Selamat Datang

Enjoy your blog walking…

This slideshow requires JavaScript.

Reliabilitas Penilaian

 

rel

Reliabilitas adalah konsistensi hasil pengukuran. Artinya, jika sekarang dia diuji dengan tes dan memiliki hasil 7 maka seharusnya ketika dites esok haripun, nilainya akan tetap 7. Ini artinya hasil ujiannya konsisten.

rel 2

rel 3

 

 

Validitas Penilaian

 

Valid berarti kesesuaian antara data yang kita dapatkan adalah sama dengan fakta yang sesungguhnya. Konsep valid adalah kesesuaian data dan fakta. Alat yang paling sering digunakan adalah test.

Validitas atau kesahihan berasal dari kata validity yang berarti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ujur dapat melakukan fungsi ukurnya.

Validitas selalu terkait dengan intrumen. Validitas suatu intrumen atau tes mempermasalahkan apakah instrumen atau tes tersebut bebar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Dengan demikian, validitas pada suatu alat ukur tersebut mencapai tujuan pengukuran yang dikehendaki dengan tepat.

4 Prinsip Validitas :

  1. Interpretasi terhadap hasil penilaian valid jika kita dapat menunjukkan bukti yang benar dan tepat
  2. Penggunaan terhadap hasil penilaian valid jika kita dapat menunjukkan bukti yang tepat dan benar
  3. Interpretasi dan penggunaan terhadap hasil penilaian valid jika nilai yang tersirat bagi pesrta didik tepat
  4. Interpretasi dan penggunaan hasil terhadap penilaian jika konsekuensi hasil dan interpretasi konsisten dengan ketepatan nilai
  • Ketepatan interpretasi dapat ditunjukkan dengan melihat perilaku sehari-hari dan dibandingkan dengan hasil tes peserta didik
  • Ketepatan penggunaan menunjukkan bahwa berdasarkan hasil penilaian dapat ditentukan keputusan yang tepat untuk peserta didik
  • Nilai-nilai yang sesuai menunjukkan bahwa interpretasi dan penggunaan hasil penilaian yang teknik dan pengukurannya tidak mengacu pada nilai-nilai tertentu.
  • Konsekuensi yang tepat menunjukkan bahwa hasil penilaian memberikan dampak bagi peserta didik seperti tujuan penilaian.

val 1

Untuk Validitass Teoritis, sekali-kali ajaklah guru satu mata pelajaran yang sama untuk mendiskusikan soal yang kita buat. Ini adalah satu satu cara memperbaiki validitass teoritis dari intrumen / soal yang kita buat. Mungkin saja teman kerja atau bahkan pakar bisa memberikan masukan terhadap soal.

Validitas Teoritis biasa juga disebt Face validity . Terbagi ke dalam dua jenis : Validitas Isi dan Konstruk.

Studi kasus: Misalnya guru akan membuat soal untuk kemampuan perkalian pada bilangan pecahan. Materinya terdiri dari pecahan dan persentase. Jika guru hanya memberikan soal tentang pecahan namun tidak memberkan soal tentang persentase, maka soal-soal ini tidak bisa dikatakan valid secara konstruk. Lalu, ketika si Sarah misalnya, tidak bisa mengerjakan soal pecahan karena dia hanya memahami persentase, maka soal-soal ini lalu dikatakan tidak valid secara isi. Ini dimaksudkan ketika alat ukur sudah mempengaruhi aspek lain, yaitu kemampuan individual siswa.

Validitas empiris artinya instrumen yang kita buat sudah digunakan/ dikerjakan oleh sasaran tes atau biasa dikenal dengan istilah uji coba. Artinya, hasilnya belum bisa dipercaya, karena masih uji coba. Terbagi dua, internal dan eksternal. Internal artinya mengorelasikan antarskor yang diperoleh siswa. Validitas eksternal mengorelasikan skor intrumen dengan skor lain. Misalnya hasil belajar matematika dengan kemampuan numerik (berasal dari data tes yang sudah baku). Validitas kongkruen, di mana Intrumen yang kita buat dengan nilai perolehan di mana tes itu baru saja dibuat. Ini hanya membicarakan masalah waktu. Validitas Preiktif di mana skor yang dikorelasikan adalah skor yang kita buat dengan hasil pengukuran di masa yang akan datang (prediktif).

