Selamat Datang

Enjoy your blog walking…

This slideshow requires JavaScript.

Mengubah Sudut Pandang

2014-08-18 14.05.36

Sekolah masih mendesain siswa memperoleh nilai tinggi saja ?

Stephen R. Covey dalam bukunya Leader in Me, menuliskan pengalaman guru-guru yang mengajarkan tentang kepemimipan. Mereka mengungkapkan penyesalannya ketika menyadari bahwa fokus yang terlalu besar ada pada upaya menaikkan angka ujian dan hal ini membuat para siswa tidak mempelajari beberapa keterampilan paling dasar yang dibutuhkan untuk hidup sehari-hari. Bahkan, fokus pada nilai telah membuat guru gagal meyakinkan siswa untuk mencintai pengetahuan dan kehidupan.

Hal kecil yang saya pelajari dari Dias, seorang siswa kelas 1 SD yang ketika masuk SD sama sekali belum dapat dikatakan bisa membaca dengan baik. Bahkan, dia sering keliru antara huruf N dengan M atau D dan P, adalah ternyata dia begitu menyenangi proses belajar, terutama membaca.
Dias sering minta diantar ke toko buku dan memilih sendiri buku bacaan yang dia senangi. Dia baca semua buku yang dia beli malam itu juga. Besoknya dia minta ke toko buku lagi.

Pulang sekolah, yang pertama kali dilakukan adalah membaca-baca kembali buku-bukunya. Dia tidak mengeluh walaupun sampai malam harus ditemani sang ibu untuk membaca ulang bukunya kalau ada ulangan esok hari. Intinya, semangat belajar Dias terus hidup, semangat membacanya terus menggebu. Dibandingkan dengan teman-temannya yang sudah pandai membaca sedari TK mula tapi tidak punya semangat belajar dan membaca lagi. Dias buat saya adalah luar biasa.

Ternyata, dulu ketika TK, guru-gurunya sempat cemas. Jangan-jangan Dias adalah anak yang tidak akan bisa menyesuaikan diri dengan teman-temannya yang sudah pintar membaca. Untungnya orang tuanya tidak peduli pencapaian. “Yang penting, anak saya menyenangi proses belajar. Dengan begitu dia akan menghargai setiap apapun yang dia peroleh. Saya tidak bisa memaksakan dia harus bisa membaca sementara dia memang belum bisa. Saya tidak terlalu peduli dia dapat nilai berapa. Disekolahkan sudah, diajarkan sudah. Ya sudah. Kita tunggu saja hasilnya”. Bukan pasrah, saya yakin ini merupakan sebuah kesadaran bahwa semua yang hanya mengandalkan nilai tidak akan selalu berhasil.

Ibu Devinda berbeda lagi kisahnya. “Saya ingin sesekali memamerkan nilai rapor anak saya sama eyang dan saudara-saudara sepupunya. Jangan rangkingnya paling akhir mulu..”. Setiap mengambil rapor Devi, harapannya selalu begitu. Kecewa, Bu ? Si ibu mengangguk. “Bagaimana kalau kita ubah kekecewaan menjadi kebanggaan? Devi adalah anak yang pintar menulis. Tulisannya mengalir bagaikan cerita sungguhan. Dia mampu mengekspresikan kata demi kata menjadi hidup. Dia seorang penulis, yang belum tentu bisa dilakukan oleh anak-anak yang lain”. Si Ibu tersenyum, mungkin ingat sesuatu. Sekarang Devi sekolah di bagian jurnalistik sebuah universitas di Jakarta.

Selamat Hari Guru to You and Me

1416875644252

Senangnya diberi ucapan Selamat Hari Guru. Gantian ya, berhubung saya tidak akan menjadi guru tanpa campur tangan para guru-guru saya, maka dengan ini saya doakan beliau-beliau, semoga Allah memberikan pahala yang banyak, berlipat-lipat, sehingga hanya pahala yang menumpuk dibanding semua kekhilafan.
Allah yang Mahaguru, pasti mencintai guru-guru yang memanjangkan ilmu dan didikan kasih sayangnya kepada siswanya.

