Selamat Datang

Enjoy your blog walking…

This slideshow requires JavaScript.

#cabutserver

cabut server

Pak Agung datang. Diam. “Bu Dini datang tidak, Pak?”, saya bertanya tentang istrinya yang juga mengajar di sini. Pekan ini memang kami sibuk sekali menginput nilai. Biasalah, penilaian kurtilas kan super heboh. Bu Dini sedang cuti melahirkan, namun karena terkait nilai-nilai dalam pelajarannya maka beliau harus juga menginput nilai. Pasalnya, si baby Abid nya rewel, ga mau mau mimih susu botol. Jadi, Bu Dini agak susah hati untuk meninggalkan si baby. Beberapa hari yang lalu ketika Bu Dini ke sekolah, Abid rewel tidak kepalang, lapar barangkali. Jadi, kemarin dia ke sekolah untuk input nilai.

Kemarin adalah jadwal rapat nilai guru-guru. Bu Dini bersibuk ria menginput nilai satu per satu. Sebagai orang yang sering melakukan input nilai, saya bisa membayangkan dalam keadaan seperti ini pusingnya ga ketulungan. Tiba-tiba si komputernya ga respon dan data tidak tersimpan. Ternyata, servernya dicabut oleh penanggung jawabnya. Inilah sepertinya yang membuat Pak Agung sekarang berdiam diri. Marah. Kecewa.

Memang, kemarin juga terjadi keributan yang kurang lebih sama, dan dialami oleh guru-guru yang baru saja pulang homestay. Di sela-sela lelah yang masih menggayut, mereka tekun menginput nilai tiba-tiba server dicabut.

Peristiwa pencabutan server ini menurut saya memang lebay. Kalau perlu untuk memperingatinya kita buat hastag tersendiri #cabutserver. Pesan dari kami sekantor, kalau mau cabut server bilang-bilang ya pak, jadi kami ga senewen.

Bertanyalah pada Guru

a21

Saya sedang mengetik di rumah ketika seorang bapak orang tua dari siswa saya menelepon.
Bapaknya Lisna : “Lisna ada di mana ya Bu? Kok jam segini belum pulang ?”.
Saya melirik jam dinding, pukul 15.45.
Saya : “Hari ini kan libur Pa, dan Lisna tidak datang ke sekolah,”
Bapaknya Lisna : “Oh.. libur ya, Bu? Maaf saya tidak tahu. Tadi kata ibunya tanya aja Lisna ada di mana ke Bu Mugi.”
Saya : “Nanti saya tanya ke teman-temannya lewat grup Line ya Pak. Mungkin dia sedang mengerjakan tugas sekolah yang belum selesai”.
Bapaknya Lisna : ” Oh baik Ibu. Mohon maaf merepotkan”.

Hmmm.. beginilah tugas guru yang dua puluh empat jam ya. Saya yang sudah sampai rumah dan mengerjakan pekerjaan rumahpun masih harus mencari tahu di mana si murid berada. Saya akhirnya me-line Lisna dan beberapa temannya karena Lisna no respon banget. Tahulah akhirnya bahwa Lisna ada di rumah Sumi dan mereka sedang mengerjakan tugas kelompok.

Kejadian dengan Lisna memang bukan sekali ini. Pernah suatu ketika jam 8 malam si Bapak Lisna telepon karena Lisna belum pulang. Tanya sana sini ternyata Lisnanya sedang ikut bedah kampus ke Depok dan pulang kena macet. Hadeeuh, saya ga tau dan si Bapak Lisna juga tidak tahu. Tapi nanya ke guru memang tepat ya, karena dengan cepat informasi terkumpul, maklumlah gurunya gaul. Uhuy, bangga. Coba gurunya katrok, ga punya Line, ga punya facebook, ga punya twitter, ga punya instagram, ga punya blog, ga punya email, dan sebagainya. So, bertanyalah pada guru :)

Yuk Berdoa…

IMG_0823

RUMPIAN berhentinya Kurtilas belum usai, lagi-lagi Pak Anies Baswedan mengeluarkan isu baru terkait tata cara berdoa yang akan diatur dengan tata tertib tersendiri. Agak mikir… kenapa sih harus direpotkan oleh seorang menteri ? Apakah selama ini telah terjadi suatu kejadian khusus gara-gara tata cara berdoa ini ? atau ada bisikan-bisikan tertentu untuk sang mentri ?