Kartini dan Kebaya

 

 

Saya khawatir, jika tidak membaca lebih banyak dan diberitahu lebih banyak, siswa akan terbiasa dengan mengidentikkan bahwa Hari Kartini itu harus berkebaya. Terus anak laki-laki ? Masa pake kebaya juga ? Pake batik ? Ya ga nyambung dong. Enak di mereka, simple dan gampang. Maka, akhirnya salon yang menyediakan penyewaan baju kebaya laris manis sepekan dua pekan sebelum 21 April tiap tahunnya.

Enaknya, kita memberikan pelajaran khusus tanggal 21 April besok demi memperingati Hari Kartini. Temanya tentu saja tentang Kartini. Bisa kasih nama : Mengenal Kartini, Search Kartini, Kartini : Habis Gelap Terbitlah Terang, dan seterusnya. Bisa jadi Probem Based Learning yang kita ketengahkan. Beri anak-anak waktu untuk mengenal sosok yang mereka peringati setiap tahun tersebut. Biar mereka memahami sendiri siapa Kartini itu ? Perjuangannya seperti apa ? Apakah kita juga harus berkebaya seperti Kartini di jaman dulu ? Kenapa sih Harus Kartini ? mengapa tidak Tjut Nyak Dien yang melawan penjajah di medan perang ? Generasi muda harus bagaimana menyikapi jasa Kartini ? dan sebagainya.

Jadi, untuk tahun selanjutnya mungkin siswa setingkat SMA bisa punya gaya lain selain berkebaya. Bukankah Kartini menulis ? Mungkin saja tahun depan ada perhelatan Lomba Menulis atau Pemilihan Kartini 2015, dan seterusnya.

 

Business Model Canvas

 

Saya mengenal Business Model Canvas (BMC) pada saat pelatihan social entrepreuner yang diselenggarakan British Council 2010 lalu. Beberapa waktu lalu pada saat Konferensi Guru International, pembicara dari Belanda juga memberikan materi sama tentang BMC. Rupanya, BMC pada saat itu mulai digandrungi sebagai model atau ringkasan gambaran bisnis yang bisa dilihat dalam selembar kertas sekaligus. Mungkin inilah akhirnya mengapa diberi nama Canvas.

BMC lebih memudahkan siapa saja membuat konsep bisnis model. BMC memuat sembilan kotak yang biasa disebut peta sembilan elemen yang terdiri dari : Customer Segments, Value Propositions, Channels, Customer Relationship, Revenue Streams, Key Resources, Key Activities, Key paertnership, dan Cost Structures.

Sekarang ini, ketika mengajarkan tentang proposal usaha untuk siswa, saya tidak lupa juga mengajarkan bagaimana membuat BMC ini. Dengan BMC, siswa akan memahami keseluruhan bisnis yang dijalaninya. Dari BMC inilah lalu siswa mengembangkan proposal usaha.

Penampakan BMC :

 

Langkah-langkah Membuat BMC :

  1. Tentukan customer segmen. Konon, sebelum menentukan produk apa yang ingin kita jual, kita harus tahu dulu siapa konsumen sasaran.
  2. Setelah kita tahu pangsa pasar tujuan, langkah selanjutnya adalah mempertegas Value Proposition yang akan kita tawarkan.
  3. Langkah selanjutnya kita harus menentukan melalui apa produk yang kita tawarkan sampai ke pelanggan. “Channels” mulai kita rumuskan, apakah akan menjualnya langsung ke pelanggan di pasar ? atau via onlie ? facebook? twitter ? dsb.
  4. Kalau sudah tahu dengan cara apa kita menawarkan produk, maka kita harus berpikir bagaimana agar si pembeli akan datang lagi pada kita ? Langkah-langkahnya kita tulis dala, Customer Relationship. Misalnya membuat grup khusus pencinta produk kita. Dengan begitu, bisa memberikan informasi terkait produk, apakah cara pemakaian, garansi, dsb.
  5. Langkah selanjutnya adalah memikirkan bagaimana pemasukan uang datang di dalam Revenue Streams. Misalnya ketika kita akan menjual makanan, apakah kita juga akan menjual minuman ? ataukah membuka pesanan online dst ?
  6. Perhatian kita selanjutnya adalah pada Key Resources, sumber daya apa saja yang kita perlukan. Kalau kita membuka warung makan, kita butuh tukang masak, resep uggulan, dst.
  7. Key Activities adalah semua kegiatan yang kita lakukan. Jika saja kita menjual makanan, maka langkah sebelum menjual makanan adalah berbelanja bahan-bahan makanan, membuat makanan, lalu menjualnya. Jadi, di sini kita menjelaskan kegiatan apa saja yang dilakukan.
  8. Key Partership juga harus dipikirkan. Partner-partner penunjang usaha kita. Misalnya pemasok baju untuk toko sepatu. Pemasok gula merah untuk pembuat dodol.
  9. Terakhir, kita harus menuliskan pula pengeluaran apa saja yang terjadi dalam usaha yang kita jalani. Apakah itu untuk membeli barang, menyewa ruko, membiayai pegawai, dst.