Selamat Hari Guru

Goodbye

Kenangan apa di balik lagu ini ?

Kalau saya…#agaknerawang… saya ingat waktu itu 1993 sedang mengikuti SNMPTN kedua di Kampus Pakuan Kota Bogor. Kok ingetnya itu ya ? Entahlah, saya menghafal syairnya sekaligus tata cara pembuatan kalimat di materi Bahasa Inggris. Saya ingat benar ada satu soal di ujian SNMPTN tersebut yang cara ngisinya sesuai dengan syair lagu tersebut. Dari situ saya jadi yakin untuk belajar bahasa Inggris via lagu-lagu. Jadi seru dan santai.

Saya juga ingat Almarhum Teh Eha yang pada waktu itu sedang pulang ke Indonesia (saat itu kuliah di Aussie), dan kita nyanyi bareng-bareng deh di ruang keluarga.

Aih. Setiap lagu punya arti juga ya ?

Menjadikan Lingkungan sebagai Sumber Belajar

Lingkungan adalah sumber pembelajaran yang paling mudah ditemui dan dijadikan contoh. Dia faktual dan memungkinkan siswa untuk lebih memahami materi yang sedang diajarkan.

Banyak fakta yang bisa disajikan walaupun itu terasa pahit. Kok pahit ? ya… secara… kita memang tidak bisa memaksa lingkungan akan menjadi sesuatu yang sangat baik dan selalu dijadikan contoh yang juga baik bagi siswa. Terkadang, guru juga bisa menyampaikan contoh kejadian-kejadian yang tidak baik sebagai contoh yang tidak boleh ditiru. Namun, bagaimana jika contoh jelek ini begitu mengkhawatirkan, .. kadang-kadang kita juga ikut gelisah, bagaimana kalau siswa mengikuti contoh yang tidak patut ditiru tersebut ?

Look… pada saat mengajar tentang pajak dan APBN, siswa bertanya ,”bagaimana dengan pajak yang digelapkan ?”, “Jangan-jangan uang pajak kita tidak disetor ke kas negara ?”, “untuk apa bayar pajak?”, begitu seterusnya.
Hal yang sama juga mungkin terjadi di pelajaran PKN ketika ternyata wakil-wakil rakyat berkelahi saat rapat. Ada juga yang tidur. Belakangan, ada DPR tandingan. Secara teoritik hal-hal ini mungkin tidak dipelajari di dalam buku pelajaran mereka, namun dalam praktik ini terjadi.

Itu adalah fakta yang terjadi di negeri ini dan mudah sekali didapati untuk dijadikan contoh atau terpaksa dijadikan contoh karena ada siswa yang bertanya. Baiknya, guru tidak boleh ketinggalan informasi pendukung agar bisa menjawab semua rasa penasaran siswa. Banyak membaca dan sekali-sekali jadikanlah berita-berita tersebut sebagai sumber belajar akan memberikan wawasan dan menggelitik rasa keingintahuan siswa lebih dalam.

:)

Ketika Siswa Anda terlalu Gemuk

Anda memiliki putri yang kelebihan berat badan alias gemuk ? Hati-hati membicarakan hal ini dengannya. Gemuk adalah efek dari kelebihan berat badan, dan biasanya terjadi lebih banyak pada remaja putri usia hingga 17 tahun, usia-usia SMP hingga SMA. Remaja putri memang biasanya lebih matang secara fisik dibandingkan laki-laki karena tubuh mereka lebih awal mengalami pubersitas dibandingkan anak laki-laki. Pada umumnya, anak perempuan mengalami pubersitas pada usia 10 dan 11 tahun, dua tahun lebih awal dibandingkan anak laki-laki.