Doa itu personal, artinya itu menyangkut si pendoa dengan Yang Maha Kuasa yang dimintai permohonan. Tata caranya yang sesuai dengan keyakinan si pendoa. Doa di awal dilakukan dengan tujuan apapun pekerjaan kita, selalu menghadirkan “sosok” tuhan di dalamnya. Agar kita selamat, agar selalu terjaga dari pekerjaan yang tidak baik, agar sehat sepanjang hari, agar ujian bisa dikerjakan, dan apapun tujuan doa yang tidak harus dipaksakan. Bebas aja.

Buat saya, doa itu sangat penting. Ketidakkuasaan kita sebagai hamba yang secuil ini, kita benar-benar butuh Dia. Diajaklah siswa berdoa oleh saya, agar merekapun terbiasa memasrahkan segala hasil perjuangan dan selalu bergantung pada Dia. Dengan menghadirkanNya, diharapkan semua pekerjaan yang dilakukan siswa adalah pekerjaan baik dan Dia juga melindungi siswa. Perihal tata cara, semua orang punya tata cara sendiri dan adabnya sudah diatur oleh agama.

Alhamdulillahnya saya mengajar di sekolah Islam. Aturan dan tata caranya sesuai agama yang kami anut. Terus, harus berdoa dengan cara lain ? Plis deh. Kalaulah pergi ke negeri dengan mayoritas agama tertentu pastilah dengan tata cara dan agama tersebut. Minjem istilah Gus Dur, gitu aja kok repot. Dalam praktiknya, orang bedoa dengan caranya masing-masing sesuai dengan keyakinannya. Bukan ga penting ya, tapi aneh aja masalah seperti ini kok diributkan menteri. Yang salah itu yang tidak berdoa sepertinya, Pak.

Tugas Prakarya : Air Terjun dari Botol Plastik Bekas

Perhatikan gambar berikut :

Amati gambar tersebut lalu buatlah sebuah air terjun mainan yang kalian modifikasi dari gambar tersebut. Pergunakan metode ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi ) dengan menjadikannya air terjun yang menarik, menyenangkan, keren, wow, dan berfungsi !

Selamat berkarya :)

How to Focus

Judul yang sama yang saya ambil dari hasil blogwalking pagi ini. Bagaimana sih agar kita tetap on dan fokus ?

Banyak cara dilakukan orang lain. Menurut saya, focus is personal. Pribadi banget alias bisa saja berbeda pada setiap orang. Di kantor saya yang agak padat isinya, kadang-kadang obrolan menjadi sangat berisik disertai dengan komentar-komentar yang saling bersahutan, sementara saya masih ingin bekerja, membaca, mengetik, mengoreksi jawaban siswa, dan sebagainya ..apa yang harus saya lakukan ? Saya hidupkan musik slow dan ambil headset. Saya dengarkan saja musiknya pelan-pelan dan tetap beraktifitas. Kalau tidak, maka saya akan larut dalam obrolan yang sama dan meninggalkan pekerjaan saya.

Pagi hari setibanya di kantor, sebaiknya segera langsung berwudhu dan shalat dhuha. Sertakan Dia pada awal pagi hingga hari berakhir agar pekerjaan kita jadi ibadah. Segera rapikan meja kerja setelahnya. Pilah mana pekerjaan yang akan dikerjakan pada hari tersebut. Susun yang rapi. Berikutnya, pisahkan tumpukan file yang sudah dikerjakan dengan yang belum pada hari itu sehingga akan terlihat berapa persen pekerjaan yang dapat dikerjakan pada hari tersebut.