Sembilan elemen tersebut tergambar jelas dalam canvas. Berikut contoh BMC yang sudah terisi :

 

Seru-seruan Proses Mengamati

 

Kurikulum 2013 memuat langkah-langkah saintific dalam pembelajaran, seperti mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan  mengomunikasikan.

Sering kali guru kehabisan ide untuk melakukan banyak hal dalam proses demi prosesnya. Seiring waktu berjalan, ternyata proses mengamati bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti pada gambar-gambar berikut :

1. Guru sudah menyiapkan board yang di dalamnya terdapat materi yang ingin diamati. Buatlah beberapa board yang berbeda dan siswa bisa “jalan-jalan” berkeliling melihat-lihat materi yang dimaksud.

2014-01-13 11.25.24

2014-01-13 11.25.29

2. Kalau siswa dan guru siap, biarkan siswa membuka smartphonenya atau laptop berinternet untuk mengamati tulisan atau gambar yang guru telah siapkan linknya sebelumnya. Hal ini untuk mempermudah siswa mencari sehingga mempersingkat waktu.

2014-01-06 14.57.17

3. Siswa bisa juga diberikan tayangan video pendek yang sudah disiapkan oleh guru.

2014-01-08 14.40.34

4. Berikan siswa artikel-artikel dari koran atau internet

 

2014-02-13 09.21.00

Nah, ternyata banyak ya variasi kegiatan “mengamati” itu. Yuk, tambahkan yang lain :)

 

By Siti Mugi Rahayu Posted in Di Kelas

Memilih Nama-Nama Orang untuk Soal Ujian

 

 

 

Dua gambar di atas adalah cuplikan soal yang menyeret nama capres PDIP itu ke dalam situasi yang ga enak. Maklumlah politik, jadi rumit masalahnya. Beberapa hari ini, walhasil semua pihak  menyoroti Jokowi dengan berbagai pro kontra yang saling mencurigai.

Seperti kita tahu, anak SMA kelas 3 adalah pemilih baru alias pemula yang dengan kasus ini seakan-akan diberitahukan bahwa Jokowi adalah sosok yang pantas untuk dipilih nanti pada saat pemilihan presiden beberapa waktu yang akan datang. Jokowi ga suka dong dengan pernyataan-pernyataan yang seperti ini. Ini akan memberikan penilaian negatif buat kubunya dan bisa jadi menimbulkan kesan memanfaatkan pendidikan, terutama soal UN untuk kampanye. Bahkan, bukan tidak mungkin banyak pihak menduga, apa hubungannya si pembuat soal dan pencalonan Jokowi sebagai capres ?

Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia, Said Salahudin, seperti ditulis Okezone.com, menuding  ada kelompok partisan yang sedang bermain di lingkungan Kemendikbud untuk kepentingan memenangkan calon tertentu dalam pilpres 2014 mendatang. Widih,  tak tanggung-tanggung, komentar pedasnya pada si pembuat soal : “Luar biasa jahatnya para pembuat soal itu. Demi mendukung seseorang mencapai puncak kekuasaan, lembaga pendidikanpun mereka korbankan”.

