Selamat Datang

Enjoy your blog walking…

This slideshow requires JavaScript.

Pelajaran dari “Bagi Raport”

Pembagian raport siswa merupakan pengalaman tersendiri buat saya. Selain menambah wawasan tentang “pendidikan yang diinginkan ” orang tua dan siswa, saya juga sering kali belajar “mendidik anak” dari orang tua-orang tua super yang saya temui ini.

Hari ini ada keluhan, tentang nilai anak-anak di mata pelajaran matematika yang tertera seputaran 17, 24, 28. Nilai apaan tuh ? Apa yang salah ?
Siswa kelas XI IPA juga mengeluhkan tentang guru yang terlalu banyak memberikan tugas. “Kami harus mengerjakan 50 soal matematika”, kata mereka. Walhasil, sampai jam 12 malam anak-anak masih terjaga demi megerjakan soal-soal tersebut yang tak jua terselesaikan, padahal esok pagi mereka harus tetap sekolah.

#merenung

Beginilah BPJS Kelas Rakyat Jelata

bpjs

Untuk ke sekian kalinya saya berobat dengan jasa BPJS. Hmmm .. hmmm… hmmm.. sesuatu banget. Nggemesin. Diberilah saya rujukan untuk cek lab. “Ibu tunggu saja di ruang tunggu, nanti saya panggil ya, Bu”, demikian perawat memberi petunjuk. Baiklah. Selang berapa lama, saya dipanggilnya. Rupanya, cek lab yang diminta dokter terlalu banyak untuk BPJS. “Ini kebanyakan, Bu. Jadi untuk memperingan ibu, cek labnya saya bagi tiga kali. Selang tiga hari tiga hari”. Walhasil, kemarin saya cek lab, Senin esok saya cek lab, tiga hari kemudian cek lab kembali. Itupun ternyata masih harus bayar karena BPJS hanya mengcover seharga Rp. 66.000an kalo ga salah. Kemarin bayar tambahan 18an ribu, cek lab terakhir nanti bayar 78ribuan. Weleh. Bisa cancel ga siih ? Ga bisa, karena begitulah sistemnya. “Kalo ga mau ribet emang mendingan ke RS swasta aja sekalian dari awal,” kata seorang teman. Tapi, apa gunanya BPJS kalo kita punya dan ga pernah dipake ? Apalagi kita membayarnya setiap bulan.

Kemarin ibu mertua saya dirawat dengan BPJS kelas dua, sehari kami menebus obat seharga kurang lebih 300ribuan. Gile. Mahal bingits kan? Kata dokternya memang banyak obat yang sekarang tuh tidak dicover BPJS. Di sebuah resep bahkan ada satu jenis obat yang tidak diberikan. Dokternya juga geleng-geleng kepala. Obat yang justru penting tapi tidak diberikan. Apakah obat itu tidak dicover BPJS juga ? Ga tau deeeh.

Sumpeh, saya bingung dengan cara kerja BPJS.

gambar dari http://health.liputan6.com/read/2082745/kurangnya-rs-swasta-yang-gabung-bpjs-berimbas-pada-antrean-pasien

By Siti Mugi Rahayu Posted in Popular

Bulir-Bulir Merica Palsu

2014-03-29 20.31.16

Gambar di atas adalah gambar merica yang saya ambil beberapa waktu lalu ketika saya menemukan bahwa merica yang saya beli ternyata palsu ! Kok bisa ya merica palsu ? Itulah pertanyaan saya waktu itu. Merica yang segede uprit itu harus dipalsukan ? Rajin bener bulet-buletinnya. Hebat orang-orang ini cari penghasilan. Berbagai cara dilakukannya.

Pasalnya, harga merica sebagai bumbu dapur dan obat ini memang bukan tergolong murah. Saya bahkan membeli yang palsu dengan harga merica asli. Saya telah tertipu. Mungkin, karena tergiur keuntungan yang besar jika berhasil memasarkan yang palsu, maka terciptalah merica bo’ongan alias aspal ini.

Bentuknya memang samar antara yang palsu dengan yang asli karena sudah dicampur menjadi satu. Ketika saya coba pisahkan, yang asli hanya ada kurang lebih seperempatnya. Awalnya tentu saja saya tidak menduga itu palsu. Kejanggalan ini diketahui ketika merica tersebut diulek. Lah kok bentuknya aneh dan hasilnya seperti tepung ? Mungkin dia dibuat dari tepung terigu atau kanji. Merica palsu ini lebih halus permukaannya dan lebih putih dibandingkan merica asli.

Selidik punya selidik, baca punya baca, ternyata di Dusun Kenongo (Jawa Tengah mungkin ya), terdapat sebuah desa yang warganya memiliki mata pencaharian sebagai pembuat dan pengepul merica palsu ini. Parrah ! Silahkan baca info lengkapnya di sini.

