaran siswa di kelas terbengkalai karena gurunya sibuk mempersiapkan hajatan ini.

LALU, bisa tidak akreditasi tidak “menjajah” seperti ini ? Bisa sekali. Caranya, persiapan tidak boleh kurang dari bertahun-tahun. Artinya, setiap tahun pelajaran, guru dan manajemen sekolah harus sudah mempersiapkan bukti-bukti ini dalam proses yang sesungguhnya. Contoh, ternyata membuat RPP saja tidak cukup. Namun, berdasarkan beberapa standar yang diperlukan buktinya, RPP harus juga memuat tugas terstruktur dan mandiri tidak terstruktur. RPP ini juga didukung oleh silabus yang “nyambung” juga dengan tugas terstruktur dan mandiri hasil pekerjaan siswa. Tidak boleh lupa, rubrik penilaian yang dilakukan guru pada sesi pembelajaran dan tugas mandiri dan terstrukturnya ini juga dipersiapkan. Belum lagi, semua kegiatan ini harus tertulis dalam Agenda Harian Guru. Artinya, mempersiapkan akreditasi harus benar-benar nyata dilakukan dalam PBM sehari-hari. Kalau tidak begini, guru akan terpaksa menyediakan semua bukti dengan cara simsalabim dan menyediakan bukti yang bisa jadi “tidak nyambung” satu perangkat dengan perangkat yang lainnya.

Guru dan manajemen sekolah harus berbagi tugas dan mengetahui tanggung jawabnya masing-masing. Setiap kegiatan harus memiliki perencanaan yang jelas, pelaksanaan yang benar, dan evaluasi yang tepat. Dokumentasi tersimpan baik dari waktu ke waktu. Sangat jelas bagaimana peran manajemen sekolah sangat penting dalam hal “mengatur” segala persiapan akreditasi jauh-jauh waktu agar akreditasi menjadi sebuah hajatan biasa saja dan tidak menjajah guru.

Fokus pada Kelebihan, dan Lupakan dulu Kekurangan

2013-12-21 09.00.02

Setiap manusia memiliki kekurangan, tentu saja. Apalagi siswa kita, yang setiap hari semakin tampak saja kekurangannya. Hampir setiap saat, perbincangan di kantor riuh rendah melulu tentang perilaku anak-anak jaman sekarang yang tak malu menyontek, malas belajar, tak bisa bayaran sekolah, remedial matematika, remedial fisika, dan sebagainya. Setiap saat hanya kekurangan yang diperbincangkan, sementara… guru kadang lupa kelebihan siswanya, juga orang tua.

Adalah seorang ibu yang datang mengambil raport anaknya. Tahun ini adalah tahun kedua dia di SMA. Nilainya selalu biasa saja, tidak menonjol tinggi, bahkan kecenderungan selalu mengarah turun. Tak ada yang istimewa pada anak ini kalau dilihat dari nilai. Ibunya kembali menyatakan dirinya frustasi dengan angka-angka anak sulungnya ini. Bagaimana bisa dia kuliah di jurusan yang dikehendaki, atau bagaimana bisa dia mendapat rangking yang tinggi, atau lebih sadisnya lagi, apakah bisa dia naik kelas kalau nilainya pas-pasan atau di bawah kriteria minimal ?

“Saya ingin, sesekali membawa rapor anak saya ke rumah neneknya, dan bilang bahwa nilai-nilai anak saya tinggi, rangkingnya juga baik, tapi saya tidak pernah melakukannya, karena rangking dia selalu terakhir atau kedua dari terakhir di kelasnya”.

“Tahukah Ibu ?”, akhirnya ibu guru buka suara. “Anak ibu adalah anak yang baik, ramah, supel, pandai bergaul, ceramahnya hebat, kultumnya keren, temannya banyak. Guru-guru suka pada dia. Walaupun nilai matematikanya pas-pasan dan selalu remedial pada pelajaran Akuntansinya, tapi dia melakukan ujiannya dengan jujur. Bagaimana menurut ibu, apakah kita akan melanjutkan kelebihannya ini atau kita lupakan saja dan terus memaksanya bimbel sampai malam ? “. Si ibu terdiam, tak percaya barangkali ibu gurunya akan berkata begitu.