Puber lebih awal dan lebih besar dari teman-teman yang lain di kelas, adalah “sesuatu banget”. Jika guru dan orang tua menganggap hal ini sesuatu yang sangat mengganggu dan membuat Anda ingin membicarakannya dengan anak Anda, tentu saja harus pembicaraan yang ringan dan tidak dalam bentuk membanding-bandingkan dengan anak perempuan seusianya yang lebih langsing atau memiliki bentuk tubuh dan berat yang ideal.

Rika (15), murid saya beberapa tahun lalu sangat stress dengan berat badan yang menurut dia “sangat banyak”. Hard diet akhirnya dia lakukan. “Tuntutan banyak pihak”, begitulah dia mengelak ketika terlihat begitu lemas karena berusaha tidak makan apapun di jam makan siang hingga esok paginya. Dia juga menderita sakit magh karena tidak jelasnya pola diet yang dia lakukan. Untunglah hal ini tidak berlangsung lama setelah dia mau menerima saran dan beberapa pandangan tentang pubersitas dan dampaknya pada tubuh. Masih untung dia tidak menderita bulimia seperti Lady Di. Early maturation is associated with emotional difficulties such as depression, anxiety and eating disorders (Steinberg, 2005).

Hal berbeda dilakukan Melissa, Tina, dan kawan-kawannya yang mengatur pola makan mereka bersama-sama. Pada saat istirahat pagi, mereka memakan buah-buahan dan sayur, begitupun sore hari. Ternyata diet bareng ini salah satu taktik agar diet lebih mudah dan terkontrol. Menurut Melissa, “mama mendukung program ini, bahkan menyiapkan semua perbekalan dietnya setiap hari”.

Secara wajar, biasanya remaja putri akan lebih bisa memanage berat badannya, pola makannya, atau melakukan beberapa hal untuk menjaga hal tersebut ketika mereka mulai memasuki bangku kuliah.
Jadi, begitulah anak-anak tumbuh dan dewasa. Jangan lupa, yang juga penting adalah menjaga akhlaknya agar selalu solihah :)

Met Ultah ya, Oeang ….

Hari ini saya masih mengikuti pelatihan kurtilas di Bandung, sehingga agak tidak memiliki waktu banyak untuk membuka internet. Oalah.. setelah membukanya, ternyata hari ini hari Oeang. Sebagai guru ekonomi, tentu saja saya menganggap hari ini adalah hari bersejarah buat perekonomian karena tanpa uang apalah artinya kita ini. #versilebay. Met ultah ya, Oeang…

Uang di masa depan memang bisa diramalkan keberadaannya. Entah masih ada atau tidak, yang pasti perannya mulai banyak digantikan dengan uang plastik. Sudah sering kita temui transaksi yang sekarang tidak disarankan menggunakan uang. Ingatlah trans Jakarta yang dalam berita terakhirnya sudah mulai menghilangkan pembelian tiket dengan uang di beberapa halte. SPP anak-anak kita juga sudah mulai harus dibayar via bank langsung. Bisa juga transfer. Di kantin, siswa sudah harus melakukan belanja dengan kupon. Tapi tentu saja itu semua diawali dengan keberadaan uang terlebih dahulu. Tanpa memilikinya, kita tidak bisa melakukan transaksi-transaksi tunai semacam itu.

Selamat Ultah ya, Oeang Indonesia.

Pelajaran dari “Bagi Raport”

Pembagian raport siswa merupakan pengalaman tersendiri buat saya. Selain menambah wawasan tentang “pendidikan yang diinginkan ” orang tua dan siswa, saya juga sering kali belajar “mendidik anak” dari orang tua-orang tua super yang saya temui ini.

Hari ini ada keluhan, tentang nilai anak-anak di mata pelajaran matematika yang tertera seputaran 17, 24, 28. Nilai apaan tuh ? Apa yang salah ?
Siswa kelas XI IPA juga mengeluhkan tentang guru yang terlalu banyak memberikan tugas. “Kami harus mengerjakan 50 soal matematika”, kata mereka. Walhasil, sampai jam 12 malam anak-anak masih terjaga demi megerjakan soal-soal tersebut yang tak jua terselesaikan, padahal esok pagi mereka harus tetap sekolah.