Pertanyaan untuk kelas X : Analisislah tautan berita di bagian akhir tulisan ini dan tulislah deskripsi ekonomi yang tampak, ekonomi terapannya, dan termasuk bahasan ekonomi mikro atau makro peristiwa tersebut. Jangan lupa memberikan penjelasan atas jawabanmu !

Terjebak Teknologi

 

Saya masih menyelesaikan membaca bukunya Salman Khan, The One World Schoolhouse, Pendidikan Kelas Dunia untuk Siapapun dan di manapun. Di beberapa bagian, buku ini benar-benar menggambarkan pendidikan kita secara keseluruhan, di bagian lain, buku ini menggerak-gerakkan imajinasi saya tentang pendidikan dunia lain yang rupanya begitu dahsyat mengalami perubahan.

Bicara tentang perubahan, mengapa guru harus berubah ? Faktanya, banyak guru-guru mengajarkan dengan metode yang hebat beberapa dekade yang lalu, namun metode tersebut ternyata tidak selalu menjadi baik jika dipakai mengajar pada masa kini. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor yang paling tidak bisa diabaikan adalah tekhnologi.

Khan, mengembangkan Khan Academy dengan teknologi. Awal berdirinya, tempat bimbel Khan ini didirikan akibat ingin menjawab tantangan ketika sepupunya dinyatakan tidak mampu mengerjakan matematika padahal dia adalah anak yang cerdas. Ternyata kesalahan konsep menjadi momok dalam pendidikan secara umum. Hmm,… jadi teringat kasus perkalian 4×6 dan 6×4 beberapa waktu lalu.

Lalu, teknologi yang berkembang betapa pesatnya masihkah bisa diabaikan oleh dunia pendidikan di Indonesia ? Khan mengembangkan You Tube sebagai media penyampaian pesan dan sudah digunakan untuk belajar oleh jutaan orang tua dan siswa di seluruh dunia. Beberapa sekolah besar yang bisa mengakses internet dengan mudah mungkin bisa menggunakan You Tube dan sejenisnya dengan leluasa. Namun, bagaimana dengan pendidikan di pelosok yang boro-boro pakai internet ? listrik saja belum masuk desa. Ngomong-ngomong, konon salah satu alasan TIK ditiadakan di kurikulum 2013 adalah ketidakmerataan infrastruktur di negeri kita. Artinya, K13 ini tetap tidak akan berjalan dengan baik kalau TIK dimasukkan ke dalam kurikulum dan di pelosok-pelosok tersebut tidak menjalankan kurikulum tersebut.

Masalah lain adalah ternyata kemunduran justru terjadi juga di dunia pendidikan yang memang menyediakan akses internet namun tidak menggunakan internet untuk pembelajaran. Dalam sebuah konferensi internasional yang suatu ketika saya ikuti, semua negara yang menyampaikan kisah kesuksesan pendidikannya menggunakan internet sebagai alat yang membantu pendidikan berjalan lebih cepat di abad 21 ini. Kebalikannya, banyak guru Indonesia yang menyampaikan bahwa di sekolahnya justru internet dimatikan. Tidak ada pembelajaran dengan google, jejaring sosial FB, Twitter, apalagi You Tube. Semuanya terlarang. Mirisnya, anak-anak malah sembunyi membuat video asusila di kelas-kelasnya sendiri, mengunuhnya, dan menyebarluaskannya. Rasa ingin tahu mereka disalurkan dengan jalan yang salah. Tidak banyak guru yang memikirkan bagaimana teknologi yang ada di tangan siswa bisa dimanfaatkan dengan baik. Separuh dari itu tetap beranggapan pembelajaran yang terbaik adalah seperti pembelajaran yang pernah diterimanya puluhan tahun yang lalu dari bapak ibu guru terbaik mereka.

Saya lanjutkan membaca Salman Khan….

Membaca Menyeluruh, Mengurangi Penguapan Informasi

di huluna kuda, di hilir jadi kuya…(peribahasa Sunda)

Bagaimana caranya membaca yang efektif ? Resep ini saya peroleh dari Prof. Annah Suhaenah Suparno dalam kuliah Psikologi Pendidikan. Di awal pertemuan, Prof. Annah memberikan game pesan berantai dengan berbagai settingan. Ada kelompok yang mendapatkan kertas pesan bertuliskan spidol berwarna hitam dan ada juga yang merah. Rupanya, penerimaan pesan dengan perantaraan warna spidolpun sangat mempengaruhi bagaimana sebuah pesan dapat diterima oleh penerima pesan. Kertas putih dengan spidol hitam yang kontras akan memberikan kesan dalam dan lebih enak diterima oleh mata. Dengan demikian, pesanpun akan lebih mudah diterima dibandingkan pesan yang tertulis dalam kertas putih dengan spidol berwarna merah. Warnanya tidak kontras dan terkesan kabur, sehingga pesan akan sulit dipahami dan terima orang lain.