“Bagaimana kalau kita beralih pada kelebihannya dan mulai melupakan segala kekurangannya ?”. Gantian, si ibu guru yang terdiam. Terbayang dalam benaknya, bagaimana anak ini selalu berkeluh kesah tentang ketidakmampuannya menyelesaikan soal matematikanya dan terbayang juga keceriaannya ketika menjelaskan betapa bahagianya menjadi orator di depan teman-temannya.

Kasus orang tua yang tidak tahu kelebihan anaknya di mana, itu sangat banyak terjadi. Maka, ketika guru berada di kelas dan lingkungan sekolah, tugasnya tidak hanya menjelaskan materi, namun juga mengintip apakah anak-anak didiknya memiliki bakat dan kemampuan di bidang tersebut atau tidak ? Setelah itu, bicarakan dengan walikelas, guru-guru yang mengampu pelajaran lain, orang tua dan guru BK.

Memiliki kekurangan seharusnya menjadi hal yang biasa, namun bagaimana memunculkan kelebihan dan mengasahnya inilah yang luar biasa. Sudah saatnya sekolah tidak hanya mencatat berapa banyak pelanggaran siswa, namun juga menuliskan dengan tinta emas semua prestasi siswa baik di bidang akademik ataupun bukan. Selalulah fokus pada kelebihan siswa, bukan pada kekurangannya. “Setiap anak yang cerdas di pelajaran MIPA, pasti secara keseluruhan dia pintar juga di pelaran lain”, seorang kepala sekolah menegaskan kepercayaannya ketika rapat guru sedang membicarakan pembagian kelas. Jadi, setiap anak yang tidak bisa pelajaran MIPA apakah akan juga tertinggal di pelajaran lainnya ? Baiklah, sekarang kita kembali saja fokus pada kelebihan siswa. Kalau semua sekolah hanya mau menerima siswa pintar, lalu bagaimana siswa yang tidak pintar akan belajar ? Siapa tahu siswa yang kurang cerdas dan tidak bisa apa-apa itu karena gurunya tidak bisa menggali potensi dan kelebihan mereka ?

Perlu juga diingat, yang disebut kelebihan tidak selalu ada di bidang kognisi. Pandanglah kemampuan anak yang beragam . Barangkali mereka bisa mengaji dengan baik, hafalan Qurannya hebat, menyanyinya merdu, bermain basketnya keren, maen futsalnya oke. Temannya banyak, gambar manganya keren punya. Senang pada kebersihan, mungkin baris-berbaris, menanam dan merawat bunga di taman sekolah. Hobinya dagang, pakaiannya rapi, dan sebagainya.

Ekstrak Kulit Manggis

 

 

Kemarin buah di makan siang anak-anak adalah manggis. Anak yang tidak mengambil saya minta untuk mengambilnya, beberapa mengambil jatahnya dan sisanya bilang, “sekarang kan sudah ada ekstraknya, Bu…”.

Terus, ketika mereka tahu buahnya manggis… langsung deh pada mengumumkan sesuatu ke taman-temannya ,” Hai-hai… ada kabar gembira!”, “Kabar apaan tuh ?”, “Kabar gembira untuk kita semua… kulit manggis kini ada ekstraknya …” #nyanyi.com.

Hihhi….. emang ngangenin suasana seperti ini :)

By Siti Mugi Rahayu Posted in Di Kelas

Ada Apa dengan Buku Pelajaran Cetak ?

 

Saya bingung kok guru-guru meributkan buku cetak ya ? Akhir-akhir ini, ketika Kurikulum 2013 menjanjikan pemberian buku gratis untuk siswa dan guru, semua orang mempertanyakan kapan datangnya buku-buku tersebut karena kegiatan pembelajaran jadi tidak bisa berjalan.

Guru-guru di suatu sekolahpun mengeluhkan buku-buku yang sudah dibeli sekolah tapi belum didistribusikan ke siswa. “Bagaimana ngajarnya ?”, keluhannya kurang lebih seperti itu.

Seorang teman menunjukkan daftar isi sebuah buku baru yang lumayan banyak menurut dia, lalu bertanya pada saya, “Bu, apakah ini semua harus diajarkan kepada anak-anak ?”. Lho ???

Ada apa dengan buku pelajaran cetak ya ?

Malam ini, Menegangkan !