Meja yang agak padat memang kadang-kadang membuat ilfill atau demotivasi, sudah terbayang pekerjaan yang menumpuk, padahal bisa jadi pekerjaan itu adalah pr dari hari ke hari yang belum selesai. Sebaiknya, siapkan persiapan mengajar sebelum hari H mengajar agar semuanya terkondisikan dengan baik. Fotokopi LKS, persiapkan media dan sebagainya jauh-jauh hari agar RPP yang sudah dibuat dapat dilaksanakan dengan baik.

Guru adalah profesi yang super sibuk karena pekerjaannya begitu padat. Kalau tidak mengajar, harus mengoreksi soal ulangan, membuat bank soal, melakukan analisa soal, membuat bahan ajar, dan sebagainya. Pasti semua guru yang melakukannya merasa jadi guru itu sangat sibuk. Jadi guru adalah sesuatu banget. Berbeda jika guru tidak melakukan apapun selain mengajar. Silahkan rasakan sendiri bedanya.

Untuk meringankan ingatan kita yang semakin menurun, jangan lupa membuat agenda mengajar dan tentu saja mengisinya setiap kita mengajar. Sesuaikan dengan kegiatan pembelajaran yang kita lakukan di kelas. Buat refleksi RPP setiap hari, dan jangan lupa isi daftar hadir siswa.

Siapkan air putih untuk mengurangi penguapan dan menghindarkan dari ketidakkonsentrasian akibat dehidrasi. Cemilan jangan terlalu banyak, karena selain membuat kita selalu melirik makanan-makanan tersebut juga menghilangkan sekian menit waktu yang seharusnya kita pakai untuk bekerja. Kalau tidak terlalu lapar, usahakan lupakan cemilan.

Handphone sebaiknya disenyapkan karena sekali membuka handphone, maka tidak sedikit waktu yang akan kita pakai sekaligus untuk melakukan sesuatu yang lain. Jangan lupa, never see korean movie karena efek ketagihannya akan membuat lupa pada koreksian siswa :)

Mengubah Sudut Pandang

2014-08-18 14.05.36

Sekolah masih mendesain siswa memperoleh nilai tinggi saja ?

Stephen R. Covey dalam bukunya Leader in Me, menuliskan pengalaman guru-guru yang mengajarkan tentang kepemimipan. Mereka mengungkapkan penyesalannya ketika menyadari bahwa fokus yang terlalu besar ada pada upaya menaikkan angka ujian dan hal ini membuat para siswa tidak mempelajari beberapa keterampilan paling dasar yang dibutuhkan untuk hidup sehari-hari. Bahkan, fokus pada nilai telah membuat guru gagal meyakinkan siswa untuk mencintai pengetahuan dan kehidupan.

Hal kecil yang saya pelajari dari Dias, seorang siswa kelas 1 SD yang ketika masuk SD sama sekali belum dapat dikatakan bisa membaca dengan baik. Bahkan, dia sering keliru antara huruf N dengan M atau D dan P, adalah ternyata dia begitu menyenangi proses belajar, terutama membaca.
Dias sering minta diantar ke toko buku dan memilih sendiri buku bacaan yang dia senangi. Dia baca semua buku yang dia beli malam itu juga. Besoknya dia minta ke toko buku lagi.

Pulang sekolah, yang pertama kali dilakukan adalah membaca-baca kembali buku-bukunya. Dia tidak mengeluh walaupun sampai malam harus ditemani sang ibu untuk membaca ulang bukunya kalau ada ulangan esok hari. Intinya, semangat belajar Dias terus hidup, semangat membacanya terus menggebu. Dibandingkan dengan teman-temannya yang sudah pandai membaca sedari TK mula tapi tidak punya semangat belajar dan membaca lagi. Dias buat saya adalah luar biasa.