#merenung

Beginilah BPJS Kelas Rakyat Jelata

bpjs

Untuk ke sekian kalinya saya berobat dengan jasa BPJS. Hmmm .. hmmm… hmmm.. sesuatu banget. Nggemesin. Diberilah saya rujukan untuk cek lab. “Ibu tunggu saja di ruang tunggu, nanti saya panggil ya, Bu”, demikian perawat memberi petunjuk. Baiklah. Selang berapa lama, saya dipanggilnya. Rupanya, cek lab yang diminta dokter terlalu banyak untuk BPJS. “Ini kebanyakan, Bu. Jadi untuk memperingan ibu, cek labnya saya bagi tiga kali. Selang tiga hari tiga hari”. Walhasil, kemarin saya cek lab, Senin esok saya cek lab, tiga hari kemudian cek lab kembali. Itupun ternyata masih harus bayar karena BPJS hanya mengcover seharga Rp. 66.000an kalo ga salah. Kemarin bayar tambahan 18an ribu, cek lab terakhir nanti bayar 78ribuan. Weleh. Bisa cancel ga siih ? Ga bisa, karena begitulah sistemnya. “Kalo ga mau ribet emang mendingan ke RS swasta aja sekalian dari awal,” kata seorang teman. Tapi, apa gunanya BPJS kalo kita punya dan ga pernah dipake ? Apalagi kita membayarnya setiap bulan.

Kemarin ibu mertua saya dirawat dengan BPJS kelas dua, sehari kami menebus obat seharga kurang lebih 300ribuan. Gile. Mahal bingits kan? Kata dokternya memang banyak obat yang sekarang tuh tidak dicover BPJS. Di sebuah resep bahkan ada satu jenis obat yang tidak diberikan. Dokternya juga geleng-geleng kepala. Obat yang justru penting tapi tidak diberikan. Apakah obat itu tidak dicover BPJS juga ? Ga tau deeeh.

Sumpeh, saya bingung dengan cara kerja BPJS.

gambar dari http://health.liputan6.com/read/2082745/kurangnya-rs-swasta-yang-gabung-bpjs-berimbas-pada-antrean-pasien

By Siti Mugi Rahayu Posted in Popular

Bulir-Bulir Merica Palsu

2014-03-29 20.31.16

Gambar di atas adalah gambar merica yang saya ambil beberapa waktu lalu ketika saya menemukan bahwa merica yang saya beli ternyata palsu ! Kok bisa ya merica palsu ? Itulah pertanyaan saya waktu itu. Merica yang segede uprit itu harus dipalsukan ? Rajin bener bulet-buletinnya. Hebat orang-orang ini cari penghasilan. Berbagai cara dilakukannya.

Pasalnya, harga merica sebagai bumbu dapur dan obat ini memang bukan tergolong murah. Saya bahkan membeli yang palsu dengan harga merica asli. Saya telah tertipu. Mungkin, karena tergiur keuntungan yang besar jika berhasil memasarkan yang palsu, maka terciptalah merica bo’ongan alias aspal ini.

Bentuknya memang samar antara yang palsu dengan yang asli karena sudah dicampur menjadi satu. Ketika saya coba pisahkan, yang asli hanya ada kurang lebih seperempatnya. Awalnya tentu saja saya tidak menduga itu palsu. Kejanggalan ini diketahui ketika merica tersebut diulek. Lah kok bentuknya aneh dan hasilnya seperti tepung ? Mungkin dia dibuat dari tepung terigu atau kanji. Merica palsu ini lebih halus permukaannya dan lebih putih dibandingkan merica asli.

Selidik punya selidik, baca punya baca, ternyata di Dusun Kenongo (Jawa Tengah mungkin ya), terdapat sebuah desa yang warganya memiliki mata pencaharian sebagai pembuat dan pengepul merica palsu ini. Parrah ! Silahkan baca info lengkapnya di sini.