 

Malam Qiyamullail di sekolah mendadak sangat menakutkan. Saya tak tega melihat wajah-wajah lugu kelas x yang baru tiba di gedung baru ini menatap ragu pada bangunan megah di hadapannya. Bagaimana tidak, malam semakin larut, dan mata-mata lelah mulai bersiap-siap untuk tidur ketika tiba-tiba orang-orang di bawah, di lapangan berteriak-teriak,” Turuuun…Turuuun.. Kebakaran.. Kebakaraaaan!!”.

Malam ini, saya menjadi SC di acara malam Qiyamullail, sementara Danang, siswa kelas 12 menjadi ketua OC-nya. Saya hampir memutuskan untuk tidak hadir di acara ini karena flu berat belum jua sembuh. Surat istirahat dari dokter tak tega saya berikan ke Kepsek. Bagaimana dengan Danang dan anak-anak panitia lainnya kalau saya tidak hadir ? Bagaimana teman-teman guru yang lain yang merelakan waktunya untuk keluarga di rumah demi kelancaran acara ini ? Terus saya ? Biarlah.. pikir saya,  orang sakit pasti sembuh, saya berharap saja begitu.

Kepala saya mumet, selain memang pusing berat akibat flu dan batuk yang melanda, saya juga punya tugas dari kampus, mengisi tugas anareg sebanyak 4 buah yang harus dikumpulkan Senin esok. Sementara hari ini Jumat dan soal baru saja saya terima. Ketika anak-anak mengikuti acara motivasi di lantai dua, saya menyepi ke perpustakaan untuk melihat dan menyelami soal-soal yang kata teman-teman kuliah sih : susah. Saya menghabiskan waktu 15 menit untuk memperhatikan soal-soal itu dan langsung melambaikan bendera putih. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam dan saya ngantuk berat. Untuk mengusir kantuk, saya mengerjakan beberapa pekerjaan untuk akreditasi, lalu kembali ke kantor. Di sana ternyata banyak alumni, saya mengobrol sebentar sambil membuka laptop dan membuat laporan pertanggungjawaban. Pada saat itu Bu Reni masuk, “Mohon jam 10.30 anak-anak disisir masuk untuk tidur ya”. ooh… baiklah. Laptop saya tutup. Masih ada waktu sedikit, saya ingin ke toilet untuk membersihkan diri dan sikat gigi. Pasta gigi sudah saya siapkan ketika ada Dhika, Naufal. Kiruk dan banyak alumni dari berbagai angkatan yang juga datang di malam-malam begini. Akhirnya, ngobrol juga deh di depan kantor dengan Dhika dan Naufal yang semakin tinggi badannya.

Kantor guru terletak beberapa meter dari toilet putri. Mungkin 10 meter. Kamilah orang-orang yang paling dekat dengan toilet. Di depan toilet iniah terdapat gardu listrik SMA. Sikring mungkin ya. Kalau memikirkan lelah malam ini, ingin rasanya saya segera ke toilet dan sikat gigi lalu ketika anak-anak tidur sayapun tidur. Namun, rasa kangen karena lama tak jumpa dengan alumni ini yang membuat saya dan mereka bercerita banyak hal. Tiba-tiba kami kaget luar biasa. Ada ledakan-ledakan kecil besar dari sikring di depan toilet. Mirip petasan, namun lebih mengerikan karena api mulai menjilat keluar dari penutupnya. Siswa yang melihat kejadian tersebut menjerit ketakutan dan berteriak-teriak “kebakaraaannn !!” . Saya merasa lemas kaki. Untuk urusan listrik, saya ngeri dah.

Beberapa guru laki-laki berhamburan menuju ledakan dan api yang mulai membesar. Saya mengalihkan perhatian pada anak-anak saja. Bagaimanapun, anak-anak di lantai 1, 2, 3, dan 4 harus dievakuasi. Dengan agak lama, mereka datang juga ke lapangan. Listrik mulai padam setelah Pak Rio menurunkan tuas diantara ledakan-ledakan itu. Heroik ya. Tapi api masih tinggi menjilati tembok. Akhirnya beberapa orang menyiramkan air untuk memadamkannya. Wuihh…

Btw, “kenapa kalian tidak mau langsung turun sih?”, Kirain boongan, Buu. Kirain dikerjain sama guru-guru dengan memadamkan lampu. Kirain gempa.. dan kirain-kirain lainnya. Ahh.. anak-anak. Masih untung tidak ada yang loncat karena panik dari lantai 2 dan 3. Masih untung juga tidak ada satupun anak putri yang berada di toilet. Alhamdulillah.