Ternyata, dulu ketika TK, guru-gurunya sempat cemas. Jangan-jangan Dias adalah anak yang tidak akan bisa menyesuaikan diri dengan teman-temannya yang sudah pintar membaca. Untungnya orang tuanya tidak peduli pencapaian. “Yang penting, anak saya menyenangi proses belajar. Dengan begitu dia akan menghargai setiap apapun yang dia peroleh. Saya tidak bisa memaksakan dia harus bisa membaca sementara dia memang belum bisa. Saya tidak terlalu peduli dia dapat nilai berapa. Disekolahkan sudah, diajarkan sudah. Ya sudah. Kita tunggu saja hasilnya”. Bukan pasrah, saya yakin ini merupakan sebuah kesadaran bahwa semua yang hanya mengandalkan nilai tidak akan selalu berhasil.

Ibu Devinda berbeda lagi kisahnya. “Saya ingin sesekali memamerkan nilai rapor anak saya sama eyang dan saudara-saudara sepupunya. Jangan rangkingnya paling akhir mulu..”. Setiap mengambil rapor Devi, harapannya selalu begitu. Kecewa, Bu ? Si ibu mengangguk. “Bagaimana kalau kita ubah kekecewaan menjadi kebanggaan? Devi adalah anak yang pintar menulis. Tulisannya mengalir bagaikan cerita sungguhan. Dia mampu mengekspresikan kata demi kata menjadi hidup. Dia seorang penulis, yang belum tentu bisa dilakukan oleh anak-anak yang lain”. Si Ibu tersenyum, mungkin ingat sesuatu. Sekarang Devi sekolah di bagian jurnalistik sebuah universitas di Jakarta.

Selamat Hari Guru to You and Me

1416875644252

Senangnya diberi ucapan Selamat Hari Guru. Gantian ya, berhubung saya tidak akan menjadi guru tanpa campur tangan para guru-guru saya, maka dengan ini saya doakan beliau-beliau, semoga Allah memberikan pahala yang banyak, berlipat-lipat, sehingga hanya pahala yang menumpuk dibanding semua kekhilafan.
Allah yang Mahaguru, pasti mencintai guru-guru yang memanjangkan ilmu dan didikan kasih sayangnya kepada siswanya.

Selamat Hari Guru

Goodbye

Kenangan apa di balik lagu ini ?

Kalau saya…#agaknerawang… saya ingat waktu itu 1993 sedang mengikuti SNMPTN kedua di Kampus Pakuan Kota Bogor. Kok ingetnya itu ya ? Entahlah, saya menghafal syairnya sekaligus tata cara pembuatan kalimat di materi Bahasa Inggris. Saya ingat benar ada satu soal di ujian SNMPTN tersebut yang cara ngisinya sesuai dengan syair lagu tersebut. Dari situ saya jadi yakin untuk belajar bahasa Inggris via lagu-lagu. Jadi seru dan santai.

Saya juga ingat Almarhum Teh Eha yang pada waktu itu sedang pulang ke Indonesia (saat itu kuliah di Aussie), dan kita nyanyi bareng-bareng deh di ruang keluarga.

Aih. Setiap lagu punya arti juga ya ?

Menjadikan Lingkungan sebagai Sumber Belajar

Lingkungan adalah sumber pembelajaran yang paling mudah ditemui dan dijadikan contoh. Dia faktual dan memungkinkan siswa untuk lebih memahami materi yang sedang diajarkan.

Banyak fakta yang bisa disajikan walaupun itu terasa pahit. Kok pahit ? ya… secara… kita memang tidak bisa memaksa lingkungan akan menjadi sesuatu yang sangat baik dan selalu dijadikan contoh yang juga baik bagi siswa. Terkadang, guru juga bisa menyampaikan contoh kejadian-kejadian yang tidak baik sebagai contoh yang tidak boleh ditiru. Namun, bagaimana jika contoh jelek ini begitu mengkhawatirkan, .. kadang-kadang kita juga ikut gelisah, bagaimana kalau siswa mengikuti contoh yang tidak patut ditiru tersebut ?