Pertanyaan untuk kelas X : Analisislah tautan berita di bagian akhir tulisan ini dan tulislah deskripsi ekonomi yang tampak, ekonomi terapannya, dan termasuk bahasan ekonomi mikro atau makro peristiwa tersebut. Jangan lupa memberikan penjelasan atas jawabanmu !

Terjebak Teknologi

 

Saya masih menyelesaikan membaca bukunya Salman Khan, The One World Schoolhouse, Pendidikan Kelas Dunia untuk Siapapun dan di manapun. Di beberapa bagian, buku ini benar-benar menggambarkan pendidikan kita secara keseluruhan, di bagian lain, buku ini menggerak-gerakkan imajinasi saya tentang pendidikan dunia lain yang rupanya begitu dahsyat mengalami perubahan.

Bicara tentang perubahan, mengapa guru harus berubah ? Faktanya, banyak guru-guru mengajarkan dengan metode yang hebat beberapa dekade yang lalu, namun metode tersebut ternyata tidak selalu menjadi baik jika dipakai mengajar pada masa kini. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor yang paling tidak bisa diabaikan adalah tekhnologi.

Khan, mengembangkan Khan Academy dengan teknologi. Awal berdirinya, tempat bimbel Khan ini didirikan akibat ingin menjawab tantangan ketika sepupunya dinyatakan tidak mampu mengerjakan matematika padahal dia adalah anak yang cerdas. Ternyata kesalahan konsep menjadi momok dalam pendidikan secara umum. Hmm,… jadi teringat kasus perkalian 4×6 dan 6×4 beberapa waktu lalu.

Lalu, teknologi yang berkembang betapa pesatnya masihkah bisa diabaikan oleh dunia pendidikan di Indonesia ? Khan mengembangkan You Tube sebagai media penyampaian pesan dan sudah digunakan untuk belajar oleh jutaan orang tua dan siswa di seluruh dunia. Beberapa sekolah besar yang bisa mengakses internet dengan mudah mungkin bisa menggunakan You Tube dan sejenisnya dengan leluasa. Namun, bagaimana dengan pendidikan di pelosok yang boro-boro pakai internet ? listrik saja belum masuk desa. Ngomong-ngomong, konon salah satu alasan TIK ditiadakan di kurikulum 2013 adalah ketidakmerataan infrastruktur di negeri kita. Artinya, K13 ini tetap tidak akan berjalan dengan baik kalau TIK dimasukkan ke dalam kurikulum dan di pelosok-pelosok tersebut tidak menjalankan kurikulum tersebut.

Masalah lain adalah ternyata kemunduran justru terjadi juga di dunia pendidikan yang memang menyediakan akses internet namun tidak menggunakan internet untuk pembelajaran. Dalam sebuah konferensi internasional yang suatu ketika saya ikuti, semua negara yang menyampaikan kisah kesuksesan pendidikannya menggunakan internet sebagai alat yang membantu pendidikan berjalan lebih cepat di abad 21 ini. Kebalikannya, banyak guru Indonesia yang menyampaikan bahwa di sekolahnya justru internet dimatikan. Tidak ada pembelajaran dengan google, jejaring sosial FB, Twitter, apalagi You Tube. Semuanya terlarang. Mirisnya, anak-anak malah sembunyi membuat video asusila di kelas-kelasnya sendiri, mengunuhnya, dan menyebarluaskannya. Rasa ingin tahu mereka disalurkan dengan jalan yang salah. Tidak banyak guru yang memikirkan bagaimana teknologi yang ada di tangan siswa bisa dimanfaatkan dengan baik. Separuh dari itu tetap beranggapan pembelajaran yang terbaik adalah seperti pembelajaran yang pernah diterimanya puluhan tahun yang lalu dari bapak ibu guru terbaik mereka.

Saya lanjutkan membaca Salman Khan….