Walhasil, malam indah tidur di ruang berAC gedung baru berubah tiba-tiba. Anak-anak terpaksa tidur di  gedung yang sama dengan gelap-gelapan dan nyamuk-nyamuk menemani. Bahkan, di emperan gedung sekolah unit lain. Malam ini begitu menegangkan. Fuihhh…

keesokan paginya...

keesokan paginya…

 

 

By Siti Mugi Rahayu Posted in Di Kelas

Teladan dari Guru Telatan

 

Kemarin menjelek-jelekkan capres lain saingan capres idola, hari ini ngomong tentang bagaimana guru harus menjadi teladan. Gubrak ! Hidup ini saling bersambungan satu dengan lainnya, brow. Jadi, apa yang kau lakukan ketika menjelek-jelekkan orang lain itu tidak menampakkan keteladanan sama sekali.  Telaaat ;)

 

Siapa Presidennya ? Tunggu KPU aja yaa…

 

Gonjang-ganjing dua kubu capres yang saling mengklaim kemenangannya membuat banyak orang bingung. Yang bener quick count yang mana sih ?

Jangan lihat tipi dulu deh, kalo ga sanggup mellihat kenyataan capres yang didukungnya dapat persentase yang rendah dibandingkan capres yang lain. Atau mau cuek aja ? Lebih baik begitu, santai aja. Pengumuman presiden masih lama. Biarkan KPU bekerja dan tetaplah mengawal perhitungan suara itu dengan seksama. Jangan biarkan si curang-curang mengambil kesempatan untuk bermain-main dengan hasil pemilu. Usunglah pemilu jujur, aman, dan damai.

Kalau ingat pelajaran statistik, populasinya ya seluruh warga negara Indonesia yang ikut pemilu, yaitu 188.268.423 (data saya kutip dari Kompas). Nah, dalam quick count, yang diambil adalah sampel. Pengambilan sampel juga memiliki beberapa cara dan metode. Sehingga, jadilah ada lembaga survey yang mengambil sampel 2000 TPS atau kurang atau lebih. Jumlah TPS di seluruh Indonesia itu sebanyak 478.685  dari 33 KPU Provinsi (Kompas, 10 Juli 2014). Jadi, sisanya yang tidak dijadikan sampel itu masih sangat banyak.  Dan, setiap lembaga survey sepertinya memiliki cara dan metode yang berbeda, terbukti dari bedanya hasil survey mereka. Kalau ga yakin, ga usah ikut ribut. Buatlah survey sendiri !

Jika kita melaksanakan pemilu pada hari Rabu, 9 Juli 2014, maka penghitungan suara bermula ketika pemilu hari itu usai. Selanjutnya, dilakukan rekapitulasi perolehan suara secara berjenjang dimulai dari tingkat desa yang dilakukan oleh PPS selama tiga hari. Berarti Kamis, Jumat, dan Sabtu 12 Juli . Sekarang saja masih Jumat, berarti esok baru selesai tugas PPS di desa. Dilanjutkan dengan rekapitulasi di tingkat kecamatan oleh PPK (panitia Pemilihan Kecamatan) hingga 15 Juli 2014. Berlanjut ke kabupaten / kota hingga 17 Juli, lalu ke provinsi hingga 19 Juli. Tahapan terakhir di tingkat nasional oleh KPU selama tiga hari dari tanggal 20 hingga 22 Juli 2014. Jadiii…. mengumumkan sekarang sudah menang atau kalau itu  menurut saya prematur banget. Membuat masyarakat was was. Coba deh lihat sosmed, saling ejek antar pendukung. Yang menakutkan adalah ketika real qount memberikan hasil yang tidak sama dengan quick count. Mana si presiden sudah ngaku menang lagi… apa pendukungnya mau nrimo ?

Harusnya setiap penayangan QC, lihat dulu sama pemirsa, versi siapa itu ? 100 % versi mereka ya 100%  dengan sampel yang mereka ambil. KPU sendiri tidak melakukan QC tapi RC yang hasilnya nanti bisa kita lihat pada tanggal 22 Juli 2014. 100%nya lembaga survey dan 100%nya KPU jelas berbeda. So… mau nunggu KPU dengan damai atau tetap yakin dengan QC ? Monggoooo….

 

 

By Siti Mugi Rahayu Posted in Popular