Look… pada saat mengajar tentang pajak dan APBN, siswa bertanya ,”bagaimana dengan pajak yang digelapkan ?”, “Jangan-jangan uang pajak kita tidak disetor ke kas negara ?”, “untuk apa bayar pajak?”, begitu seterusnya.
Hal yang sama juga mungkin terjadi di pelajaran PKN ketika ternyata wakil-wakil rakyat berkelahi saat rapat. Ada juga yang tidur. Belakangan, ada DPR tandingan. Secara teoritik hal-hal ini mungkin tidak dipelajari di dalam buku pelajaran mereka, namun dalam praktik ini terjadi.

Itu adalah fakta yang terjadi di negeri ini dan mudah sekali didapati untuk dijadikan contoh atau terpaksa dijadikan contoh karena ada siswa yang bertanya. Baiknya, guru tidak boleh ketinggalan informasi pendukung agar bisa menjawab semua rasa penasaran siswa. Banyak membaca dan sekali-sekali jadikanlah berita-berita tersebut sebagai sumber belajar akan memberikan wawasan dan menggelitik rasa keingintahuan siswa lebih dalam.

:)

Ketika Siswa Anda terlalu Gemuk

Anda memiliki putri yang kelebihan berat badan alias gemuk ? Hati-hati membicarakan hal ini dengannya. Gemuk adalah efek dari kelebihan berat badan, dan biasanya terjadi lebih banyak pada remaja putri usia hingga 17 tahun, usia-usia SMP hingga SMA. Remaja putri memang biasanya lebih matang secara fisik dibandingkan laki-laki karena tubuh mereka lebih awal mengalami pubersitas dibandingkan anak laki-laki. Pada umumnya, anak perempuan mengalami pubersitas pada usia 10 dan 11 tahun, dua tahun lebih awal dibandingkan anak laki-laki.

Puber lebih awal dan lebih besar dari teman-teman yang lain di kelas, adalah “sesuatu banget”. Jika guru dan orang tua menganggap hal ini sesuatu yang sangat mengganggu dan membuat Anda ingin membicarakannya dengan anak Anda, tentu saja harus pembicaraan yang ringan dan tidak dalam bentuk membanding-bandingkan dengan anak perempuan seusianya yang lebih langsing atau memiliki bentuk tubuh dan berat yang ideal.

Rika (15), murid saya beberapa tahun lalu sangat stress dengan berat badan yang menurut dia “sangat banyak”. Hard diet akhirnya dia lakukan. “Tuntutan banyak pihak”, begitulah dia mengelak ketika terlihat begitu lemas karena berusaha tidak makan apapun di jam makan siang hingga esok paginya. Dia juga menderita sakit magh karena tidak jelasnya pola diet yang dia lakukan. Untunglah hal ini tidak berlangsung lama setelah dia mau menerima saran dan beberapa pandangan tentang pubersitas dan dampaknya pada tubuh. Masih untung dia tidak menderita bulimia seperti Lady Di. Early maturation is associated with emotional difficulties such as depression, anxiety and eating disorders (Steinberg, 2005).

Hal berbeda dilakukan Melissa, Tina, dan kawan-kawannya yang mengatur pola makan mereka bersama-sama. Pada saat istirahat pagi, mereka memakan buah-buahan dan sayur, begitupun sore hari. Ternyata diet bareng ini salah satu taktik agar diet lebih mudah dan terkontrol. Menurut Melissa, “mama mendukung program ini, bahkan menyiapkan semua perbekalan dietnya setiap hari”.

Secara wajar, biasanya remaja putri akan lebih bisa memanage berat badannya, pola makannya, atau melakukan beberapa hal untuk menjaga hal tersebut ketika mereka mulai memasuki bangku kuliah.
Jadi, begitulah anak-anak tumbuh dan dewasa. Jangan lupa, yang juga penting adalah menjaga akhlaknya agar selalu solihah :)