Saya ingin menggarisbawahi kalimat luar biasa jahatnya para pembuat soal ini, sepertinya terlalu berlebihan. Sekali lagi, orang-orang pembuat soal ini tidak jahat, mereka bertugas membuat soal. Maka selidikilah dulu sebelum membuat pernyataan yang menyakitkan seperti itu. Coba bayangkan kalau si pembuat soal ini hanyalah orang biasa yang memang kebagian harus mengcreate soal baru yang sesuai dengan perkembangan Indonesia saat ini. Lalu dinyatakan bersalah gara-gara ide “sialannya” itu, kasihan sekali beliau. Bisa jadi, ketika dia memunculkan nama Jokowi yang pada beberapa waktu lalupun sudah menjadi buah bibir masyarakat Indonesia, yang terbayang di kepalanya adalah Jokowi itu tokoh. Lalu apakah itu salah ? Saya pikir tidak. Jokowi itu tokoh. Kalau yang ditulis nama saya kan tidak lucu. Belum ngetop. Beda lagi kalau yang dimunculkan adalah Soekarno, misalnya. Beliau juga tokoh. Tak ada yang salah. Kalau misalnya nama Soekarnopun ada, maka orang-orang tetap akan bicara dan mengaitkan pada masalah politik dan pencitraan terkait pemilihan umum belakangan ini. Jadi,  inti masalah adalah bukan pada siapa yang dimunculkan di soal, namun, ternyata pemunculan nama-nama terkait pemilu itulah yang lalu tidak pas karena dianggap bisa diinterpretasikan macam-macam. Tergantung cara pandang orang dan bagaimana dia memandang masalah tersebut.

Sebenarnya, memilih nama orang untuk dicantumkan ke dalam soal yang kita buat itu tidak ada aturan tertulisnya. Suka-suka guru saja. Saya belum pernah menemukan buku atau aturan manapun yang melarang penggunaan nama-nama orang dalam soal ujian. Maka, dengan maksud agar soalnya bisa diterima baik oleh siswa, saya dan banyak guru di Indonesia ini juga menggunakan berbagai nama orang. Kadang menuliskan nama artis Korea (gambar di bawah dicuplik langsung dari fbnya Mba Lea), artis Indonesian Idol, nama guru-guru satu sekolahan, nama siswa satu sekolahan dan sebagainya. Saya sendiri sering mempopulerkan nama anak-anak saya di soal-soal siswa.

Sesuaikan juga dengan konteks soal. Kalau soalnya tentang jual beli, agak tidak etis juga menuliskan nama pahlawan nasional. Misalnya : Teuku Cik Di Tiro membeli bakso di kantin. Pastilah nama yang diambil adalah nama-nama yang lebih ringan, misalnya Agus Prakoso (ketua kelas X A) membeli bakso di kantin.

Nah, tidak salah juga ketika si pembuat soal menuliskan tentang tokoh dan bagaimana tokoh itu menginspirasi dan bagaimana ingin menyamakan persepsi tentang inspirasi tersebut. Mungkin pada saat itu yang terpikirkan olehnya adalah Jokowi.

 

soal un

 

Soal UN 2014 Diakui Lebih Sulit

 

tweet un

Kok Pak Nuh ga bilang-bilang sebelumnya bahwa soal-soal Ujian Nasional itu juga untuk mengukur kemampuan standar internasional Pa? Pantesan saja, anak-anak “menjerit”… karena merasa soal-soalnya diciptakan untuk menghancurkan masa depannya.

Hampir semua guru bidang study yang diUNkan di sekolah saya juga mengakui tingkat kesulitan soal UN 2014 ini memang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, banyak prediksi model soal yang keluar sama sekali tidak sama dengan soal yang muncul. Ketika anak-anak mengeluh dengan tingkat yang sama, artinya yang terjadi di Bimbelpun kkurang lebih sama. Tidak mempersiapkan soal yang lebih sulit semodel yang tahun ini.

Pak Teuku Ramli Zakaria, dosen saya di UHAMKA, yang juga anggota BSNP mengatakan bahwa tahun depan bisa jadi tingkat kesulitan soal UN akan lebih sulit lagi karena adanya wacana menjadikan nilai UN sebagai salah satu komponen sebagai tes masuk PTN.

Kembali ke UN, saya jadi agak heran. UN itu kan ujian yang mengukur bagaimana pelaksanaan pembelajaran dan sekaligus kualitas pendidikan selama di SMA, jadi sifatnya evaluatif dan dia merupakan tes sumatif, yang mengukur keberhasilan pencapaian target pembelajaran selama SMA. Artinya, materi yang dikeluarkan adalah materi yang harus sama dengan yang dipelajari. Sedangkan kalau kita perhatikan soal sekelas SNMPTN, adalah soal yang dia kadang tidak dipelajari di sekolah. Jadi, bukan untuk evaluasi, namun untuk seleksi.