Ketika permainan selesai, setiap anggota kelompok yang paling akhir harus menuliskan pesan tersebut. Sudah terduga, dengan melalui beberapa orang yang menjadi peserta pesan berantai, pesan terakhir yang tertangkap sangat beragam hasilnya. Dan tidak ada yang benar. Inilah yang disebut dengan penguapan informasi. Salah satu penyebabnya adalah bagaimana cara kita membaca. Membaca yang baik akan membantu otak untuk membuat persepsi yang benar, dan membaca yang baik haruslah menyeluruh. Membaca menyeluruh akan lebih mudah diingat dibandingkan dengan membaca separuh-separuh. Rupanya, dalam psikologi juga ada rumus : Keseluruhan lebih dari jumlah bagian. Membaca secara menyeluruh akan menimbulkan pemaknaan yang lebih baik. Coba perhatikan gambar berikut :

ab1

gambar di atas adalah gambar bagian-bagian terpisah yang memiliki makna tidak lebih baik dari gambar berikut :

ab2

Gambar bawah adalah gambar wajah yang tentu saja memiliki arti lebih baik dibandingkan dengan gambar pertama. Ini menunjukkan bahwa penglihatan perbagian tidak akan lebih baik dibandingkan dengan melihat secara keseluruhan. Jika semua bagian digabungkan, maka hasilnya menjadi lebih bermakna. Nah, jika kita melihat sesuatu dengan lebih bermakna maka informasi yang diterima dan disampaikan kembalipun akan lebih utuh tersampaikan.

Rindu Hujan

2014-01-08 08.51.44

2014-01-08 08.51.57

Rindu romantisnya suasana sehabis hujan. Dinginnya segar. Tanaman juga berseri damai.
#Efek air mulai sulit didapat.

Kapan hujan ?

Konsisten itu Keren !

 

Sore hari Pak Kepsek bilang, “Soal Ujian jangan banyak yang mudah”. Padahal dulu bilangnya, “Buat soal jangan terlalu sulit, biar nilai anak-anak tidak jatuh”. Wualah…. mana yang bener sih cuy ? Soal udeh jadi nich ):

Semua Perjuangan Pasti Berbuah Manis

teacher-note-difference

Tahun pelajaran ini saya dapat jadwal mengajar 31 jam. Itu banyak, cuy! Hanya beberapa jam sehari yang bisa dipakai untuk melakukan banyak hal. Merevisi RPP, membuat soal, analisis ulangan harian, mengoreksi pekerjaan siswa, dan sebagainya. Kuliah pula. Bayangkan kalau jadwalnya tetap hari Kamis, Jumat, Sabtu.

Saya tidak sedang mengeluh, tapi rada sedih aja karena belum sempat baca banyak buku yang baru dibeli dan banyak kata yang belum sempat tertuang dalam tulisan. Blog mungkin akan sedikit terlupakan. PTK dan Lesson Study disimpan dulu. Buku impian juga ikut tertunda. Semester ini mungkin harus membuat proposal dan dilanjutkan dengan tesis. Ayoo tetap semangat meraih mimpi. Mungkin harus satu-satu. Walaupun lelah… perjuangan harus terus berlanjut, karena insya Allah buahnya pasti manis :)

gambar dari http://dearteacherloveteacher.com/2014/09/16/what-you-are-today/

Jadwal Ribet

jadwal kuliah

Dapet jadwal kuliah hari efektif itu sesuatu banget. Lelah letih.. padahal belum mulai. Bingung minta ijinnya, Tuhaaan #agakteriak. Setiap hari bisa nyampe rumah jam 10 malem nich. Besoknya ngajar lagih. Capek deh. Belum lagi proposal lagi indah-indahnya harus dibuat.

Mudah-mudahan ada jalan keluar :)

Bapak Menggagalkan Surprise

Selalu saja ada cerita yang membuat saya tertawa geli. Hari ini saya ulang tahun. Sampai mau berangkat sekolah, Zaidan si sulung belum juga say something gitu mengucapkan selamat ultah. Bapaknyalah yang komen… kalau saya sih santai saja, pasti dia sedang menyiapkan sesuatu, begitu pikir saya.

“Aa, kok kamu belum mengucapkan selamat ultah sih ke ibu ?”, dengan suara yang tidak berbisik-bisik si Bapak bertanya lantang. Iihh, si Bapak, saya langsung menatapnya hendak protes. Tahu-tahu, anaknya yang langsung menjawab dengan agak esmosi. “Bapak gimana sih, kenapa harus nanya gitu ke aku ? Aku kan mau ngasih surprise sama Ibu”. Hahaha… saya tertawa segeli-gelinya. Begini nih, kalau Bapak sama anak tidak kompromi dulu kalau mau ngasih surprise. Gagal deh surprisenya.

Secara, memang anak-anak kadang memiliki kreatifitas dan rencana yang tidak terbayangkan oleh orang tuanya. Saya melihat itu dari obrolan-obrolan anak- anak di rumah dan di sekolah. Kadang, sebuah kesalahan menurut orang dewasa, ternyata itu bukan kesalahan, melainkan sebuah rencana dan kreatifitas mereka saja. .

By Siti Mugi Rahayu Posted in Popular