 

 

 

Pesan tak Sampai

 

Saya tertegun lagi mendengar pertanyaan Bu Sari, “kok bisa sih ibu, anaknya banyak, masih bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah, tugas sekolah, dan masih sempat menulis ?”.

Sebenarnya, buat saya itu bukan pertanyaan. Selintas itu hanya semacam kekaguman Bu Sari saja dengan aktivitas saya yang sedang banyak. Dalam hati saya juga tidak membenarkan itu seratus persen. Banyak tugas dan pekerjaan saya yang masih terbengkalai, dan belum sempat saya kerjakan. Pertanyaan Bu Sari juga sebenarnya ditanyakan oleh banyak orang, tapi tetap saja, bukan jawaban yang sebenarnya yang saya ingin sampaikan.

Selama ini saya menjawab bahwa semua aktivitas yang kita lakukan ya tergantung kita. Kalau kita mau menggunakannya lebih baik, membagi waktu lebih baik, maka kita bisa. Tetap saja, orang tidak bergeming. Semua tetap diam dengan aktifitas mereka seperti biasa, tanpa ada tanda-tanda mereka mengubah apa yang sebaiknya mereka ubah. Kekaguman hanya sebuah kekaguman yang tanpa makna karena sama sekali tidak turut memberikan motivasi untuk berubah. Saya mulai frustasi.

Saya ingin menyampaikan pesan. Tapi pesan itu tidak sampai. Saya tetap merasa sendiri.

Akhirnya saya jawab begini:

Saya adalah seorang ibu. Saya punya anak, di mana anak saya nanti akan melihat seperti apa ibunya, bagaimana ibunya bekerja, bagaimana ibunya menghargai pekerjaaannya, bagaimana ibunya menghargai proses pekerjaannya, bagaimana ibunya menggapai mimpi, bagaimana ibunya mencari prestasi, bagaimana ibunya tetap harus kuliah lagi walapun sudah tua, bagaimana ibunya terus menulis walaupun waktunya sempit, bagaimana ibunya terus membaca walau sambil mencuci baju, bagaimana ibunya dilihat orang, bagaimana dan bagaimana.

Saya adalah seorang guru. Saya punya dan akan punya lagi ribuan murid, yang mereka akan bertanya, seperti apa gurunya, siapakah mereka? apakah mereka menghargai waktu ? apakah mereka orang yang pantas mengajar ? apakah mereka orang yang pantas mendidik ? apakah mereka orang yang bisa membagi waktu ? apakah mereka orang yang berprestasi ? apakah mereka orang biasa-biasa saja ? apakah guru saya masih punya semangat belajar ? mengapa guru saya kuliah lagi ? mengapa guru saya menulis ? mengapa guru saya membaca ? mengapa guru saya ngerumpi mulu ? mengapa guru saya tidak melakukan apa-apa? dan seterusnya.

Jawaban itulah yang sedang saya persiapkan untuk mereka. Ayo bergabung, saya butuh teman.

Ngawas UN

 

Dua hari sudah saya mengawas UN, dan hari ini hari terakhir siswa SMA mengikuti Ujian Nasional. Secara umum, hampir semua anak di sekolah saya “teriak”, bahwa soalnya selama dua hari ini “susah-susah”. “Lebih sulit dari UN tahun lalu, dan Ujian Sekolah”, kata mereka. Saya sendiri belum tahu bagaimana penampakan susah mudahnya soal Ekonomi karena ujiannya sendiri akan berlangsung hari ini di jam kedua.

Mengenai soal yang ada “Jokowinya”, sayapun belum tahu dan tidak pernah melihatnya karena tidak ada soal tersisa di kelas. Jadi, tidak bisa sambil lihat-lihat, apalagi mengganggu soal milik siswa. Namun, dari status teman-teman di fb dan berita di radio, soal yang ada Jokowinya itu ada. Memang bisa jadi tidak sama kasusnya pada setiap soal siswa peserta Ujian Nasional, karena setiap mereka memiliki kode dan barcode yang berbeda yang memungkinkan soalpun bisa saja ber”nama” beda. Barangkali, satu bernama Jokowi, satunya Prabowo, satunya lagi Rhoma Irama.

Jokowi dalam soal

Seperti biasa dalam pelaksanaan UN, siswa terlihat agak gundah dengan segala bentuk penampakan paket soal, terutama dari kualitas cetakan LJK (Lembar Jawaban Komputer) yang kadang-kadang tidak bersih. Seorang siswa bersikukuh tidak mau menggunakan soal yang diberikan kepadanya karena ada noda tinta di bagian bawahnya. “Kalau tidak terbaca, bagaimana ? “. Baiklah… ayo-ayo diganti. Kebetulan ada satu anak di ruang tersebut yang sakit, jadi bisa ditukar. “Yang lain tidak bisa ditukar ya, karena soalnya tidak ada lagi,” kata saya.

LJK yang sempat ditolak siswa karena titik-titik noda

“Tetaplah jaga LJK kalian agar tetap rapi dan bersih, jangan sampai sobek, karena mengganti LJK berarti mengulang soal yang baru,” begitulah kira-kira saya mengingatkan mereka. Tidak semua siswa memang memperlakukan LJK dengan baik. Kadang mereka menyimpannya di bawah kertas soal yang mereka corat-coret, sehingga dikhawatirkan menimbulkan jejak tulisan. Ada juga siswa yang selalu sibuk meniup-niup LJK setelah selesai menghapus.

Memang, dilihat dari warna dan tebalnya kertas UN dan LJK tahun ini, sepertinya dapat dikatakan lebih baik daripada tahun kemarin yang lebih tipis dan lebih bisa dibilang seperti kertas buram atau kertas koran. Tahun ini jenis kertasnya lebih tebal. LJK yang lebih tebal berpengaruh pada keamanan siswa merobek/memisahkannya dari paket soal mereka masing-masing. Tahun lalu siswa sampai berkeringat karena ketakutan LJK ikut sobek saking tipisnya. Saking seperti kualitas kertas daur ulang juga, tahun kemarin siswa agak khawatir mengganti jawaban mereka. “Kalau menghapus, takut bolong”, katanya.

Lalu, ada lagi berita pagi kemarin. Kepala sekolah tempat saya mengawas memberikan instruksi agar semua Amplop Lembar Jawaban Komputer diberi nomor ruangan. Saya agak curiga pada diri sendiri, jangan-jangan saya lupa menuliskan nomor ruangan. Ternyata, setelah diselidiki, memang terdapat kesalahan cetak pada amplop LJK siswa, di mana di sana tertera Ruang Ujian Nasional (dan seharusnya pengawas menuliskan nomor ruangan), tapi sudah tercetak waktu. Sehingga, seorang panitia bilang bahwa tak satupun amplop tertulis nomor ruangannya.

salah cetak pada amplop LJK

Alhamdulillah juga, tak ada tanda-tanda contekan massal di tempat saya mengawas, dan semuanya berjalan sesuai rencana, termasuk melem dan melakban sampul LJK di dalam ruangan.

 

Amplop LJK dilak langsung di ruangan

 

Selamat UN

 

Para pengajar ujian standardisasi rupanya beranggapan bahwa semua orang bisa dididik hanya dengan “menyeragamkan pendidikan, mengajar semua siswa dengan cara yang sama”, dan memberi mereka ujian yang sama (Gardner, 1983, h. 181).

 

2014-04-10 08.02.29

Jumat pekan ini adalah pertemuan terakhir dengan siswa kelas XII IPS di kelas Ekonomi Akuntansi karena Senin esok, 14 April 2014 mereka harus berjuang mengikuti Ujian Nasional.

Selamat berjuang ya kelas XII. Semoga Sukses. UN hanyalah sebuah pintu untuk bisa menghabiskan masa-masa SMA kalian menuju dunia yang lebih luas. Untuk membuka pintunya kuncinya cuma satu, belajar saja. Ndak perlu ke dukun, karena soal-soal UN itu terprediksi dan pasti sudah dipelajari. Jangan lupa berdoa, karena ada kekuatan lain selain kemampuan diri dan semangat kita.

Ganbattee !!!

 

 

By Siti Mugi Rahayu Posted in Di Kelas